
...Menangis Bukan Tanda Sebuah Kelemahan. Tetapi Bukti Bahwa Kita Masih Punya Perasaan...
...🍁...
Bagaikan mawar yang selalu menampakkan pesona indah pada setiap kelopak yang merekah, Namun jangan lupa pula , akan selalu ada duri yang juga selalu mengelilingi.
Sore ini terasa begitu sangat sejuk, se sejuk hati Asmara tatkala melihat suami yang begitu dia cintai.
Pulang.
Sebuah kata yang indah dan sangat menyenangkan. Karena setelah penantian, pada akhirnya Loka dan Asmara kembali bersama-sama.
Asmara bahkan hampir melupakan bapaknya, yang juga sampai saat ini masih berdiri di sampingnya, karena nyatanya pesona Loka begitu jauh sangat menggoda bagi Asmara.
"Assalamualaikum" sapa Loka yang baru saja tiba.
Berdiri tepat di depan Asmara, manik mata Loka menangkap bagaimana Asmara begitu menantikan dirinya.
Tidak ada pelukan atau ciuman mesra, karena diantara keduanya ada pula pak Basuki yang juga menantikan kedatangan Loka.
Hingga untuk sesaat Loka tersihir oleh senyuman Asmara. Namun tidak butuh waktu lama kesadaran Loka kembali sempurna, tatkala Asmara meraih tangannya, dan mencium punggung tangan Loka dengan begitu takzimnya.
Tidak lupa setelah Asmara dan Loka saling menyapa, kini giliran Loka yang juga harus menyapa Bapak angkat dari istrinya.
Sudah pasti, karena sejak tadi memang pak Basuki tidak sedikitpun pergi, justru laki-laki paruh banyak tersebut sangat menantikan Sosok seorang Loka Wiratmaja.
"Bapak " Sapa Loka dengan wajah binar bahagia.
Uluran tangan Loka yang selalu di sambut baik oleh bapak mertuanya kali ini terasa berbeda, tatkala tangan milik Loka hanya mengudara, tanpa sambutan dari Bapak mertuanya.
Deg.
Untuk sesaat tatapan Loka terarah pada manik mata pak Basuki yang terlihat begitu ganas, dan garang, seolah menyimpan belati yang siap melucuti. Dan mungkin baru kali ini Loka melihat bagaimana sisi lain dari Bapak mertuanya.
"Pak !"
Asmara menggoyangkan lengan pak Basuki, karena sedari tadi hanya berdiam diri dan menatap Loka dengan tatapan yang entah mengisyaratkan apa.
Asmara juga sampai merasa heran jadinya, karena tidak biasanya pak Basuki seperti itu. Pak Basuki yang selalu hangat dan ramah kepada siapa saja termasuk menantunya Loka.
Setelah cukup lama, pada akhirnya Pak Basuki menjabat tangan Loka. Sungguh di detik ini terlihat wajah pak Basuki begitu setengah hati.
"Asma Tolong buatkan Bapak Kopi hitam pahit tanpa gula !!"
Tegas pak Basuki memberi instruksi pada Asmara. Ucapan yang jelas tertuju pada putrinya, namun entah mengapa sorot mata pak Basuki tertuju pada Loka.
"Jangan lupa buatkan pula untuk suami mu, Kopi yang sesuai dengan selera nya !!"
Tidak lupa pak Basuki mengingatkan pada Asmara untuk menyiapkan pula kopi untuk Loka.
Meski pak Basuki berbicara pada Asmara, namun nyatanya tatapan matanya masih sama tetap tertuju pada Loka, Tajam dan terasa menusuk hingga ke pikiran dan jiwa seorang Loka Wiratmaja.
'Ada apa ?' gumam Loka dalam hatinya.
"Baik pak, Asmara akan membuatkan Kopi kesukaan bapak dan mas Loka, ditunggu ya"
Begitu jelas terlihat bahagia di wajah Asmara, hingga dia sedikit berlari untuk menuju dapur nya.
Sesaat pak Basuki melihat Asmara, Setelah benar-benar memastikan putrinya tidak ada diantara dirinya dan Loka, pak Basuki pun segera Melayangkan tangannya.
Plakkk ,!!!
Sebuah tamparan melayang dengan begitu keras di pipi kanan Loka.
Plakkk !!!!!
Belum puas, pak Basuki kembali mengulangi di bagian pipi kiri.
Kulit putih dan mulus itu kini telah bercampur gambar tangan seorang Bapak yang merasa kecewa dengan kenyataan yang ada. Menantu yang begitu dia banggakan nyatanya tidak lebih dari seorang Baadjingan.
Sakit hati pak Basuki, mengingat sebuah kenyataan yang baru dia ketahui siang tadi.
Entah dari mana datangnya, namun seketika manik mata pak Basuki tergenang dengan air mata. Sakit terasa menghujam di bagian dada.
