
pria itu pun di buang di luar kota begitu saja, Wenda tak mengira jika semua anak buah dari bos Javis begitu kejam.
tapi kenapa jika dengan para wanita yang di cintai, kekejaman itu seperti tak terlihat dan cenderung sangat manis.
bahkan itulah yang di rasakan oleh Wenda saat bersama Iwan, tapi di sudah tak terkejut karena sudah tau semuanya sekarang.
setelah membereskan cecurut itu, mereka pulang dulu untuk istirahat dan besok baru rombak total kinerja di tempat usaha.
sedang untuk uang ternyata pria itu menyimpan uang cukup banyak, dan ketahuan mengelapkan keuangan toko.
jadi mereka membagi harta pria itu untuk melunasi semua perbuatan dan apa yang telah dia curi, dan batu mengembalikannya pada Javis.
mereka benar-benar sangat hebat, salam semalam Iwan dan Wenda menyelesaikan semuanya.
Iwan pun yang melihat Wenda ketiduran di ruang tamu merasa kasihan.
dia pun membawa wanita itu ke kamarnya dan menaruhnya di sana, dan saat akan pergi Wenda menahannya.
Iwan pun terpana melihat wajah wanita itu dari dekat, hingga akhirnya mereka berdua tertidur bersama.
pagi hari, tiba-tiba Mei merasakan ada yang aneh di perutnya, saat sedang memasak tiba-tiba dia mengeluarkan air ketuban.
padahal usia kandungannya masih tujuh bulan, "mas!! tolong!!" teriaknya sambil menangis.
Javis yang baru membuka laptopnya kaget dan langsung berlari keluar rumah.
dia kaget melihat istrinya itu berdiri sambil memegangi perutnya, melihat itu Javis langsung mengendong Mei dan segera membawanya ke rumah sakit terdekat.
"dokter tolong istri saya," panik Javis.
"tolong baringkan di ranjang pak," kata salah satu suster.
Mei pun langsung di bawa ke ruang intensif, dan dokter sedang memeriksa kondisi Mei dan calon bayi di kandungannya.
"minta persetujuan suami pasien, kita harus melakukan operasi sesar untuk menyelamatkan nyawa ibu dan bayinya," kata dokter tegas.
"baik dokter," jawab mereka.
Javis pun lemas seketika saat mendengar apa yang di alami istrinya dan calon putri kecilnya.
dia tak bisa menyetujuinya, dan operasi pun bisa di lakukan dengan segera.
__ADS_1
Javis duduk di depan ruang operasi, dan dia sudah meminta tolong Deny dan Yuni untuk mengambilkan baju yang sudah di siapkan oleh Mei.
"dokter boleh suamiku kedalam sini, saya ingin dia melihat putri kecilnya, karena dia sangat menginginkan bayi mungil kami," kata Mei yang sebelum di bius.
"baiklah, suster tolong panggil suami pasien untuk menemani ibu operasi," kata dokter.
Javis sudah memakai baju khusus dan langsung menuju ke ruang operasi, dan langsung mengenggam tangan istrinya.
"sayang kuat ya," kata Javis.
"tolong baca sholawat untuk ku," mohon Wulan lirih.
Javis mulai membaca sholawat Jibril, hingga tanpa di sadari mereka, bayi kecil mereka akhirnya bisa di lahirkan dengan selamat.
suara tangisan bayi mungil itu memenuhi ruangan operasi, sedang Javis memeluk istrinya erat.
"pak ini bayinya," kata suster yang memberikan bayi itu pada Javis.
tapi Javis terus memeluk Mei sambil terisak, bahkan dokter pun mengerti, "aku gak mau punya anak lagi sayang, aku tak mau melihat mu seperti ini," tangis Javis.
"tenang mas, aku tak apa-apa, jadi jangan berlebihan," kata pria itu.
Mei sudah di pindahkan ke ruang rawat inap sedang bayinya masih berada di ruang khusus.
