Si Berandal, Milik Meidina

Si Berandal, Milik Meidina
sosok Mei yang sesungguhnya


__ADS_3

Mei sudah selesai membuat masakan, ya wanita itu dari tadi sibuk di dapur.


"loh cak Iwan pulang sendiri, mana Wenda," tanya Mei melihat pria itu.


"udah di bawa lari sama tunangannya Bu bos, aku tak bisa menahan orang yang tak mencintaiku bukan," jawab Iwan.


"baiklah, sudah-sudah kalau begitu mari makan mie dulu yuk, aku buat mie nyemek terus aku ambil sayur di belakang rumah tak papa kan?" tanya Mei.


"tentu Bu bos," jawab mereka senang.


mereka pun berlari ke belakang, sedang Javis merasa seperti mengurus lima anak bocah kalau seperti ini.


"kamu seperti ibu lima anak,"


"kalau begitu anda ayahnya dong," kata Mei tersenyum.


mereka pun kaget melihat meja makan full dengan semua makanan, pasalnya yang di maksud mie nyemek itu memang ada tapi sampingnya cukup banyak.


mulai dari ayam goreng tepung dan sambal, bahkan goreng tempe tahu dan lalapan.


"selamat makan Semuanya," kata Mei


sedang di tempat lain, kini Wenda sudah bersiap pergi dengan Candra, mereka memilih pergi ke luar Jawa.


Candra senang bisa bersama dengan Wenda, bukan karena apa,yang sebenarnya adalah dia menyukai Wenda, karena gadis itu bodoh dan buta, karena tak bisa melihat sosok pria yang dia cintai.


"kita akan bahagia kan mas?" tanya Wenda.


"pasti, kita pasti bahagia," Jawabnya.


Yuni dan Deny baru pulang ke rumah saat semua sedang makan, "wah ada Bu bos, sudah lama?" tanya Deny.


"ya gak juga, kalian makan juga gih aku sudah mask, oh ya Yuni tolong cari orang lagi karena Wenda sudah pergi," kata Mei santai duduk berdampingan dengan suaminya.


"loh memang dia pergi kemana Bu bos?" tanya Yuni merasa aneh


"dia pergi dengan kekasihnya, siapa itu emm... mas Candra," kata Mei.


"dasar wanita bodoh, padahal Candra itu orang yang kejam loh, sudahlah aku tak peduli, dia memang sulit di bilangin," kesal gadis itu.


semua pun melihat ke arah Yuni, "sudah tak usah di bahas, sudah makan sana," kata Javis.


dia malas harus membahas masalah seperti itu, "Yuni ayo ke warung yang baru, semuanya tolong bantuannya," kata Mei.


"kan perasaan ku benar nih, tumben-tumbenan nih pak bos gak marah saat istrinya masak untuk kita, ternyata mau di suruh kerja," kata Lukman.


"sudah berangkat sana, nanti juga di kasih uang lembur," kata Javis.

__ADS_1


"siap bos," jawab mereka semua.


tak butuh waktu lama, rombongan mereka pun berangkat ke tempat yang di maksud, sesampainya di sana, mereka membantu merapikan.


meski besok tak langsung jualan, Mei harus mengisi warung itu dengan semua stok makanan dan barang.


jadi saat yang lain memasang banner dan memperbaiki listrik dan lampu.


Mei pergi ke swalayan yang cukup besar di kota bersama Yuni, dan para suami masing-masing.


mereka membeli semua barang yang akan di gunakan di warung, dan juga berbagai jenis bumbu masakan.


setelah selesai belanja, mereka menuju ke beberapa toko penjualan bahan-bahan kue.


tempat warung Mei ini berada di jajaran ruko yang memang sengaja di bangun untuk menunjang para pelaku UMKM.


yang sebenarnya itu adalah milik Javis, tapi di urus oleh Nugi sebagai orang kepercayaan pria itu.


dan warung Mei menempati dua ruko, dan di sebelah rukonya itu ada penjual bakso yang terkenal jahat.


"aduh kalian ini ganggu orang saja ya, seharusnya itu nunggu kami tutup baru renovasi," ketus pedagang bakso itu.


"aduh mbak Winda, jangan ketus begitu loh, toh warung mbak juga tak ada pembeli loh," kata Nugi yang salah bicara.


"kamu menyumpahi warung ku, dasar kasar sekali kamu cak, lihat saja aku akan melaporkan mu pada mas Javis," ancam wanita itu.


