Si Berandal, Milik Meidina

Si Berandal, Milik Meidina
kemarahan Mei


__ADS_3

malam itu Adi datang ke rumah untuk memberikan hasil dari dirinya yang mengambil sertifikat atas permintaan dari Samsul.


Javis tersenyum dan langsung menyimpannya, dan besok dia akan membawanya ke tempat saudaranya.


"kamu boleh istirahat, saat besok sudah di bayar aku akan memberikan gaji mu," kata Javis.


"siap bos,"


malam itu dia pun sudah berada di sebuah rumah dan ternyata di rumah itu ada beberapa orang yang nampak sedang duduk bersama.


Adi pun lewat begitu saja, dia tak ada kepikiran apapun, sesampainya di rumah tinggal dia langsung mandi dan menghapus penyamarannya.


Iwan dan Topan baru pulang dari panen, mereka juga membawa nasi Padang untuk makan malam ini.


"bro makan dulu," panggil topan.


tak terduga yang keluar hanya Adi, "kalian dari mana, kok baru pulang, oh ya kalian lupa jika sekarang di rumah ini hanya tinggal kita berempat, yang lain sudah pergi semuanya,"


"iya kamu benar, kemungkinan kami juga akan segera keluar juga dari rumah ini dan menjalani hidup bahagia bersama istri dan anak, Adi kamu tak kepikiran mau gimana?"


"mau gimana, aku akan santai saja menjalani hidupku, toh aku tak punya keresahan yang membuatku harus menikah cepat," jawab Adi.


di rumah Javis, dia sedang mengerjakan pembukuannya bersama dengan istrinya.


"jadi sayang, bagaimana kita harus mengatur pengeluaran ini?" tanya Javis.


"kenapa bingung mas, tak perlu takut uang mu habis, Allah pasti akan menggantikan dengan yang lebih banyak," kata Mei yang merasa aneh melihat suaminya itu.


"aku bukan takut miskin, tapi ini bagaimana pembukuan hasil panen ku kali ini, aku sedikit bingung karena hasilnya sangat baik," kata Javis.


"itu mudah sudah sekarang mas fokus ke yang lain, biar aku yang mengenakannya nanti," jawab Mei.


akhirnya Javis melakukan apa yang di minta oleh Mei, tak terasa sudah jam sembilan malam.


Mei pun membereskan semua dan bersiap untuk istirahat. sedang di sebuah rumah Nurul sangat bahagia saat keinginannya yang ingin menjadikan sosok Lukman jadi suaminya akan terlaksana sebentar lagi.

__ADS_1


keesokan harinya, Mei ke warung seperti biasa, tapi dia sedikit terpancing emosi saat melihat apa yang di lakukan oleh beberapa pegawainya.


Risa sedang membantu Bu Susi dan Bu mut masak, sedang di depan ada Yuni, ayu dan Rina.


"cuma kalian bertiga, apa dia tak datang lagi," tanya Mei yang tak mendapati Nurul datang ke warung.


"tak tau Bu bos, padahal tadi dia datang dan di suruh Bu Susi beli beberapa bahan yang habis, tapi belum balik sampai sekarang," kata Rina menjawab pertanyaan Mei.


"hei kamu itu anak batu jangan suka ngadu-ngadu ya, dasar ini aku memang beli barang kok," kata Nurul dengan nada suara tak mengenakkan.


"kamu habis beli ini sampai sesiang ini, kamu ini niat kerja gak sih Nurul, jika memang kamu tak ingin kerja silahkan keluar," kata Mei yang tak bisa mentolerir lagi gadis itu.


"Bu bos kenapa sih kok sensitif banget, padahal aku dari pasar loh di suruh Bu Susi," kata Nurul membantah.


"kamu kira aku tak tau, pasar dari ruko ini hanya berjarak beberapa meter, tak mungkin kamu ke pasar sampai selama ini," kata Mei yang mengejutkan Nurul.


