Si Berandal, Milik Meidina

Si Berandal, Milik Meidina
permintaan


__ADS_3

Javis turun di daerah Rosela, dan Iwan melanjutkan perjalanan bersama Dono untuk menuju ke tempat gudang tempat merajang tembakau karena Javis ingin istirahat.


Javis naik ojek untuk menuju ke desa, tapi bukannya pulang, dia malah menuju ke tempat Mei tanpa sadar.


"mas kita sampai di warung mbak Mei," kata tukang ojek itu yang memang tau tempat itu.


"terima kasih bang," kata Javis memberikan uang lima puluh ribu.


"mas uang kecil dong, karena aku belum ada pemasukan dari pagi," kata tukang ojek itu.


"ambil saja Semuanya," jawab Javis yang berjalan ke tempat Mei.


tempat itu sudah tutup, dan saat akan menutup warung miliknya, Mei kaget melihat Javis yang duduk di teras rumahnya.


"loh mas Javis di sini, padahal saya mau antar makan malam ke rumah," kata Mei


pria itu menoleh, dan membuat Mei kaget adalah mata Javis yang merah seperti orang habis menangis.


"mas Javis kenapa, kenapa menangis, aku ambilkan teh hangat ya," kata Mei yang ingin masuk lagi.


tapi Javis menghentikan wanita itu, "duduklah disini sebentar Mei, aku ingin berbicara sesuatu dengan mu," kata pria itu menahan tangan Mei


"ada apa mas? sepertinya sangat penting," kata Mei yang mulai penasaran.


tapi bukan mulai berbicara, Javis malah mengenggam tangan Mei dan mengusap ke wajahnya.


"tolong biarkan sebentar saja, aku sedang merindukan ibuku," gumam Javis.

__ADS_1


Mei pun menyentuh wajah Javis, "mas Javis bisa cerita apapun, aku akan mendengarkannya," kata Mei.


mendengar itu Javis malah tidur di pangkuan Mei, "aku merasa hidupku begitu rumit, apa aku tak boleh bahagia..." tangisnya.


"mas tentu saja boleh bahagia," kata Mei yang mengusap rambut Javis dengan lembut.


Mei tak tau jika yang di pangkuannya saat ini adalah seorang pria berdarah dingin yang tak sengan membunuh musuhnya.


"tapi aku harus bagaimana agar bisa bahagia?" tanya Javis yang kini duduk menatap Mei.


"lakukan apapun yang kamu sukai mas, jangan merasa takut,dan lakukan semua dengan ikhlas," kata Mei.


"maukah kamu menikah dengan ku?" tanya Javis.


"apa? mas Javis sedang demam, kenapa mengatakan hal mustahil itu?" tanya Mei kaget, dia takut jika pendengarannya salah.


"mas Javis sedang sedih, tolong jangan bercanda, mas sempurna pasti banyak wanita yang menyukai mas Javis, kenapa harus saya yang cacat ini," kata Mei tersenyum.


"kamu itu sempurna Mei, aku ingin punya istri yang bisa membuatku berdebar, dan merasa ingin melindungi, dan saat melihat mu luka waktu itu, rasanya emosiku meledak," kata Javis menyentuh sudut bibir wanita itu.


"tidak mas, maaf tapi aku tak ingin menikah," kata Mei yang mengejutkan Javis.


"tapi kenapa?"


"maaf aku tak bisa memberitahumu, aku permisi mas, dan sebentar lagi cak Topan datang mengambil makan malam dan mas bisa pulang bersamannya," kata Mei.


ternyata benar, Topan datang dan Javis terpaksa ikut pulang dengan anak buahnya itu.

__ADS_1


dia tak mengira jika tembok pertahanan dari Mei begitu tinggi, bahkan dia sudah melihat sisi lemah Javis pun tak membuatnya tergerak.


Mei pun menutup pintu rumahnya, dan memilih menangis di baliknya.


dia menyentuh lengannya, bahkan perasaan aman itu masih terasa, bagaimana Javis merangkulnya kemarin lalu.


"aku tak boleh serakah, aku harus ingat kondisiku, kenapa aku harus mengalami semuanya seperti ini, apa nasib mengutukku, padahal aku tak pernah meminta apapun dari kecil," gumamnya.


ya setelah kejadian begal itu, Mei terus memimpikan sosok Javis yang begitu sempurna.


pria yang begitu baik dan sangat memberikan rasa nyaman, tapi Semuanya seperti mimpi untuknya.


"tidak boleh serakah...." tangisnya pilu.


Javis sampai di rumah dan menaruh wadah makanan itu di meja, "loh bos baru pulang, mampir kemana tadi?" tanya Iwan yang susah sampai rumah.


bukan menjawab, Javis langsung nyelonong pergi meninggalkan semuanya.


dia pun duduk bersandar ke pintu setelah mengunci pintu kamarnya itu.


"aku hanya ingin bertanggung jawab padamu Mei... aku baru tau jika kamu korban kegilaan kakek tua itu, kamu bahkan harus menderita seumur hidup mu, jadi aku ingin membaginya sedikit saja dengan ku, tapi kenapa kamu begitu keras," gumam Javis.


dia mutuskan untuk mandi karena badannya sangat lengket karena keringat.


kepalanya terasa berat, Karena semua yang dia hadapi seharian ini, mulai dari masalah Sahara.


dan di tambah Mei yang menolaknya, "seharusnya kamu mengatakan dari dulu yok, sehingga aku bisa lebih awal menyadarinya dan bertanggung jawab," gumam Javis yang memejamkan matanya karena begitu berat.

__ADS_1


__ADS_2