Bapak mana yang tidak akan kecewa jika putrinya di perlakukan dengan tidak baik-baik saja.
"Kamu tahu apa kesalahan mu !!!"
Dingin pak Basuki memulai ucapanya, berbicara dengan sangat pelan, berharap jika Asmara tidak akan mendengarnya.
__ADS_1
Sesak di dada pak Basuki sungguh begitu menyayat hati, hingga terlihat dia tertawa dengan derai air mata yang membasahi pipi pria paruh baya di hadapan Loka.
Ironi sungguh pemandangan seperti ini baru pertama kali Loka saksikan, tentu hal itu karena pak Basuki begitu menyayangi Asmara.
"Pak . Maafkan Saya pak !!"
Loka begitu sadar dengan semua kesalahan yang telah dia lakukan, hingga tidak ada kata lain selain kata Maaf.
Tidak hanya pak Basuki nyatanya Loka pun juga sama, sudut mata yang terlihat mulai berembun karena air mata.
Plakkk !!!
Untuk yang kesekian kalinya pak Basuki kembali menghujani menantunya dengan gambar tangganya.
"Bapak tidak butuh kata maaf mu !!"
"Bapak hanya tidak menyangka kamu Setega itu pada Asmara"
"Apa kesalahannya ?."
"Bapak baru sadar, sebuah kesalahan besar telah bapak lakukan"
"Kesalahan karena telah menikahkan Asmara dengan seorang Serigala berbulu domba!!!"
Bergetar suara pak Basuki. Sungguh hatinya terasa begitu sesak membayangkan bagaimana Putrinya akan menerima kenyataan jika Loka telah Beristri dua.
"Gusti. Cobaan apa lagi ini Gusti " Bergetar tubuh pak Basuki yang kini hanya bisa tertunduk dengan rasa bersalahnya.
Bersalah karena tidak mampu menjaga dan membahagiakan Asmara seperti pesan mendiang kedua orang tua nya.
Bagaimana dengan Loka ?. Tentu dia hanya dapat diam dan tertunduk dengan semua kesalahan nya.
Loka pun juga sadar dengan apa yang telah dia lakukan pasti cepat atau lambat akan di ketahui, serapat apapun dia menyimpan rahasia ini.
"Sejak kapan kamu menikahi nya !!!" Ucap pak Basuki dengan nada tinggi. Sungguh di saat ini mungkin pak Basuki sudah tidak lagi dapat menahan diri.
Belum juga Loka sempat menjawab pertanyaan Asmara, bunyi keras telah memecah keheningan diantara keduanya.
Pyarrrrr....
Suara gelas yang bersahutan dengan Lantai usang rumah Asmara. Kopi yang sebelumnya dia buat untuk bapak dan suaminya kini telah terurai dari tempatnya, menyisakan beling yang berserakan kemana-mana.
Tidak hanya pak Basuki yang kaget dengan kedatangan putrinya, namun juga tentu saja Loka yang tidak percaya jika Asmara telah mendengar perbincangan antara pak Basuki dengan dirinya.
"Siapa mas ?. Siapa yang mas Loka nikah selain Asma ?"
Tubuh Asmara bergetar tatkala dia menanyakan hal itu pada suaminya, sungguh sakit sekali rasanya.
"Asma, aku bisa jelaskan semuanya"
Loka yang seketika berlari menghambur pada sang istri. Namun belum sempat Loka ingin memeluk Asmara, Asmara lebih dulu mundur dan menghadang tubuh kekar suaminya.
"Asma . Dengarkan aku"
Tidak hanya Asmara, namun nyatanya juga Loka merasakan begitu sesak di dadanya melihat bagaimana Asmara sangat terluka dengan kenyataan yang baru di ketahui nya.
Asmara Sangat tidak ingin tangan Loka menyentuh tubuhnya. Mungkin jika bisa di gambarkan, dia sudah sangat jijik pada suaminya.
Melihat bagaimana Asmara histeris dengan tangisannya, pak Basuki pun segera mendekat dan membawa Asmara masuk kedalam rumah.
Keduanya duduk di ruang tamu di susul Loka yang juga menghampiri pak Basuki dan Asmara.
"Mbok Jum !!" Panggil pak Basuki dengan teriakannya
"Enjih pak Lurah ?"
"Bawakan Air putih. Setelah itu Bawa Senja kerumah saya !!" Titah pak Basuki pada Art Asmara.
Mbok Jum yang memang tidak tahu apa-apa hanya menurut saja pada titah bapak dari majikanya. Hingga anggukan kepala yang dapat dia berikan pada mereka.
Tidak butuh waktu lama. Nyatanya tidak hanya satu namun mbok Jum membawakan tiga gelas Air putih dalam cangkir besar.
Setelah meletakkan minumannya, mbok Jum bergegas mengambil Senja yang berada di kamar nya dan segera membawa Senja pergi, sesuai instruksi dari pak Basuki.
