
...Dirangkul oleh luka, Dikuatkan oleh Rasa, Dan tertawa pura-pura. Sepertinya sangat sempurna....
...🍁...
Pagi hari telah tiba. Loka telah siap dengan segala keperluannya Sudah dengan wajah yang lebih segar dari sebelumnya.
Asmara dengan telaten menyiapkan semua keperluan suaminya. Termasuk tidak lupa semalam Asmara mencharge Loka dengan pelayanan prima.
Cukup Puas Loka mendapatkan service yang begitu memuaskan dari Istrinya, hingga kegiatan malam tadi membuat Loka selalu ingin mengulangi.
Namun tidak mungkin Loka terus mengurung Asmara dalam sangkarnya, sementara dia sendiri juga harus kembali pada rutinitasnya.
Beruntung hari ini merupakan hari libur nasional, sehingga Asmara tidak perlu untuk meminta izin telat karena masih harus mengurusi Loka.
Loka masih bergelayut manja pada Asmara yang kini sibuk menyiapkan beberapa vitamin dan obat-obatan emergency kid, tidak lupa Asmara bawakan madu untuk suaminya.
Entah sudah berapa lama Loka memeluk tubuh Asmara, seolah tidak rela untuk meninggalkan Istrinya. Jika bukan merupakan pegawai pemerintahan mungkin saja Loka akan membawa Asmara turut bersama nya.
Rasanya hati Loka tidak bisa, jika harus berpisah lama-lama dengan istri barunya.
Nahas Asmara tidak hanya terikat pada Loka, namun nyatanya Asmara juga terikat pada tugas negara dan segala polemik di tempat dia kerja.
Hingga mbok Jum tanpa sengaja Melihat kemesraan keduanya. Loka baru saja melepaskan tangannya dari tubuh ramping Asmara
"Mbok Jum" panggil Asmara
"E em maaf buk Saya---"
"Nggak papa mbok, Ada apa mbok Jum?"
Sadar jika tidak mungkin mbok Jum merasa tidak enak hati pada suaminya.
Namun Asmara juga tahu jika mbok Jum tidak mungkin mencarinya jika memang tidak ada hal penting yang ingin di sampaikan oleh asisten rumah tangganya.
"Em. Maaf buk, Diluar--"
Mbok Jum menjeda ucapanya, sedikit ragu untuk mengatakan pada Asmara, dan Loka jelas dapat melihat perubahan wajah dari Asisten rumah tangganya.
"Diluar ada apa mbok ?. Pasien ?"
Mbok Jum menggelengkan kepala sebagai jawaban atas tebakan Asmara.
"Itu Buk "
"Pak Bima ada di luar"
Pelan Mbok Jum sampaikan kedatangan tamu dari majikannya. Terlihat perbedaan di wajah asisten pribadi Asmara, dan itu juga semakin meyakinkan Loka dan Asmara jika memang diluar sana ada sosok yang tidak ingin Asmara jumpai.
Masih dengan rasa tidak percaya, Asmara menautkan kedua alisnya.
"Baru saja datang Buk, dan sepertinya hanya sendiri saja"
Mbok Jum kembali meyakinkan Asmara jika itu memang benar adanya.
"Baiklah Mbok, Mbok boleh kembali, nanti saya sama Asma akan menemuinya" Ucap Loka pada akhirnya.
Dengan anggukan kepala mbok Jum meninggalkan dua orang majikannya.
__ADS_1
"Kamu jangan takut, ada aku"
Loka paham bagaimana pikiran Asmara, dia pun meyakinkan jika tidak akan ada apa-apa.
Asmara terlihat mengulas senyum di bibirnya, sungguh lega hatinya mendapati Loka memberikan semangat pada dirinya.
Meski tidak begitu ingin kembali berurusan dengan Bima, namun tidak mungkin dia mengabaikan kedatangan mantan suaminya begitu saja, terlebih dia datang dari kota yang sungguh jauh jaraknya.
Keduanya lantas keluar bersama. Benar saja, di teras depan rumah Asmara telah berdiri seorang laki-laki yang jelas keduanya sangat mengenal siapa dia.
'Mas Bima' Batin Asmara
Namun pemandangan lain Asmara tangkap dari sosok mantan suaminya, Bima terlihat begitu Akrab bersama senja, Bahkan saat ini senja berada diatas pangkuan Bima dengan memainkan boneka kesayangan Senja yang merupakan pemberian Loka beberapa bulan yang lalu.
Sungguh aneh namun ini nyata, setelah sekian purnama, Bima melakukan hal itu pada Senja, Lantas selama ini kemana saja ?.
Sosok hangat yang selalu putrinya damba, meski mungkin saja Bima tidak mengharapkan Senja.
Tidak ingin bergelut dengan pikirannya, Asmara ditemani Loka langsung saja keluar dan menemui tamu nya.
Entah mengapa melihat sekelebat wajah Bima, ada sesuatu yang tidak mengenakan di hati Asmara.
Namun dia tetap harus menyambut tamunya, jauh-jauh Bima datang menemuinya.
Loka kembali meyakinkan hati Asmara , tatkala wanitanya itu kembali menghentikan langkahnya karena ragu apakah dia yakin akan menemui Bima, sementara tempo hari saat pertemuan keduanya, mereka masih saja bersitegang.
Langkah kaki terakhir Asmara membawa dia tepat berdiri di samping Bima.
Masih dengan posisi berdiri, Asmara menyapa.