"ya kenal dong, dia kan calon suamiku," kata wanita itu sombong.


"mampus, bisa di gorok nih sama Bu bos kalau ketahuan pak bos mau kawin lagi," kata Fery tertawa geli.


"kamu bilang apa, cih... tak Sudi aku mengurusi kalian," kata Winda dengan sombong.


Warung itu terlihat makin bagus saat malam hari karena di tambah lampu seperti kafe-kafe kekinian.


dan tak lupa mereka juga memang pembatas agar tak terjadi sesuatu yang tak di inginkan, terlebih pemilik ruko sebelah yang cerewet dan menyebalkan.


pembatas itu di gunakan sebuah pagar kayu yang di berikan tanaman bunga agar terlihat indah.


dan terlihat suasana warung sangat nyaman. dan untuk parkiran mobil ada di sebrang jalan.


Javis memang senjaga membuat tempat itu karena dia ingin warga bisa mandiri.


mobil Javis sampai di warung, tapi dia heran saat melihat para anak buahnya yang melihat dirinya dengan senyum menyebalkan.


"kenapa kalian? kesambet setan sini," ketus Javis.


"mas..."

__ADS_1


"habis muka mereka ngeselin dek," kata Javis.


"kan pak bos mau nikah lagi," kata Fery dengan keras.


"dancok, lambemu njaluk di papras tha?"


"mas yang sabar, cak Fery kenapa ngomong begitu?" tanya Mei bingung.


"itu, pemilik warung sebelah bilang katanya mau di nikahin sama bos habis, bahkan saya saja di ancam akan di adukan," kata Nugi.


Mei penasaran dan melihat warung sebelah, ternyata ada seorang wanita yang duduk sambil bermain ponsel.


"maaf apa anda pemilik warung ini?" tanya Mei sopan.


"iya kenapa, tak suka hah, jangan ngelunjak sama kayak semua pria busuk itu ya, aku kasih tau kalau aku itu calon istrinya pemilik tempat ini," kata Wenda sombong.


"aku gak kenal," bantah Javis.


"siapa kamu, kamu itu jangan ngaku-ngaku, lihatlah calon suamiku sudah datang, lihat saja kalian pasti habis," kata Wenda yang berlari ke arah mobil yang berhenti di depan tempat itu.


Javis dan seluruh anak buahnya penasaran siapa yang berani mengunakan nama Javis untuk menarik wanita.


sosok pria itu muncul dan langsung mengundang gelak tawa semua anak buah Javis.


"sayang lihatlah, mereka menertawakan ku, karena aku bilang sebagai calon istrimu,"


"sudah tak usah sedih, aku akan membungkam mereka dengan uang ku, mereka tak tau siapa yang mereka hadapi," kata pria tinggi semampai itu, (semester tak sampai itu).


Javis marah besar, dia ingin sekali membunuh pria itu, tapi Mei berhasil mencegah Suaminya itu.


"tunggu sayang ku, kita lihat dulu..." bisik Mei.


"tapi dia sudah berani mengunakan namaku sayang," bisik Javis memeluk Mei.


"aku tau, dan aku juga marah," kata Mei menatap tajam ke arah pria itu.


"hei kalian semua, berani-beraninya menyakiti dan membuat sedih calon istriku, eh Nugi kamu itu jadi orang ku tak becus ya," kata pria itu menunjuk Nugi.


Mei melihat Nugi yang nampak takut, "kalau begitu, jika kamu benar Javis Priyambudi, tunjukkan buktinya, aku dengar dia adalah pria yang sarkas dan tak kenal ampun," kata Mei menantang pria itu.


"tidak perlu melawan wanita, karena aku tak menyakiti wanita, terlebih wanita cacat seperti mu," ejeknya.


dia dan Wenda tertawa mendengarnya, Javis marah dan ingin menghajar pria itu.


tapi dia di tahan oleh Mei, "jadi seharusnya kamu tak mengusik wanita cacat ini," kata Mei yang marah karena ada yang berani mengaku-ngaku sebagai suaminya.


dia menghampiri pria itu dan langsung menonjok wajahnya dan menjambak rambut wanita itu dan membenamkan wajah Wanita itu ke kubangan air bekas hujan.

__ADS_1


"kalian kira aku akan terus menunduk takut saat di hina, kalian salah besar," marah Mei.


__ADS_2