
keempat orang itu susah selesai sarapan, dan berangkat ke bandara, sedang kini malah datang Deny, Topan dan Lukman ke warung.
Yuni yang langsung menghampiri ketiga pria itu, dan dia duduk di samping suaminya.
"mau makan paket lengkap? dan kenapa mas juga ikut kesini? bukankah di rumah sudah sarapan," tanya Yuni.
"iya aku sudah sarapan di rumah, tapi mau gorengan dong sayang sama kopi, dan tolong panggilkan Risa, tuh kasian Lukman kayak mayat hidup begitu," ledek Deny.
"tak usah mbak, aku tak butuh," saut Lukman.
"ayolah cak, kalian ini saling menyukai tapi hanya karena seseorang yang membuat Risa salah paham, kamu mundur begitu saja?" kata Yuni merasa kesal.
"loh kenapa?" tanya Topan penasaran.
"tadi Bu bos sudah memberikan nasehat pada Risa, dan sepertinya dia akan bicara dengan mu," kata Yuni yang bangkit dari kursinya.
benar saja, Risa membawa air minum untuk ketiga orang itu, setelah itu dia berdiri di samping Lukman.
"bisa bicara sebentar mas," kata Risa dengan lirih.
Lukman langsung berdiri dan mengandeng tangan Risa dan mengajaknya berjalan ke arah truk.
setelah jauh dari semua orang, Risa langsung memeluk Lukman, "maaf aku hanya mendengar satu cerita saja, seharusnya aku bertanya pada mas sendiri,"
"kamu mendengar dari siapa?" tanya Lukman penasaran.
"aku mendapatkan kiriman foto, aku tak tau siapa, dan saat hatiku yang berkecamuk, tadi Mbak Nurul menambahinya jika dia menyukai mas Lukman, bahkan dia yakin jika mas juga mencintai dirinya," kata Risa sedih.
tanpa bicara, dia langsung memeluk Risa agar gadis itu tenang, "mau menikah dengan ku, aku tak bisa lagi membiarkan orang bisa bicara seenaknya, setidaknya jika kita sudah menikah,aku bisa menunjukkan jika aku sudah punya istri," kata Lukman.
"tapi permintaan ibuku,"
"itu sudah tugas ku menyekolahkan adik mu, toh hanya sampai dia SMA, aku tak bisa lagi melihat mu sedih," kata Lukman.
Risa pun mengeratkan pelukannya, Lukman pun tak mengira jika tidak begitu dalam mencintainya bahkan bisa cemburu seperti ini.
keduanya pun kembali ke warung dengan tetap bergandengan tangan, Nurul merasa buruk melihat itu.
__ADS_1
tapi dia harus menyembunyikan semuanya, agar tak ada satupun yang tau hal itu.
"woi... kok bengong," tegur Topan.
"Iya mas, maaf ini gorengannya," jawab Nurul yang menaruh dua piring gorengan panas.
Risa langsung ke dapur dan membantu mencuci piring, Yuni yang melihat Nurul pun menghadang wanita itu.
"jangan bertingkah Nurul, tentu kamu tau jika bos Javis tau, kamu bisa habis, dan jangan ganggu mereka, tentu kamu tau mas Lukman itu seperti apa," bisik Yuni.
Nurul pun berbalik dan memilih membersihkan meja, Bu Susi bertukar tempat dengan Risa.
karena gadis itu sangat pintar saat menjadi kasir jadi dia di minta untuk fokus di bagian itu.
pukul tiga sore, semuanya selesai dan memilih untuk pulang setelah membawa beberapa bungkus nasi.
selama dalam perjalanan, Risa membagikan makanan itu pada orang-orang yang bekerja di jalanan sesuai permintaan Yuni.
sedang Nurul menghampiri Lukman di gudang tempat pria itu bekerja, bahkan dia datang dengan tanpa malu sedikit pun.