Dua manusia dewasa dengan seorang pria paruh baya, kini tengah duduk bersama.
Helaan nafas dalam begitu banyak Asmara lakukan, hanya satu tujuan, tentu untuk mengurai sakit dan sesak di dada yang begitu menyakitkan
Asmara terlihat sudah cukup baik dari sebelumnya, setelah meneguk beberapa kali Air putih miliknya, Asmara siap untuk mendengarkan semua cerita dari suaminya.
__ADS_1
"Seperti nya banyak yang ingin mas Loka katakan. Silahkan"
"Asmara sudah siap untuk mendengar kan"
Lembut namun terasa dingin kalimat yang keluar dari mulut seorang Asmara menyentuh telinga Loka Wiratmaja.
"Kita bicarakan ini berdua saja Asma!!" ucap Loka
"Aku ingi----"
"Tidak Bisa. Asma ingin Bapak juga mendengar nya"
Belum juga sempat Loka menyelesaikan kalimatnya, Asmara lebih dulu memotong dengan ucapanya.
Bukan Asmara tidak mau membicarakan masalah ini hanya dengan Loka saja, hanya saja memang untuk hal ini Asmara perlu pak Basuki untuk sekedar menengahi.
Lagi pula awal permasalahan ini diketahui juga oleh pak Basuki.
Namun agaknya Loka masih enggan untuk membuka mulutnya, hingga Asmara memilih bertanya pada bapaknya.
"Pak. Sebenarnya apa yang bapak ketahui dari kenyataan yang ada pada Suami Asma ?"
Lirih Asmara dengan sesenggukan menahan tangis nya.
Terlihat bagaimana keraguan di wajah pak Basuki untuk menceritakan semuanya, Namun permasalahan ini juga tidak bisa di diamkan begitu saja.
Beberapa kali terlihat pak Basuki menghela nafas dalam mengurai kepenatan dalam hatinya.
Hingga pada akhirnya pak Basuki memulai untuk bercerita. Kenyataan yang juga baru dia ketahui sebelumnya tentang sebuah rahasia yang telah di simpan suami dari putri angkatnya.
FLASH BACK ON
Kebingungan jelas tampak di wajah teman pak Basuki, Seolah layar komputernya menunjukan sesuatu yang sangat mengejutkan di sana.
"Pak Bas, Coba bapak baca ini, Saya takut kalau salah" Ucap teman pak Basuki
Meski sempat ragu namun pada akhirnya, Pak Basuki menurut saja.
Hingga kedua bola mata pak Basuki terbelalak sempurna mendapati kenyataan menantunya telah berstatus 'MENIKAH' .
Namun bukan itu yang menjadi Fokus pak Basuki saat ini. Sebuah nama asing yang tertera di bagian kolom istri, menunjukan bukan nama Asmara disana namun 'Luna Shandika' menjadi nama Istri Loka Wiratmaja. Sungguh sebuah kenyataan yang sangat mengejutkan.
"Pak Bas. Ini benaran nama mantu pak bas ?"
Bahkan beberapa kali teman pak Basuki menanyakan kebenaran siapa nama menantunya, pasalnya kenapa data disana menunjukan status pernikahan nya telah aktif namun bukan Asmara yang menjadi istrinya.
Hingga pak Basuki lemas tak berdaya, anggukan kepala saja yang menjadi jawaban atas pertanyaan teman nya.
FLASH BACK OF
Linangan air mata sudah tidak lagi Asmara halangi, sudut mata yang seolah tidak ingin berhenti untuk meratapi nasib yang selalu mempermainkan diri.
Bahkan saat ini Asmara tidak mampu untuk berkata-kata mendengar kenyataan yang ada, sungguh membuat harinya semakin sakit saja.
Dan kini tidak hanya Asmara saja yang larut dalam tangisan nya, Namun pria paruh baya yang bertanggung jawab atas Asmara pun ikut larut dalam tangis nya.
Pak Basuki sungguh sangat menyesali semua yang telah terjadi, bagaimana bisa dia kecolongan untuk yang kedua kali.
"Benar mas ?"
"Mas Loka sudah menikah dengan Luna ?"
"Benar mas Loka menduakan Asma?"
Terdengar pilu Asmara bertanya kenyataan sebenarnya pada laki-laki yang begitu dia cinta.
Namun agaknya semua memang benar adanya, hingga Loka hanya dapat terdiam dengan rasa bersalahnya.
***
...Assalamualaikum para Readers Fillah. 🤗❤️🙏....
...Jangan Sedih ya, Ini hanya Alur cerita, Sesungguhnya setiap duka pasti akan ada bahagia menyertainya, Namun untuk kasus Asmara mungkin harus menunggu waktu yang tepat saja....
...🍁🍁🍁...
...Mohon untuk selalu meninggalkan kesan Baik di setiap BAB nya ya 🤗🤗🤗...
...🍁🍁🍁🍁...
__ADS_1