
Nurul menghela nafas panjang, setelah motor yang di kendarai oleh Yuni pergi dari tempat tadi.
sebenarnya Nurul punya pekerjaan sampingan, yaitu menjadi wanita panggilan, tapi dia sebisa mungkin menyembunyikan semuanya.
dia melakukan ini demi menghidupi dua adiknya yang masih kecil dan seorang ibu yang sakit-sakitan.
"semoga mbak Yuni tak sadar bau apa, karena bisa bahaya jika dia mengenali aroma itu," gumamnya.
dia pun langsung menuju ke rumahnya, karena dia harus segera mandi karena perasaan tak nyaman itu.
sedang di rumah, Yuni melihat sang kakek sedang main catur bersama dengan Deny.
keduanya nampak serius, dan begitu fokus, sedang di rumah Mei dan Javis, keduanya sedang duduk menonton film yang di miliki oleh pria itu
"sayang ini film bagus loh, nanti kalau ada karnaval Agustus, mas jadi kayak mereka pasti lucu," kata Mei tersenyum.
"kamu mau melihat suami mu berwarna biru terus pakai ****** doang, sambil nari bawa tombak, mau gitu..."kata Javis tak percaya.
"apa? ya gak gitu, ah gak rela tubuh suamiku yang berharga ini di nikmati orang-orang, nanti pasti pas minta foto mas di peluk sana sini, gak boleh," kata Mei memeluk tubuh suaminya.
"lah itu tau,"
Javis terkekeh geli membayangkan bagaimana istrinya akan begitu marah seandainya itu terjadi.
"oh ya sayang, lusa kita berangkat loh, kamu siap? kita kan sudah menundanya beberapa kali,"
"iya mas, besok aku akan mulai berkemas apa yang harus di bawa untuk kegiatan kita selama disana," jawab Mei.
"aduh enaknya punya istri, semua ada yang bantu nyiapin," kata Javis.
Mei hanya tersenyum saja, dia juga akan membelikan beberapa oleh-oleh untuk keluarga yang ada disana.
malam itu Javis dan Mei tidur dengan nyenyak, terlebih pria itu terus meminta jatah dan tak membiarkan istrinya itu tidur dengan tanpa bermesraan.
keesokan paginya, Mei sudah berangkat ke warung miliknya setelah subuh untuk melihat cara Yuni mengawasi semua memasak.
beruntung Yuni yang memang sudah lama ikut Mei bisa menghendel semuanya.
bahkan Deny juga ikut di warung untuk membantu istrinya itu, "ingat kalian bisa jualan hanya satu sesi saja, kalau malem biar para pria yang mengurusnya untuk jadi warung kopi, atau kalian mau ikut jaga, tentu bayarannya sendiri ya,"
"biar saya," kata Nurul dan Risa bersamaan.
"bagus deh,nanti kalau gitu aku akan minta mereka bergilir saja, boleh aku yang atur Bu bos?"
"tentu cak Deny,kalau begitu saya pulang dulu, karena ini sudah jam setengah tujuh jadwal Bayi besar saya bangun," kata Mei tersenyum.
__ADS_1
"siap Bu bos, sayang aku pulang juga, karena ada pekerjaan penting," pamit Deny.
"iya mas," jawab Yuni.
motor yang di kendarai Mei sampai di rumah, ternyata Suaminya belum bangun, jadi dia bergegas menyiapkan sarapan.
setelah itu memanggil Javis yang masih nyenyak tidur, "sayang ayo bangun, sebentar lagi jam tujuh," bisik Mei.
Javis malah memeluk istrinya dan membuatnya jatuh dan menindih tubuh Mei.
"kamu meninggalkan aku ya, teganya kamu meninggalkan aku sendirian di rumah," kata Javis yang mengecup bibir istrinya.
"aduh-aduh, maaf deh sayang, habis aku harus memastikan Yuni tak melakukan kesalahan, dan harus mengecek setiap masakan yang mereka buat,"
"iya iya ibu pemilik warung terbaik, sekarang kita harus apa, aku mau menerkam dirimu sebenarnya, tapi aku ingat harus menyelesaikan pekerjaan yang banyak, gara-gara dua bocah sialan itu," kata Javis yang bangkit dari ranjang.
