
...Semua bisa menemani. Namun tidak Semua bisa Memahami...
...🍁...
Sore hari kembali menyapa, Kertagiri berganti pesonanya dengan senja yang semakin menampakkan pesona nya.
Setelah menyampaikan semua kejujuran pada Asmara, Luna memilih untuk segera kembali ke ibu kota. Mengingat semua urusan nya pun telah selesai.
Bagi Luna semua kenyataan yang telah dia dapatkan sudah sangat cukup memberi alasan untuk dia tidak lagi memaksakan keadaan.
Tidak lupa Luna berpamitan pada Asmara, meski sikap dingin saja yang selalu tampak diwajah Asmara. Namun meski begitu tetap saja Asmara mengantarkan kepergian Luna hingga di ambang pintu rumah nya.
Seorang supir pribadi Bu Sukma telah menjemput Luna untuk kembali ke ibu kota, kini hanya menyisakan Asmara sendiri dengan semua luka-luka di dada.
Gontai langkah Asmara masuk kedalam rumah, namun belum juga dia sempat menutup pintu, Sebuah mobil kembali terparkir di halaman rumah nya.
Hingga pasang mata Asmara mendapati sosok Oma Ima keluar dari mobil bersama Bi asih asisten pribadinya, namun nyatanya tidak hanya mereka saja, ada juga Loka yang menyusul di belakangnya.
Entah sejak kapan Loka bersama Oma , namun yang Asmara ingat memang dia sudah tidak melihat keberadaan Loka sejak sebelumnya Asmara menolak untuk berbicara dengan diri nya.
Melihat kedatangan Oma Ima, Asmara lantas berlari untuk menyambutnya, tidak lupa dia mencium punggung tangan Oma dengan lembut.
Sopan santun dan tutur kata yang baik selalu Asmara perlihatkan untuk wanita tua di hadapannya, meski hati nya tengah sakit menahan luka, rasanya Asmara sendiri tidak ingin Oma Ima mengetahuinya.
Senyum manis terlihat jelas di wajah cantik Asmara, begitu juga Oma yang seketika mengusap lembut wajah Asmara yang terlihat sembab di bagian bawah mata nya.
"Mari Oma" Lembut dan sopan Asmara membatu Oma Ima masuk kedalam rumah nya.
Mungkin saja Oma sudah tahu kondisi rumah tangga nya dengan Loka, namun Asmara tetap berusaha tenang dan tidak menunjukan kesedihan nya.
***
Ruang tamu menjadi tempat ternyaman bagi Asmara untuk menyambut tamu yang datang ke rumah nya.
Sejak kedatanganya, Loka memilih untuk menjemput Senja di rumah pak Basuki. Sementara Asmara kini tengah bersama Oma.
Keduanya terlihat mengobrol bersama, tidak jarang Oma menanyakan sesuatu yang sifatnya pribadi pada cucu menantunya.
Secangkir teh madu menjadi sajian paling nikmat dikala senja mulai menyapa.
"Apa semua Baik-baik saja Asmara?"
Mendengar pertanyaan Oma Ima, tentu membuat Asmara mengingat kembali kejadian sebelumnya.
Jujur ingin rasanya Asmara bercerita, namun senyuman saja yang pada akhirnya mewakili sejuta rasa sang begitu menyesakan dada.
"Mewakili keluarga, Oma sampaikan permohonan maaf Sukma padamu Asma"
Sosok wanita paruh baya di hadapannya kini tengah memohon atas kesalahan putri nya, entah mengapa mendengar nya saja Asmara merasa sedih jadinya.
"Oma, Oma tidak perlu meminta maaf pada Asma"
"Tidak Asma. Sukma dan Adi mungkin telah begitu menyakiti mu, oleh karena itu sudah kewajiban Oma sebagai orang tua akan memperbaiki kesalahan yang ada"
Oma semakin tertunduk dengan ucapanya, terlihat bagaimana sesal di wajahnya begitu mendominasi atas kesalahan yang sejujurnya tidak pernah dia lakukan.
"Oma tahu , kamu wanita yang baik nak"
__ADS_1
Oma kembali berucap dengan kalimat nya yang menenangkan jiwa.
"Oma. Asma sudah memaafkan semuanya bahkan sebelum Oma memintanya. Jadi Asma mohon, Oma jangan seperti ini"
Bergetar suara Asmara menyampaikan hal itu pada Oma Ima. Sesungguhnya sangat tidak etis seorang tua renta seperti Oma Ima meminta maaf pada Asmara.
Apa pun itu bentuk kesalahannya rasanya Asmara sangat tidak enak hati terhadap Oma Ima.
"Oma mohon Asma, Tetaplah bersama Loka, Dia butuh wanita seperti mu"
Asmara terdiam mendengar ucapan Oma Ima, sejujurnya dia juga tidak berencana berpisah dari Loka, namun entah bagaimana kedepannya tentu hanya Tuhan saja yang mengetahuinya.
Setelah cukup berbincang, Oma Ima memutuskan untuk kembali pulang kerumahnya.
"Apa tidak menunggu mas Loka dulu Oma ?"
"Tidak perlu Asma, Hari semakin gelap, sebaiknya Oma langsung pulang saja"
Karena Sejak kepergian Loka yang berencana menjemput Senja, nyatanya Loka belum muncul menampakkan batang hidungnya.
Namun hal itu sudah menjadi kebiasaan Loka, setiap kali ada masalah dia akan menemui pak Basuki sebagai orang tua Asmara. Asmara pun menilai cukup bijak keputusan Loka yang menemui pak Basuki, sementara dirinya bersama Oma.