"selamat Bu bos, tapi jebakan lahirannya jadi maju," bingung Yuni.
"dia mengalami pendarahan karena lelah, itulah kenapa dokter menyuruhnya beristirahat, tapi tak masalah bayi kami lahir dengan selamat," kata Javis.
"maaf ya ayah," kata Mei tersenyum ke arah Javis.
"baiklah, ayah memaafkan bunda karena ibu sudah melahirkan putri kita dengan selamat,"
Yuni di bantu Risa menyiapkan semua keperluan acara brokohan untuk mengucapkan syukur atas kelahiran putri Javis.
sedang di rumah Iwan, websa kaget saat membuka mata, ternyata pria itu tidur satu ranjang dengannya.
Wenda pura-pura tidur, saat melihat Iwan bangun karena ponselnya berdering.
dia pun menjawab panggilan itu, ternyata dia langsung bangun saat mendengar Mei melahirkan.
"apa? Bu bos melahirkan, bagaimana bisa, bukannya usia kandungan Bu bos baru tujuh bulan," kata Iwan yang membuat Wenda bangun.
__ADS_1
Iwan pun mematikan telponnya setelah mendapatkan jawaban dari Deny.
"ada apa mas?"
"Bu bos baru saja melahirkan, dan kata anak-anak,beliau melahirkan secara sesar dan juga karena Bu bos kelelahan,"
"Baiklah mas, jika urusan selesai kita bisa pulang," kata Iwan.
mereka bangkit dan saling berpisah untuk siap-siap menjalankan aktifitas masing-masing.
sedang di rumah sakit, Javis tak percaya dengan apa yang di rasakan.
dia tak menyangka benar-benar menjadi seorang ayah saat ini, putri kecilnya sedang tidur saat seorang suster mengantarkannya.
"sayang... lihatlah betapa kecil tangan putri kita, apa tak masalah dia sekecil ini?"
"Ita mas tak masalah, tapi apa mas sudah mencarikan nama untuk gadis cantik kecil kita ini, ya masak Iya kita memanggilnya Cece terus," kata Mei protes.
"iya sayang, tapi aku masih mencari nama yang bagus untuk putri kita, bagaimana mana pun tak boleh sembarangan memberikan nama," kata Javis yang mengusap kepala Mei
"baiklah ayah, aku tunggu nama yang kamu Carikan ya," kata Mei tersenyum kearah suaminya itu.
sedang di tempat Fery dan Eka, keduanya pun langsung bersorak senang karena Eka akhirnya hamil.
setelah menunggu beberapa bulan, akhirnya keduanya hamil, bahkan menurut USG sudah sembilan Minggu usia bayi di dalam perut Eka.
"Alhamdulillah sayang, akhirnya kita ada punya bayi lagi, dan Fiki akan segera punya adik baru," kata Fery dengan senang hati.
"iya mas," jawab Eka dengan senang hati.
sebenarnya Eka khawatir saat Fery ingin memiliki anak lagi, tapi beruntung pria itu berhasil meyakinkan Eka jika tak akan ada kasih sayang yang terbagi.
untuk Fiki ataupun adiknya nanti, karena itu janji Fery pada Eka, bahkan saat ini Fery begitu senang begitupun dengan Fiki yang akan punya adik lagi.
tak terasa sudah lima hari Mei di rawat dengan intensif di rumah sakit, dan sekarang sudah di izinkan pulang oleh dokter begitupun dengan putrinya.
Lukman dan Topan yang menjemput keduanya dari rumah sakit, dan ternyata saat sampai di rumah.
sudah ada Iwan dan Wenda yang mengejutkan semuanya,bahkan ayu tak mengira jika Iwan bisa sedekat itu dengan seorang wanita.
bahkan dulu dirinya yang jadi kekasih Iwan saja tak pernah melihat pria itu seramah itu padanya.
__ADS_1