
mereka melanjutkan pekerjaan setelah semua asuk ke atas truk, Adi ikut di truk untuk menata sesuai arahan dari Mei tadi.
sedang yang di rumah Fery dan Javis kini membersihkan semua dari sisa bekas noda.
ternyata lantai di warung itu terbuat dari batu yang cukup kuat, jadi mereka hanya perlu menuangkan cairan pembersih dan sedikit menyikatnya untuk kembali bersih.
Mei sendiri sibuk di dapur untuk menata ulang, karena satu kulkas dan satu freezer berukuran besar di pindahkan ke warung yang baru.
Javis masuk kedalam rumah dan melihat dapur juga sudah mulai tertata rapi dan bersih.
"sayang kamu tak lelah?" tanya Javis.
"tidak mas, ini sudah selesai, kulkas ini sepertinya kurang besar, karena kulkas yang biasa sudah di bawa ke warung," kata Mei
"kalau begitu kita beli saja, pilih kulkas yang kamu inginkan, dan biar kulkas ini pakai anak-anak di rumah.
"baiklah terserah saja mas, tapi aku ingin menemui Yuni dan Wenda yuk, aku ingin melihat mereka," kata Mei.
"baiklah, sekarang ayo pergi, setidaknya kamu harus melihat rumah suamimu."kata Javis yang di angguki oleh Mei.
bekas warung kini di gunakan untuk mobil dan setelah mengunci semuanya.
mereka pun pergi menuju ke rumah Javis untuk bertemu dua gadis yang selama ini bekerja bersamanya.
tapi sayangnya kedua orang itu sedang tak berada di rumah, "mungkin sekarang mereka sedang mencari rumah,"
"iya mas,"
sedang di tempat lain, terlihat Wenda dan Iwan yang sedang menunggu sosok Candra dari pagi.
pasalnya pria itu kata tetangga sedang pergi, dan Wenda tak ingin kehilangan pria itu lagi jadi memohon pada Iwan untuk menunggunya.
__ADS_1
beruntung rumah pria itu tak jauh dari warung jadi mereka menunggu di warung itu.
"Wenda, kita sudah menunggu tiga jam, dan tak ada tanda-tanda dia akan pulang," kata Iwan yang tak bisa menunggu lagi.
"aku mohon mas, aku harus menjelaskan semuanya, dan aku yakin jika dia bisa percaya, jika kamu merasa bosan kamu bisa pergi," kata Wenda dengan cuek.
"aku bisa di bunuh oleh Bu bos, kamu tak melihat beliau sangat menghawatirkan dirimu dan Yuni, tapi kalian berdua ini ternyata sama-sama menyebalkan ya," kesal Iwan.
"sabar mas, mbak Wenda benar omongan mas-nya, mbak Wenda nanti bisa sakit hati saat tau yang sebenarnya," kata ibu penjaga warung itu.
"kenapa harus kecewa, karena aku yakin jika mas Candra itu bisa menerima semuanya," kata wenda dengan buta.
penjaga warung itu sudah bicara pada Iwan tadi, kalau Candra tak sebaik yang terlihat, tapi sepertinya Wenda tak akan mendengarnya.
ternyata Candra datang, melihat motor pria itu, Wenda langsung berlari kearah motor itu.
Candra baru saja turun dari motor dan kaget menerima pelukan dari Wenda, Iwan hanya bisa melihatnya.
"Wenda kamu disini, dan kenapa kamu seperti ini, aku dengar kamu sudah menikah, dan maaf aku tak bisa bersamamu lagi," kata Candra.
"tidak bung, itu hanya pernikahan siri,dan aku akan menceraikan dirinya asal kamu bisa membuatnya bahagia," kata Iwan dengan santai
"benarkah itu?"
"iya mas, aku melakukan ini demi bisa menikah dengan mu," jawab Wenda.
"baiklah kalau begitu ayo kita pergi dan menikah," kata Candra.
"baiklah Wenda, aku dengan ini menjatuhkan talak tiga padamu,dan pernikahan kita selesai," kata Iwan
"terima kasih mas," jawab Wenda yang terlihat bahagia.
__ADS_1
Iwan pun pulang, saat sampai di rumah di kaget melihat ada Javis yang sedang berbincang dengan semua teman-teman seperjuangannya.
"wajah pengantin baru, kok sendirian,mana istrimu bung," kata Topan heran.
"sudah lari dengan pria yang dia cintai, sekarang aku jadi duda rasa perjaka," kata Iwan dengan tawa ceria.
"lihat dia sudah mulai gila, bagaimana bisa dia tertawa saat pernikahannya hancur seperti ini," kata Adi.
"kalian kan tau aku memang tak mencintainya jadi mengikuti keinginan warga itu mudah dan kami tinggal berpisah, toh hanya nikah siri, untuk Deny dia yang memilih menyiksa dirinya," kata Iwan santai.
"cukup kali ini Iwan, aku tak ingin lain kali kamu membuat masalah lagi," kata Javis.
"siap bos,"
Javis akan membantu menerangkan nanti pads istrinya, sedang di tempat lain.
Yuni dan Deny sudah memilih rumah yang mereka akan tinggali, "jadi tak ada diskon lagi?"
"maaf mas, sudah tak bisa, itu saja sudah di bawa rata-rata," kata orang yang menjual rumah itu.
"baiklah, besok saya hubungi lagi," jawab Yuni.
pasalnya rumah yang di jual itu terlalu mahal, "kenapa kita pulang, bukankah kamu menyukai rumah itu, aku tinggal membayarnya," kata Deny.
"tidak mau, aku tak menyukainya, kamu tau mas, lebih baik uangnya kita gunakan untuk yang lain, sedang untuk tempat tinggal kita bisa tinggal dengan Mbah dulu, lagi pula Mbah tak ada teman untuk tinggal," kata Yuni.
"aku tak mau di sebut pria tak tau malu karena tinggal dengan mbah istriku, nanti apa kata orang," terang Deny.
"tidak akan mas, bagaimana jika uangnya lebih baik di gunakan untuk merenovasi rumah saja," usul Yuni
"boleh saja, asal rumah itu sudah milik mu dan tak akan jatuh ke tangan siapapun, mengerti sayang," kata Deny yang di angguki oleh istrinya itu.
__ADS_1
lagi pula anak dari kakek nenek Yuni, hanya ibunya Yuni jadi otomatis semua yang di miliki akan jadi milik Yuni setelah kedua orang itu meninggal dunia nantinya