Setidaknya perbincangan Asmara dengan Oma sedikit banyak mengurangi beban pikiran dan sesak di hati Asmara.
"Baiklah Oma, Asma akan sampaikan pada Mas Loka"
Senyum manis di wajah Oma Ima begitu terasa menenangkan hati Asmara.
"Oma pulang dulu ya, Baik-baik kalian berdua"
Ucap Oma sebelum dia benar-benar meninggalkan Asmara.
***
Dan Loka nyatanya belum kembali bersama Senja. Pikiran buruk mulai menyapa hati Asma, kemana perginya mereka ?. Kenapa sampai selarut ini Loka tidak kunjung membawa pulang putrinya.
Tok tok tok
Ketukan pintu membuat Asmara sadar dari lamunannya.
Bergegas Asmara melihat siapa tamu yang datang kerumah nya.
Setelah melihat dari jendela, nyatanya diluar sana ada sosok Loka yang tengah berdiri menunggu Asmara membukakan pintu untuk nya.
Ceklek.
Tidak salah lagi, Loka berdiri dengan wajah nya yang sudah jauh berbeda dari sebelum ya.
Meski Asmara tidak menampakkan senyum terbaiknya, namun dia tetap menyambut kedatangan Loka dengan sambutan yang sama seperti sebelumnya. Mulai dari mencium punggung tangan Loka serta menyiapkan semua keperluan lainya.
"Dimana Senja ?"
Tanya Asmara pada akhirnya, karena Asmara tidak mendapati Senja pulang bersama Loka, sementara sebelumnya dia bilang akan menjemput putrinya.
"Senja masih ingin menginap di rumah kakek nya"
Asmara tampak menganggukkan kepala, paham dengan ucapan suaminya. Meski dia merasa sangat bersalah pada putrinya , namun mungkin dengan Senja bersama pak Basuki akan membuat keadaan lebih baik.
__ADS_1
Memang anak seusia Senja seharusnya hanya bermain dan bahagia saja, tidak perlu memikirkan bagaimana keadaan orang tuanya.
"Mas sudah makan ?"
Terdengar dingin di telinga Loka, namun dia paham situasi hati Asmara yang mungkin saja memang masih belum pulih sepenuhnya.
Tidak mendapatkan jawaban dari Loka, Asmara memilih berlalu begitu saja.
"Asmara. Maafkan aku"
Langkah kaki yang baru beberapa, terhenti setelah Loka mengatakan hal itu pada nya.
"Aku sudah memaafkan mas Loka"
Cukup lega Loka mendengar jawaban Asmara, meski masih terasa berbeda sikap Asmara pada Loka, namun setidaknya Loka tahu jika Asmara telah memaafkan dirinya.
***
Pagi.
Sinar Surya kembali menyapa. Semalam mungkin jadi malam paling tidak menyenangkan bagi Loka, sebab Asmara bersikap dingin bahkan ketika melayani dirinya.
Malam-malam indah yang selalu membuat suami istri saling menghangatkan , nyatanya terasa dingin karena seolah Asmara setengah hati melayani.
Loka pun sadar dengan bagaimana perasaan Asmara, namun rasa kagum tetap Ada dalam hati Loka untuk istrinya.
Saat marah dan kecewa pun Asmara tetap berusaha melayani Loka termasuk urusan ranjang dan kebutuhan biologis Loka. Dan hal itu yang tidak dia dapatkan dari istri pertama nya.
Asmara begitu menghormati dan menghargai keberadaan Loka di sampingnya. Meski hatinya terluka, namun Asmara tetap mengesampingkan itu semua.
"Asma sudah siapkan semua keperluan mas Loka, Semoga semua berjalan lancar"
Ucap Asmara sembari mengunyah sarapan paginya.
"Terima kasih sayang"
Seutas senyum Asmara berikan pada Sang suami, sebab hari ini merupakan hari dimana Loka akan kembali ke ibukota untuk menemui kedua orang tuanya.
Meski berat namun Asmara bahagia karena tujuan Loka menemui orang tuanya adalah untuk kesembuhan Ayahnya.
"Kau yakin tidak ingin ikut denganku ?"
Kembali Asmara mengulas senyum getir di wajahnya, Entah harus bahagia atau kecewa dengan tawaran Loka yang jelas Asmara sendiri bingung harus bagaimana, namun keputusan sudah Asmara tentukan jika dia tidak akan ikut bersama Loka ke ibukota.
"Tidak perlu mas, Kabarkan saja bagaimana kondisi papa"
Bukan Asmara marah pada Loka, sejujurnya Asmara juga sangat ingin menjenguk ayah mertua nya, namun rasa-rasanya kehadiran Asmara justru akan menambah sulit suasana, dan bisa jadi juga menambah luka di hatinya.
Bagi Asmara, orang tua Loka baik dan sehat saja sudah cukup baginya, karena doa yang utama, dan Asmara tidak akan pernah melupakannya, sekalipun untuk kedua orang tua Loka.
"Baiklah" ucap Loka
Dari nada bicara Loka, Asmara tahu mungkin saja dia kecewa, namun semua juga tahu bagaimana sikap kedua orang tua Loka pada Asmara.
"Kamu baik-baik ya di sini, jangan Lupa selalu hubungi aku" pesan Loka pada Asmara
Asmara pun tersenyum mendengar penuturan dari sang suami, yang juga sejujurnya selalu memperhatikan dirinya meski situasi saat ini sangat sulit untuk keduanya.
__ADS_1
***