"baiklah kalau begitu cepat mandi, aku tunggu di dapur ya," kata Mei.
dia pun berganti baju dengan daster yang cukup seksi menurut Javis, bukannya mandi dengan benar, Javis menarik istrinya dan membawanya ke kamar mandi.
beruntung tadi Mei masak sudah selesai, jika tidak bisa tak sarapan mereka berdua.
"sayang ini sambal korek yang pedas pesanan mu sayang,"
"terima kasih dek, duduklah biar mas suapi,"
"ya gak papa dong sayang, hitung-hitung memanjakan istrinya," kata Javis tersenyum.
dia pun tak bisa berkata lagi, dan memilih untuk menikmati setiap suapan dari suaminya yang begitu telaten.
setelah sarapan, Mei mengantar Javis kedepan dan pria itu hari ini mengunakan mobil untuk berangkat kerja.
"hati-hati mas,"
"iya sayang," jawab Javis.
setelah mobil suaminya pergi, Mei memilih bersiap untuk ke warung miliknya.
tapi sebelum itu dia akan mengunjungi yayasan panti asuhan uang sudah satu lama menjadi tempat dirinya berdonasi.
dia datang untuk memberikan donasi seperti biasanya, tapi kali ini nominalnya cukup besar.
"apa disini ada anak baru Bu?"
"ada mbak Mei, bayi itu di buang di pinggiran sungai di tempat sampah, dan dia hampir mati kedinginan karena waktu di temukan, dia tak mengenakan apapun," kata pengurus panti.
__ADS_1
mereka pun sampai di tempat para bayi di tempatkan, ternyata bayi itu seorang bayi perempuan yang sangat cantik.
"boleh aku menggendongnya?"
"tentu boleh mbak," kata pemilik panti asuhan.
Mei pun terlihat begitu bahagia, dia bahkan mengambil foto dengan bayi mungil itu, dan mengirimkan pesan pada suaminya.
"apa kami cantik?"
Javis yang sedang berada di truk menuju ke Madiun hanya tersenyum dan menjawab pesan istrinya, "iya, kalian cantik, tapi bayi itu milik siapa?"
"ini anak di panti asuhan, dia di buang oleh orang tuanya," balas pesan Mei yang terus mengendong bayi itu.
Javis pun mengerti keinginan istrinya itu, "aku bisa membuat mu melahirkan sepuluh bayi, jadi biarkan bayi itu disana, dan jangan lelah," balas Javis.
membaca balasan pesan suaminya, Mei hanya menghela nafas karena itu sudah bisa di pastikan jika Javis tak mengizinkan untuk mengadopsi bayi itu.
Mei langsung menidurkan bayi itu yang nampak tenang ke box bayi, setelah itu dia bergegas pergi menuju ke warung miliknya. ternyata para pegawainya sudah mulai memasak nasi lagi karna satu jam lagi makan siang.
Mei langsung mengambil celemek dan membantu di warung, dan benar pas saat makan siang warung begitu sibuk.
dan hanya dalam dua jam semuanya habis, dan mereka siap-siap untuk tutup.
saat tiba-tiba ada seorang pria tua yang datang ke warung itu, "permisi apa saya boleh beli nasinya?"
"yah sudah habis pak," jawab Risa.
"silahkan duduk pak, tapi hanya ada lauk seadanya, tak apa-apa pak," kata Mei yang dari dalam warung.
"iya Bu, tapi saya cuma punya uang tujuh ribu rupiah," kata pria itu mengulurkan uangnya.
"Iya pak saya terima ya," kata Mei yang tersenyum sopan.
dia pun mengambilkan nasi yang memang masih ada, Yuni yang sudah mengerti bahkan sempat menggorengkan ayam dan mengambil sayur yang masih ada dan membungkusnya dalam plastik.
Risa, Nurul dan Bu mut sebagai orang baru bingung, kenapa Mei seperti itu karena itu bisa membuat rugi.
"ini pak, maaf hanya ada lauk seadanya,"
"terima kasih Bu," kata pria itu dengan tangan gemetar pergi dari warung milik Mei.
"mbak Mei, itu di kasih begitu saja, apa tak akan rugi?"
"ini memang sudah menjadi pesan Mbah ku, kita tak boleh mengabaikan orang terutama orang tak mampu, jika nanti ada orang yang datang beli nasi, berapapun uangnya terima, dan kasih lengkap, dan ingat tak perlu takut rugi,karena rezeki sudah ada yang mengatur dan menakarnya," kata Mei berpesan pada semua anak buahnya.
__ADS_1
"iya mbak," jawab Semuanya.