
Javis yang sudah tau semuanya, tak bisa bicara pada istrinya tentang kerja sambilan Nurul, pasalnya Mei harus tenang dan tak boleh stress.
tapi yang dia takutkan adalah, Lukman yang ingin menjadikan wanita itu pasangan hidupnya.
truk sampai di gudang dan saat Javis turun, Adi membawa truk itu ke gudang penjemuran.
Javis melihat Lukman dan Topan ada di gudang saat ini, "aku ingin penjelasan mu Lukman, aku belum sepenuhnya menerima ucapan mu di sambungan telepon,"
"tentu bos," Lukman pun duduk berhadapan dengan Javis.
pria itu tak terlihat takut sedikitpun, dan menjelaskan semuanya.
"kamu yakin hanya membantunya, karena kamu tau benar jika aku tak ingin ada masalah di kemudian hari pada kalian," terang Javis.
"yakin bos, terlebih aku juga tak berminat untuk bersamanya, hanya ingin menolongnya, dan yang terpenting Bu bos juga sekarang membuka cafe di warung saat malam, jadi dia bisa bekerja disana bukan,"
"baguslah kalau begitu, aku ada beberapa kandidat untuk kalian, temui mereka jika mau, jika tidak silahkan mencari kekasih kalian sendiri,"
"baik bos Javis, kami akan putuskan saat bos pulang dari Samarinda," kata Lukman dan Topan.
"baiklah, kalau begitu aku pulang karena besok aku harus terbang ke kota itu," jawab Javis yang mengendarai mobil miliknya
dia pun pulang dengan perasaan lega, terlebih setelah mendengar jawaban dari Lukman.
bukan Javis sok suci dan melarang orang kepercayaannya menikah, tapi tentu setiap orang dapat memilik pasangan yang terbaik.
Lukman hanya menghela nafas, dia tak mengira jika Javis begitu menghawatirkan setiap anak buahnya.
"kamu lihat, bos bahkan langsung tau apa yang kita lakukan," kata Topan.
"aku tau, memang kejadian tadi sedikit berlebihan,tapi aku hanya melakukannya murni ingin menolong Nurul agar bisa hidup dengan baik, itu saja," kata Lukman menikmati setiap hisapan rokoknya.
Javis sampai di rumah, dan sudah sangat malam, dia pun masuk dengan kunci cadangan yang di bawa.
ternyata Mei masih menunggunya sambil menonton tv, "kamu belum tidur sayang?"
"aku menunggu mas pulang, bagaimana pekerjaannya?"
"semuanya berjalan lancar dan aman, dan lagi seharusnya kamu tidur karena besok akan jadi waktu kita yang cukup merepotkan, karna perjalanan jauh,"terang Javis.
__ADS_1
"tak masalah,mas mandi dulu biar aku buatkan makanan sebentar," kata mei dengan lembut.
"nasi goreng ayam ya sayang,aku sedang ingin nasi goreng buatan mu," kata Javis mengusap pipi istrinya.
"tentu mas,"
Mei sibuk menyiapkan bumbu untuk nasi goreng Jawa, dan tak lupa mengiris beberapa daging ayam yang juga sudah ada di kulkas.
tak lupa juga menyiapkan telur ceplok dua buah untuk Javis, Mei membuat cukup banyak karena dia sendiri belum makan.
Javis duduk dan kaget saat melihat porsi nasi goreng itu, "kamu belum makan?"
"belum mas, kan nunggu mas Javis pulang agar bisa makan bareng," terang Mei
"dasar kamu ini, baiklah sayang ayo kita makan," kata Javis yang menyuapi Mei.
begitupun Mei yang menyuapi suaminya itu, bahkan pria itu sangat lahap makan masakan istrinya.
setelah selesai, kini giliran Javis yang mencuci piring, dan setelah itu ikut duduk menonton tv.
tak lama tiba-tiba ada sebuah pesan Madik kedalam ponselnya, ternyata itu pesan dari Iwan dan Deny.
membaca itu, dia harus segera pergi,"sayang aku pergi sebentar ya, sepertinya ada masalah dengan anak-anak di gudang,"
"tapi mas, ini sudah malam," kata Mei bingung kan suaminya baru pulang.