"Mas Bima. Sudah lama ?"
Bima lantas tersenyum pada Asmara, tidak lupa masih ada Senja di pangkuan nya.
Kali ini wajah Bima seketika menjadi pucat pasi, melihat di belakang Asmara berdiri sosok tegap Loka Wiratmaja.
Loka pun sama halnya , meski bukan terkejut atas kedatangan Bima, Namun agaknya Loka sedikit penasaran dengan maksud datangnya mantan suami dari istri barunya.
Asmara lantas duduk berseberangan dengan Loka, dimana berada tepat di hadapan Bima.
"Ayah.. Senja Sayang ayah" Celoteh Senja yang masih dalam pangkuan Bima.
Deg.
Cukup menohok di hati Loka, namun itulah kenyataan yang tidak bisa di patahkan jika Senja memang merupakan anak kandung Bima.
Kasih sayang yang selama ini Senja tidak pernah dapatkan dari sosok ayah kandungnya.
Sejujurnya Asmara pun ikut bahagia hingga air matanya seolah akan tumpah begitu saja, melihat bagaimana bahagianya Senja bersama Ayah kandungnya.
"Sekalanggg... Enja punya dua ayahh, Ayah Bima sama Ayah Loka"
Bergemuruh hati Bima mendengar ucapan putrinya. 'Apa maksud Senja dari dua ayah yang baru saja keluar dari mulutnya' , begitu batin Bima yang belum mendapat jawaban dari kebingungannya.
Namun Bima hanya dapat mengulas senyum pasi di wajah tampannya.
"Ayah. Dua. ??. Ayah Senja kan cuma Ayah Bima Sayang"
__ADS_1
Bima tampak meyakinkan putrinya, bahwa apa yang dia pikirkan tidak lah benar adanya.
"Tidak mas !. Seperti Mas Bima yang telah menikah dengan Mbak Diana"
"Begitu juga Asma, Saat ini sudah Sah menjadi istri Mas Loka !"
"Dan Tidak hanya mas Bima. Tapi Mas Loka juga, saat ini menjadi Ayah kedua bagi Senja"
Tegas, lugas, dan jelas Asmara sampaikan kejujuran dari hubungan baru yang baru saja dia bangun bersama seorang Loka Wiratmaja.
Bagai di sambar petir di siang bolong , begitu terkejut Bima mendapati Kenyataan yang bahkan tidak pernah muncul di benaknya.
"Ka.. kalian Sudah menikah?" gagap Bima bertanya.
Bima masih tidak percaya dengan ucapan putrinya, hingga dia sendiri ingin tahu kenyataan sebenarnya.
"Benar" ucap Loka.
"Kami memang sudah Menikah, Beberapa hari yang lalu !!"
Tegas Loka sampaikan pada Bima mantan suami Asmara . Hal itu juga di jawab dengan anggukan kepala oleh Asmara, yang semakin meyakinkan hati Bima bahwa Asmara dan Loka memang telah membina rumah tangga.
Namun wajah Bima seketika mendadak bingung, mendapati pikirannya melayang, mengingat tempo hari bukankah Bima membantu Asmara yang tengah dilanda kesedihan karena di tinggalkan oleh Loka' Begitu pikir Bima'.
Tapi kenyataan berkata lain ketika Bima mendapati keduanya justru hidup bersama.
Bahkan saat ini Bima sampai lupa dengan apa tujuan utamanya datang menemui Asmara.
Seolah masih tidak percaya dengan apa yang ada di hadapannya, Bima kembali bertanya.
"Benarkah semua ini Asma?"
Dengan mantap Asmara menganggukkan kepala sebagai jawabannya.
"Kami menikah secara agama. Sudah sejak beberapa hari yang lalu"
Untuk yang ke sekian kalinya Asmara meyakinkan Bima jika memang dia telah benar benar berstatus sah sebagai istri dari Loka Wiratmaja.
Namun ekspresi lain terlihat di wajah Bima, senyum yang entah mengisyaratkan apa, jelas terlihat di wajah mantan suaminya.
"Agama ?. Jadi kamu hanya di jadikan istri siri saja !"
Pertanyaan menohok yang keluar dari mulut mantan suaminya cukup menggores luka lama Asmara. Entah mengapa Asmara tidak begitu menyukai Pertanyaan Bima.
Sejujurnya tidak masalah bagi Asmara meski hanya sah secara agama, namun ucapan Bima seolah menegaskan kembali bagaimana hubungan Asmara dengan keluarga Loka. Dan itu cukup menyakitkan.
"Kami mau menikah dengan cara apa, Saya rasa itu bukan urusan Anda !!." Loka dengan tegas berbicara.
"Dan lagi, jika kedatangan anda untuk Senja, Maka jangan pernah mengurusi kehidupan Asmara. Karena itu tidak akan baik Nantinya !!"
Lirih namun terdengar jelas dan tegas di telinga seorang Bima.
Melihat situasi yang mulai menegang diantara mereka Asmara khawatir jika hal ini tidak akan baik untuk putrinya senja.
"Enja sama ibuk Ya"
Asmara meraih Senja yang ada dalam pangkuan Bima.
__ADS_1
Bergegas membawa putri kecilnya masuk kedalam rumah. Karena tentu Asmara tidak ingin Senja yang belum tahu apa-apa, melihat ketegangan antara orang tua nya, yang jelas belum saat nya untuk dia tahu.
***