
keduanya pulang paling akhir, tapi sebelum sampai rumah, Javis mengajak Mei makan di luar.
"kamu suka makan mie ayam? kebetulan aku suka banget makan mie ayam," kata Javis
"aku bisa membuatkan untuk mu mas," kata Mei tersenyum.
"tidak usah, untuk sekarang kita makan di luar saja ya," kata Javis yang tak mau membuatnya repot.
"baiklah kalau begitu, aku punya tempat yang enak dan rekomendasi banget mas, terutama jika kamu suka ceker," kata Mei yang menunjukkan warung itu.
saat sampai ternyata benar, sangata ramai oleh pelanggan, setelah parkir mobil, keduanya pun masuk.
Javis yang memegang tangan Mei dengan erat, sedikit membuat para pelanggan itu kaget
pasalnya pria dengan wajah datar dan dingin, mengandeng gadis yang begitu mudah senyum.
"selama sore mbak mei,wah siapa ini?"
"sore Bu, pesan mie ayam dua, ceker satu mangkuk dan pentolnya juga enam ya," kata Mei.
tapi penjual yang terlanjur akrab masih penasaran hingga menahan Mei, "siap neng, ya Allah badannya bagus gitu,"
"insyaallah calon imam Bu," bisik Mei.
"Alhamdulillah!!" kata ibu pemilik warung yang langsung memeluk Mei.
"sayang..." kata Javis protes.
"iya maaf, Bu kami duduk dulu ya," pamit Mei.
pemilik warung itu tak mengira jika calon suami dari Mei begitu sempurna dari luar, bahkan pria itu terlihat sangat mencintai Mei.
mie ayam pun datang, dan Javis mencium aromanya sangat enak, mereka pun akhirnya makan berdua.
Javis tak mengira jika Mei begitu menyukai ceker mie ayam itu, sedang di tempat lain.
Sahara sedang menyiapkan diri untuk mencari Javis untuk meminta pertanggung jawaban.
dia membawa anaknya agar habis tak bisa mengusirnya karena bisa mengunakan anaknya sebagai alasan.
__ADS_1
"ku katakan sekali lagi, kamu akan mendapatkan hasil butik jika tetap nekat," kata pak Budiono.
"aku tak mau diam diri lagi, kamu juga tak punya uang, jadi jangan pernah bilang ini akan sia-sia, karena putraku juga tetap butuh susu, sialan!!" maki Sahara.
Javis mengajak Mei ke kota untuk mencari perhiasan untuk semua acara mereka nantinya, beruntung toko emas ada yang belum tutup.
dia memesan tiga set perhiasan untuk Mei selain sebagai hantaran akan di gunakan saat tukar cincin setelah menikah nantinya.
mereka juga mencari kain untuk acara pernikahan, meski mereka tak berniat membuat pesta, tapi setidaknya mereka harus punya baju kembar untuk akad nikah nantinya.
setelah itu mereka pulang dan besok sore baru mereka berjanji untuk membawa ke tukang jahit.
"mas, kamu belum sepenuhnya cerita, sebenarnya kenapa sampai bercerai?"
"karena itu pernikahan yang di atur oleh kakek ku, itupun tanpa persetujuan diriku, dan asal kamu tau sayang, setelah anu minta tolong pada Iwan dan Adi untuk menyelidiki wanita itu, aku baru tau jika wanita itu sering keluar masuk hotel dengan pria lain, ternyata aku di jadikan sebagai alat tukar oleh pria tua sialan itu," kata Javis yang mengejutkan Mei.
"separah itu, apa mas pernah menyentuhnya, maaf sekali..." lirih Mei sedikit malu.
"tidak pernah, bagaimana aku bisa menyentuh wanita seperti itu, jadi tenang saja ya sayang, dan aku punya bukti tentang perbuatannya, kamu buka ponsel ku dan lihat sendiri videonya," kata Javis.
Mei pun membuka video yang di maksud oleh Javis, dia menutup mulutnya tak percaya jika pria setengah Javis mengalami semua ini.
"kenapa dia seperti ini, dan kenapa kakek mas begitu jahat," kata Mei.
Javis membantu Mei turun, ternyata saudara dari ayahnya yang jauh di luar pulau datang.
"loh pakde datang?" kaget Mei.