"katakan di sini jika kamu ingin bicara, aku tak mau ada seseorang yang membuatku dan Risa kembali bertengkar lagi," kata Lukman.
"kenapa kamu membuatku seperti orang bodoh, aku kira kamu menyukai ku hingga melakukan hal semalam, ternyata kamu melukaiku dengan sangat dalam, sekarang kamu harus tanggung jawab adaku," kata Nurul tanpa malu di depan semua orang.
"kamu mu aku bertanggung jawab untuk apa, mengeluarkan mu dari tempat pijat plus-plus itu, dan membawamu berobat, jika kamu mau kembali silahkan saja, tapi jangan berani kembali bekerja di tempat Bu bos, jika tak ingin mati di tangan kami," kata Lukman tanpa perasaan.
Nurul tak menyangka jika Lukman mengatakan semuanya dengan santai seperti ini.
"tapi kamu membuatku salah paham dengan semua sikap mu itu," marah Nurul.
"itu pikiran dan perasaan mu sendiri, aku selalu baik pada siapapun itu, jadi jangan salahkan aku," terang Lukman.
"kalian terlalu banyak bicara, Nurul jika kamu ingin kembali ke tempat itu,aku bisa mengantar mu, tapi jangan harap kamu kembali ke warung itu," kata topan mencengkram kuat lengan Nurul.
"tidak mau!" teriak Nurul.
"kalau begitu tutup mulutmu, atau aku perlu melakukannya, karena wanita seperti mu ini tak tau malu," bentak Topan.
__ADS_1
mendapatkan perlakuan seperti itu membuat Nurul pergi, dan topan melihat semua orang, "anggap kalian tak mendengar apapun hari ini, jika ada gosip murahan di luar, aku akan mengejar kalian semua," kata Topan.
sedang yang sedang berada di dalam pesawat sedang menikmati pemandangan alam yang indah.
perjalanan udara itu hanya membutuhkan satu jam untuk sampai di Bandar Udara Internasional Aji Pangeran Tumenggung Pranoto.
disana sudah ada yang menjemput keduanya untuk mengantarkan ke rumah keluarga pakde dari Mei.
dan saat sampai di rumah keluarga pakde, semua orang langsung menyambut mereka dengan baik.
pasalnya, mereka sudah sangat lama tak bertemu terutama Mei dengan para sepupu.
Javis pun juga menyapa semua orang, dan sore itu mereka makan bersama.
akhirnya Javis pamit karena mereka harus pulang ke rumah miliknya, dan berjanji akan berkunjung saat dia bekerja.
ternyata rumah Javis tak jauh dari rumah pakde Mei, "mas kamu beli rumah disini?"
"ini sudah lama sayang, tapi di sini aku memang hanya mengunakan tanpa menyapa orang kampung, jadi mereka tak tau jika aku tinggal disini," bisik Javis.
Mei mengeleng pelan, "sudah ayo masuk, kita istirahat karena besok pagi aku harus mulai bekerja,"
"baiklah mas, tapi bagaimana untuk memasak? tak mungkin dong aku harus terus makan makanan beli,"
"tenang penjaga rumah sudah ku minta untuk berbelanja, agar istriku ini tak perlu repot, dan maaf jika semua masih serba minim ya,maklum namanya saja rumah singgah sementara," kata Javis.
"iya mas, asalkan kita punya rumah untuk berlindung, itu sudah cukup," jawab Mei.
Javis pun tak mengira jika istrinya bisa begitu baik, meskipun keadaan rumah itu tak bagus-bagus amat.
karena dekat dengan perkebunan dan kontur juga pegunungan.
jika biasanya dia akan di sana sendirian, tapi tidak kali ini, dia akan bersama orang yang sangat dia cintai.
bahkan malam ini Javis bisa memeluk guling hidup miliknya itu dengan erat.
"ya Allah tolong biarkan kami hidup bersama tanpa ada yang menganggu, dan jangan pernah pisahkan kami selain maut Mu," doa Javis.
__ADS_1