"tapi maaf ini penting, kamu tidur dulu, dan pastikan semua pintu di kunci," kata Javis yang mencium kening Mei dan langsung bergegas pergi.
Mei pun hanya menghela nafas, sedang habis sudah pergi ke basecamp miliknya, ternyata semua anak buahnya sudah berkumpul.
"ada apa? kenapa kalian meminta siaga empat," marah Javis yang panik karena dari pagi tak ada laporan apapun
"bos ada transaksi besar, dan semua geng bersiap menyerang, jika kita bisa menyelinap dan mengambil transaksi itu, bukankah itu menguntungkan kita," kata Deny
"kamu yakin ini bukan pancingan untuk menangkap kita, kakuntau kita sudah menyingung tiga geng paling besar di kota sebelah. kalian masih tidak cari aman saja, toh semua harta kalian juga cukup di makan anak cucu kalian," kata Javis dingin.
"tapi ini yang bertransaksi adalah kang carok, aku tau dari anak buah geng naga api,"
mendengar itu Javis kaget, bukankah kakek dari istrinya susah meninggal, terus siapa yang berani mengaku sebagai kang carok.
__ADS_1
"kalau usul ku kita tak usah terlibat, karena ini pertarungan antar geng besar di kota, dan Deny kamu jangan maruk, kamu tak takut jika kamu mati dan menjadikan istrimu janda muda dengan harta tinggalan mu, dan akan di nikahi pria lain, aduh... kasihan," ledek Iwan.
"iya juga sih, gak usah deh bos, bos juga pengantin baru, takutnya kenapa-kenapa kasihan Bu bos,"
"tidak kita berangkatkan, karena aku penasaran siapa yang berani mengunakan nama kang carok untuk transaksi besar ini," kata Javis yang terlanjur ingin tahu.
mereka langsung memutuskan berganti baju, Fery dan topan menatap Deny dan memberikan pukulan di kepala.
"dasar gemblung..." kesalnya.
"ya maaf deh... aku cuma kasih info," kata Deny.
"tapi info mu bikin Ki semua sudah geblek, sudahlah aku akan bersiap, kalian juga siapkan senjata," kata Topan.
mereka semua soal dengan topeng yang di kenakan untuk menyembunyikan penampilan yang sesungguhnya.
setelah itu mereka berangkat dengan motor modifikasi yang bisa berlari kencang.
seseorang sudah duduk santai di sebuah dahan pohon untuk mengawasi semuanya.
tak butuh waktu lama, ketiga geng itu datang dengan perwakilannya, geng naga api dengan Reihan dan seorang wanita, geng macan merah ada Niko dan seorang wanita berjilbab.
sedang dari geng serigala merah, ada Felix dan Juan, keduanya adalah petinggi geng itu, "kamu bisa keluar sekarang," perintah seseorang yang mengatur kang carok.
lima orang berpakaian serba hitam datang dengan membawa lima tas berwarna hitam,
"selamat datang, kalian ingin apa yang kami bawa, atau ingin menjadi pengikut kami," kata kelima pria itu.
"kami tak Sudi menjadi pengikut kalian,karena kalian lah yang akan jadi bawahan kami, ha-ha-ha," kata Juan dari serigala merah.
"tutup mulut mu, atau kau mati," ancam pria itu berpakaian hitam itu.
orang yang mengawasi pun melihat ada beberapa semak yang aneh,"ada yang bersembunyi, keluarlah, ikut transaksi, atau kami akan membunuh mu,"
terpaksa Javis pun keluar bersama dengan para anak buahnya, sosok yang mengendalikan kang carok tersenyum.
"Berandal akhirnya menunjukkan diri," gumamnya.
dia tak mengira jika transaksi ini benar-benar memancing geng baru yang sudah menghancurkan beberapa geng lama itu untuk datang.
__ADS_1