
Javis benar-benar menjelma jadi orang berbeda, terlebih setelah kelahiran dua putranya.
ya setelah mei melahirkan bayi kembar, mereka menjadi keluarga yang berbahagia.
Javis sekarang memperdalam ilmu agama bersama beberapa ustadz di desa.
Lessa yang juga sangat pintar selalu memiliki kejutan untuk orang tuanya, bahkan Mei tak menyangka jika putrinya itu mewarisi kepintaran sang ayah dalam berbisnis.
"ayah, Lessa, ayo sarapan," panggil Mei,
"iya bunda," jawab Lessa yang keluar sudah mengenakan seragam hijau putih.
"selamat pagi bunda ku sayang," kata Javis mencium pipi istrinya.
"ya Allah, ayah aku ada di sini dan dua bocah ini hanya tertawa saja," kata Lessa menunjuk kedua balita itu.
"kami gak tau apa-apa, sudah ayo makan mbak nanti telat," kata Jerry.
"itu benar, nanti bunda yang antar karena bunda harus ke warung sederhana karena sekarang jadwal bunda untuk jaga, dan ayah bukankah ada pekerjaan siang ini?" tanya Mei yang duduk di samping suaminya.
"tidak ada, sudah selesai semalam, jadi siang ini ayah akan menemani bunda, dan kita ke panti asuhan seperti biasa," kata Javis.
"baiklah ayah," jawab Mei
Javis selalu mengikuti kegiatan istrinya, karena dia tak ingin kejadian terakhir kali membuatnya kehilangan istrinya.
meski istri dan dua putranya bisa diselamatkan, tapi itu meninggalkan trauma tersendiri bagi Javis.
beberapa tahun lalu, saat Mei masih hamil besar, Javis selalu sibuk dengan pekerjaannya.
begitu pun mei yang tetap membantu di warung sederhana yang di bangun bersama Dian.
tapi siang itu Javis merasa jika ada yang tidak beres, karena tiba-tiba detak jantungnya sangat cepat dan dia merasakan cemas yang sangat menganggu.
"sebenarnya aku ini kenapa, kenapa perasaan ku tak enak," gumamnya.
dia pun terus memegang dadanya dengan erat, siang itu mei dan Dian sangat sibuk.
"mbak tumben anak-anak tak di ajak?" tanya Mei.
__ADS_1
"mereka sedang di rumah bersama dengan ibu mertuaku, ya setidaknya aku bisa melepaskan penat sedikit dari ketiga anak-anak ku," kata Dian tersenyum.
"iya mbak, oh ya aku ingin bertanya pada mbak, siapa yang akan mengantarkan nasi-nasi ini ke tempat biasanya,"
"biar aku saja, kamu jaga di sini, kasihan jika ibu hamil harus keliling mengantarkan nasi." kata Dian.
Mei pun mengangguk dan dia duduk di warung bersama beberapa orang yang membantu mereka.
siang itu warung cukup ramai dengan ojek online, sedang untuk Lessa sedang berada di rumah Wenda.
saat warung sedang ramai-ramainya, tiba-tiba sebuah mobil nyelonong menabrak semua orang yang sedang antri di warung itu.
Mei yang sedang hamil di tarik oleh seseorang hingga terjatuh dan tak mempunyai luka yang parah.
tapi Mei mengalami pendarahan dan langsung di larikan ke rumah sakit, sedang warga yang lain membantu korban yang berjatuhan.
para warga hampir main hakim sendiri, dan ternyata yang mengemudikan mobil itu adalah seorang pria sepuh yang terlihat gemetaran karena takut.
pria itu di amankan dan di bawa ke kantor polisi untuk mempertanggung jawabkan semuanya.
Mei juga terpaksa melahirkan belum pada bulannya lagi, dan kali ini kedua bayinya harus tinggal di NICU khusus karena salah satu bayi ada memar.
Javis mengendarai mobil menuju ke sekolah putrinya di sebuah madrasah ibtidaiyah negeri di salah satu pondok pesantren yang terkenal dengan ajaran agama yang kuat.
begitupun dengan kedua adik dari Lessa yang juga belajar di madrasah ibtidaiyah yang saja tapi beda gedung karena tak boleh jadi satu.
kini Javis menghantarkan istrinya ke warung sederhana, dan setelah sampai.
