Si Berandal, Milik Meidina

Si Berandal, Milik Meidina
resmi sayang


__ADS_3

tak terasa sudah tiga hari, sekarang mereka sedang menyiapkan semua pernikahan mereka.


seperti pagi ini, Mei sudah memakai kebaya yang baru selesai di buat, dan dia sudah terlihat cantik dengan tampilan sederhana.


sedang Javis membuat make up artist ikut bingung melihat pria itu yang dari tadi tak bisa diam.


pasang dia terus bergerak tak jelas karena gugup.


"maaf pak bos, bisakah anda diam, kenapa dari tadi terus bolak balik, kami yang lihat ikut pusing," kata penata rias itu.


"maaf ya mbak, saya sedang sangat tegang, huh... sayang kamu tak deg-degan?" tanya pria itu.


"tidak sayang, memang kenapa harus deg-degan, ada yang salah?" tanya Mei yang membuat Javis kesal.


"kamu meledek apa gimana sih sayang, kenapa setenang itu padahal aku sudah tak bisa tidur tau," protes pria itu.


"mas, coba tenangkan diri, kemudian ambil nafas dalam-dalam, bismilah ya sayang," kata Mei tersenyum membuat pria itu tenang.


Javis langsung ke depan setelah memakai setelah jas miliknya, di depan rumah Mei sudah ada pelaminan sederhana.


dia duduk menghadap penghulu dan siap untuk melakukan ijab Kabul. Mei datang dan duduk di samping calon mempelai pria.


Javis tersenyum, dan sekarang mari minta izin untuk pakde mau menjadi wali nikahnya.


"baiklah, pernikahan sudah bisa di mulai, mas Javis tolong jabat tangan bapak," kata pakde


akhirnya pernikahan itu berjalan dengan sangat baik dan khidmat, setelah acara akad nikah ada acara resepsi kecil-kecilan.


semua kenalan dan teman dari kedua mempelai datang untuk mengucapkan selamat hari bahagia.


tapi di tengah-tengah pesta, tanpa di duga seseorang muncul mengejutkan semua orang.


itu adalah adik dari juragan Supono, dia juga kaget kenapa ada pesta di rumah bos Javis dan istri.


Deny langsung menghampiri pria itu, dan menjelaskan, akhirnya pria itu kembali pergi karena besok Javis yang akan menemuinya.

__ADS_1


"ada urusan apa mas?"


"tidak ada, hanya sedikit masalah pekerjaan, kamu kan tau jika suami ini orang sibuk dan terkenal," jar Javis dengan sangat percaya diri.


"memang iya, aku tak tau tuh," kata Mei tertawa.


acara pun selesai pas jam enam sore karena Javis tak mau acara itu membuat istrinya lelah.


Mei sudah selesai berganti baju begitupun dengan Javis. mereka pun duduk bersama untuk berbincang.


sedang di luar para pekerja sedang membereskan dekorasi, setelah selesai mereka pamit pulang dan tak lupa membawa makanan dan kue.


"jadi besok pakde pulang, terus kapan kesini lagi," kata Mei sedih


"ya kamu nduk yang main ke sana, oh ya nak Javis Jan juga punya usaha di sana, coba pas kunjungan ke sana, ajak istrimu biar bisa ketemu sepupunya juga, boleh?" tanya pakde


"iya pakde, insyaallah bulan depan kami ke sana karena sudah waktunya kunjungan juga," jawab Javis.


"bagus, sekarang Mei harus menuruti semua perkataan suaminya, ingat sekarang dia itu imam mu, ya nduk,"


"inggeh bude,"


tapi saat di jalan mereka kaget karena melihat ada beberapa orang sedang tidur di jalan.


"hei kalau mau membuat masalah minggir deh,"


benar saja mereka adalah begal, tapi mereka salah sasaran. masak mereka berani membegal komplotan berandal keji.


"serahkan semua uang dan sepeda motor kalian," kata pembegal itu.


pria itu mengacungkan sebuah parang ke depan wajah Deni dan Iwan.


prak...


tiba-tiba salah satu kepala pembegal itu putus, dan dengan senyum mengerikan Topan melihat semua orang.

__ADS_1


"kelepasan," katanya dengan senyuman.


Adi juga sudah memutar salah satu kepala begal hingga patah dan tewas dengan tak berdaya.


"upps... tangan ku nakal, huh..." kata pria itu.


tiba-tiba sebuah kepala kembali mengelinding ke arah kedua pria itu, "uhuy.... clurit baru Cok, ternyata enak buat tebas kepala orang," kata Iwan tertawa.


niat hati ingin membegal, tapi malah mereka yang sekarang di bantai dan ketakutan.


"ampun om... kami cuma mau minta uang buat minum.." tangis mereka.


"tapi sayangnya aku tak peduli, kalian berulah jadi kami juga bertingkah..." kata Deny yang langsung membuat mata kedua pria itu buta.


saat pria itu berteriak, dia langsung memukulnya hingga pingsan, tak lama semuanya pun mengalami hal buruk.


sepuluh pria habis melawan keenam orang itu, "aduh sialan, baju batik baru, malah kotor dengan darah, ini gimana," omel Deny.


"tinggal di Cuci seperti biasa," kata Iwan santai.


toh biasanya dia uang bagian loundry seperti itu, jika baru melakukan hal buruk dan baju mereka kotor.


sesampainya di rumah, mereka langsung mengumpulkan semua baju jadi satu dan merendamnya dalam bak yang sudah di beri obat agar mudah di cuci.


sedang di rumah Mei, kedua pengantin baru itu sedang tidur berdua.


mereka belum sempat melakukan malam pertama karena kesibukan dan juga karena rumah sangat ramai.


tapi Javis sering tidur tanpa mengenakan baju karena gerah, sedang Mei masih tidur dengan baju lengkap.


"sayang kamu tak gerah tidur dengan baju begitu, kita sudah sah loh secara agama dan negara,"


"maaf tapi aku terbiasa seperti ini,"


"tapi aku yang gerah melihatnya,"

__ADS_1


Mei hanya tertawa, "sudah bantu aku mengobati luka ku ya mas, sepertinya akan segera sembuh karena salep dan perawatan itu sangat baik," kata Mei.


"tentu sayang... tentu..." jawab Javis.


__ADS_2