"sudahlah aku akan membawa ini kebelakang dulu," kata Nurul yang tak ingin mengatakan apapun lagi.


mendengar itu, Mei marah, dia tak mengira jika wanita seperti ini dia pekerjakan di tempatnya.


"aduh pada kenapa sih kok sensitif sekali, aku padahal sudah mengikuti apa yang di perintahkan loh," kata Nurul dengan sombong.


tak lama mobil pickup yang membawa beras dari tempat Javis datang, ternyata yang mengantar itu adalah Lukman dan Adi.


"Bu bos di taruh di mana,"


"bawa ke belakang cak," kata Mei.


"Nurul ikut saya ke kantor, karena ada yang ingin saya bicarakan dengan mu," perintah Mei.


"tunggu Bu bos, aku ini ada urusan penting," jawab Nurul yang mengabaikan Mei.


bahkan wanita itu terus menatap Lukman, padahal semua orang juga tau jika Lukman adalah calon suami dari Risa.


"Nurul ikut aku ke kantor," suara mari yang mulai meninggi.

__ADS_1


"ada apa sih, jangan ganggu Bu bos," kesal Nurul yang menghempas tangan Mei hingga hampir membuat wanita itu jatuh.


beruntung Rina dan Ayu menahan tubuh Mei, "mbak kamu hampir mencelakai Bu bos,"


"diamlah, lagian Bu bos berisik dari tadi," kata Nurul yang sekarang sedang hanya fokus pada Lukman yang bahkan tak melihatnya sedikitpun.


"Nurul kamu di pecat, karena sikap mu yang tak bisa di tolerir lagi,"


"apa!!! anda tak bisa melakukan itu, aku ini selalu bekerja dengan baik," kata Nurul tak terima.


"kamu yakin, kamu terus membuat teman yang lain kesulitan, sekarang kamu di pecat dan silahkan tinggalkan tempat ini, dan jangan berani datang lagi," kata mri tanpa ampun.


"tak masalah, lagi pula sebentar lagi aku akan menikahi pria yang aku cintai, mas Lukman!!" kata Nurul yang ingin ke belakang menghampiri Lukman.


tapi Adi mencengkram kuat lengan wanita itu dan menyeretnya keluar dari warung.


"jangan berani masuk kedalam, karena area dalam khusus pekerja, kamu sudah di pecat, jadi sebaiknya kamu pergi dari sini," usir pria itu.


"kamu tak bisa mengusirku, mas Lukman!!" panggil Nurul yang mengira jika pria itu sudah terkena pelet yang dia kirim.


tapi anehnya Lukman malah menatapnya jijik, "aku tak mengenalmu, lebih baik pergi dari sini," usirnya


Mei pun memberikan kode pada Adi, dan Nurul tak percaya jika Lukman masih tak melihatnya sama sekali.


Nurul pun pergi karena sudah di permalukan seperti ini, dia tak menyangka jika dia di bohongi oleh dukun cabul itu.


"aku tak terima, aku harus minta pertanggung jawaban dari dukun sialan itu," gumamnya yang langsung menuju ke tempat dukun itu berada.


sesampainya di sana, bukan jawaban yang di dapat buruk tapi malah senyum mesin dukun cabul itu.


"Mbah membohongiku, katanya dia akan tergila-gila padaku, tapi nyatanya dia tetap tak melihatku," kata Nurul marah.


tanpa di duga, dukun itu tersenyum dan meniupkan asap tebal kemenyan ke arah Nurul.


wanita itu tiba-tiba seperti orang terhipnotis, "kamu itu seharusnya jadi babu ku di sini, biar aku puas mengerjai mu, lagi pula kamu salah sasaran jika ingin memelet habis dan anak buahnya, karena mereka itu kenalan ku, ha-ha-ha!!" tawa dukun itu yang mendapatkan rejeki nomplok wanita cantik yang semok seperti Nurul.

__ADS_1


__ADS_2