Javis meminta tolong beberapa orang untuk membeli minyak goreng untuk di bagikan siapapun yang makan di warung itu.
Mei membantu semua pegawai melayani para pembeli, dan setiap hari penghasilan warung memang tak seperti warung pada umumnya.
bahkan Mei yang punya warung sendiri saja omsetnya sudah sangat banyak dan kini sudah buka cabang di beberapa tempat.
Javis memilih berteduh saat selesai membagikan minyak goreng, saat dia melihat ada beberapa anak SMP yang lewat dengan tak tau sopan santun.
"abak hanan sekarang," gumamnya mengeleng pelan.
tiba-tiba terdengar suara tabrakan yang sangat keras, ternyata salah satu motor sport itu menabrak seorang pedagang buah keliling.
__ADS_1
melihat pengemudi motor itu ingin kabur, habis mengambil batu bata dan langsung melemparkan kearah pengemudi motor itu hingga tersungkur bersama motornya.
beruntung pengemudi itu tak tertabrak mobil yang sedang padat, "amankan dia, dia sudah menabrak mbah ini," teriak Javis.
akhirnya para warga mengamankan pengemudi motor itu, dan kedua teman satu pengemudi motor itu datang kembali karena tak melihat temanya.
Javis mengikat bocah itu yang dari tadi terus berontak, dia juga berpura-pura menelpon polisi, agar membuat pemuda itu takut.
bagaimana pun keluarga bocah itu harus bertanggung jawab pada kakek yang di tabrak putra mereka.
"permisi om, kita selesaikan ini dengan baik-baik," kata seorang pemuda yang memancing kemarahan Javis.
"sudah punya SIM kamu, dari tadi aku dengar terus menggeber motor mu di jalan, kamu sok jagoan huh, dan kenapa gadis ini penampilannya seperti gadis urakan tak tau aturan," marah Javis mencengkram kerah baju pemuda itu yang hanya diam.
pasalnya dia takut menghadapi pria di depannya, meski dia pintar berkelahi pun tak akan menang melawan Javis.
"eh gak usah komen ya, dasar pria tua," ketus gadis itu.
"persis seperti ayah mu, tak punya aturan, bilang pada orang tua bocah ini, dia aku tahan sampai orang tuanya datang mencariku, dan untuk mu bilang pada ayah mu, sepertinya putrinya butuh seorang guru attitude," kata Javis mendorong Ibram yang hampir terjatuh.
"aku akan melawan mu," Kata Shakira ingin menyerang Javis.
tapi sebuah tamparan di berikan oleh Mei, "tak sopan seorang wanita bersikap seperti preman, aku tau ayah mu seorang preman, tapi tak seharusnya dia membiarkan putrinya jadi preman juga, pergi dan bilang pada Malik jika Meidina yang menampar mu,"
"kalian berdua sialan,awas saja nanti," marah Shakira pergi.
sedang Ibram terus mencoba menghubungi juragan Wawan karena Satria sudah di tangan Javis itu akan sulit bebas.
akhirnya Ibram meminta tolong pada Mei karena orang tua dari Satria sulit di hubungi begitupun orang tuanya.
"bunda tolong ya, dia itu putra bunda Wulan, dan sepertinya mereka sedang sangat sibuk, aku harus gimana?" bingung Ibram.
"selama orang tua bocah itu tak datang, jangan harap aku melepaskan dia,dan kamu sekali lagi aku melihat mu bertingkah seperti itu di jalanan, aku akan membuatmu jadi cacat Ibram, kamu mengerti!!" bentak Javis.
"iya ayah iya... maaf deh karena aku terbawa suasana karena kami sedang balapan," jawab Ibram keceplosan.
mendengar itu Javis memiting bocah itu hingga kesakitan, sedang Mei mengajak Satria masuk kedalam warung.
dan kakek yang di tabrak juga di ajak masuk dan di obati oleh karyawan warung sederhana.
__ADS_1