"aku sengaja memanggil pakde, karena aku ingin meminta izin untuk menikahi keponakannya yang cantik ini," kata Javis yang membuat Mei tak percaya.
"sudah ayo masuk dulu, kita bicara di dalam," kata pria sepuh itu yang terlihat begitu kaku.
ternyata pakde dari Mei itu sangat mirip dengan ayah dari Mei yang sudah meninggal dunia.
"apa kamu sudah baik-baik saja, dan saya dengar anak Javis baru bercerai, kenapa buru-buru menikah, apa Mei adalah wanita idaman lain?" tanya pakde Mei.
"pakde... aku tak akan berbuat sejahat itu," kata Mei sedih.
"pakde cuma tanya nduk, kamu tau kan jika sewaktu-waktu mantan istri dari calon suamimu itu bisa saja datang, dan meminta sesuatu yang membuat mu malu,"
__ADS_1
"tenang pak, sekarang anak buah ku sedang melakukan sesuatu yang bisa memastikan wanita itu tak bisa membuat drama," kata Javis tersenyum.
pasalnya semua anak buahnya sudah bergerak, Javis pun benar-benar mengutarakan niatnya.
pakde serta bude dari Mei pun setuju, dan pernikahan akan di lakukan setelah dua Minggu, karena mereka harus mengurus semua surat.
dan selama seminggu kedepan Mei akan libur jualan, karena di rumahnya akan di adakan acara tahlilan selama seminggu.
keesokan harinya, saat Mei sedang berbelanja di pasar bersama dengan sang bude di antar oleh to Fery karena Javis tak ingin sesuatu terjadi pada calon istrinya itu.
"aduh mbak, kenapa banyak sekali belanjanya,"
"ya begini mas Fery kalau ada yang meninggal, kan setiap hari ada kue yang harus di bagi, dan saat tujuh hari ada berkat yang di bagikan," terang Mei
sebuah mobil putih milik pak Budiono memasuki desa yang sudah lama tak di injak oleh pria itu.
desa kelahiran dari menantunya yang miskin, mereka sampai di depan rumah luas yang di tempati Javis dan anak buahnya.
saat keduanya turun, Deni memimpin yang lain mengambil sabit yang baru di asah.
mereka berbaris menantang mereka bertiga yang berani datang ke desa ini, "mau apa kalian datang,belum jelas apa yang di katakan oleh bos Javis,"
"kamu cuma seorang bawahan, jangan bertingkah, aku ingin bertemu dengan Javis," kata pak Budiono.
tiba-tiba Sahara berlutut di depan para pria itu, "tolong biarkan aku dan anak ku bertemu dengan mas Javis, bagaimana pun dia adalah ayah dari anak ini," mohon Sahara dengan suara keras agar menarik para warga datang.
benar saja, karena itu jam orang pulang dari sawah, tak lama banyak orang berkumpul.
"eh bukankah ini mantan istri bos Javis yang tak tau malu, hamil dengan kakek bos Javis, dan selingkuh, dan sekarang datang ngemis-ngemis,"
"ibu benar, sepertinya uangnya sudah gabis itulah kenapa dia datang untuk meminta uang untuk hidup, uh... dasar tak punya urat malu,"
"kan urat malunya sudah putus, aduh kasihan sekali bos Javis punya mantan keluarga seperti itu," kata para warga.
Javis keluar dengan mata merah karena dia sudah sangat muak, padahal dia sudah memperingatkan berkali-kali agar tak menunjukkan wajah mereka.
"mau apa lagi, sudah ku bilang jangan tunjukkan wajah mu di depan ku," marah pria itu
"aku tak punya pilihan lain, kamu mengambil semua sawah, dan tak menyisakan satu pun," kata pak Budiono.
__ADS_1
"kamu benar-benar tak tau malu ya, itu sawah aku yang beli, kenapa garis memberikannya padamu, salah ku sendiri kamu menjual sawah mu untuk judi dan main perempuan, sekarang nikmati masa tua mu, iwan bawa kakek ke panti jompo, dan untuk mu wanita tak tau malu, pergi dari sini atau kamu menyesal selamanya," ancam Javis yang membuatnya ketakutan.
Deni dan Adi yang meringkus Sahara dan Joko, mereka langsung membawa kedua orang itu pergi dan membuat mereka tak bisa kembali lagi.