Si Berandal, Milik Meidina

Si Berandal, Milik Meidina
tak terasa


__ADS_3

Javis terkejut karena sebuah tangan memeluk kakinya, "yah..." suara lembut dan ceria.


"aduh siapa ya, kok gak kelihatan sih," kata Javis pura-pura mencari sumber suara itu.


"ya yah... da ini Eca," suara itu semakin kencang.


Deny tersenyum melihat sosok gadis kecil dengan jilbab berwarna merah muda.


"bos," kata Deny menunjuk sosok kecil itu.


"oh ada Lessa, sama siapa nduk," tanya Javis yang mengendong putrinya yang sudah berusia tiga tahun.


"eca ma nda yah,"


"terus bundanya mana kok sendirian kesini sayang," tanya Javis.


"nda Li es tung tung," jawab Lessa dengan bibirnya maju semakin membuat Javis gemas pada putrinya itu.


dia bahkan mencium pipi putrinya Lessa yang mengenaskan.


dari kejauhan ternyata benar ada Mei dan Yuni datang sambil membawa es nung-nung.


terlihat dua wanita itu datang dengan perut yang sama-sama besarnya.


"aduh aduh aduh, Deny ambil kursi itu kasihan dua wanita hamil besar, kalah jauh-jauh kemari," kata Javis melihat istrinya.


"Monggo Bu bos, anda kok datang kesini?" tanya Deny yang menyiapkan kursi.


"aku hanya ingin melihat, apa kalian benar-benar ada disini untuk kerja bakti, lagi pula ada beberapa jajanan untuk semua orang, Monggo..." kata Mei.


ternyata ada penjual nasi pecel dan ada penjual es yang datang ke tempat para warga sedang kerja bakti.


"terima kasih Bu bos," kata semua orang.


semua orang merasa senang karena mendapatkan makanan gratis dari keluarga Javis yang terkenal sangat dermawan.


sedang Mei memberikan es krim pada Javis, "sayang tolong suapi putri mu, jika tidak pasti nanti belepotan,"


"tidak akan sayang, Lessa bisa makan sendiri ya," kata Javis pada putri kecilnya itu.


gadis itu mengangguk dan duduk di samping Mei, Javis mengusap perut Mei dan kemudian mengecup kening istrinya sebelum bergabung dengan bapak-bapak yang sedang menikmati makanan.


"mbak bos, nanti anak kita akan seumuran semua ya, Risa, aku dan Mbak," kata Yuni mengusap perutnya yang sudah sangat besar.


"iya Yuni, tapi Risa duluan, kemudian kamu baru saya, ini juga masih delaian bulan juga usia kandunganku," terang Mei.

__ADS_1


"iya mbak, tapi aku merasa sedih saat ingat bagaimana kesedihan dari mbak Eka dan mas Fery," kata Yuni.


"sudah, mereka sudah ikhlas, mungkin mereka belum di percaya sama tuhan, sudah doakan saja semoga mereka cepat menyusul ya," kata Mei yang juga merasa sedih.


pasalnya Eka sudah keguguran empat kali selama tiga tahun ini, bahkan dokter juga tak bisa menjamin dengan obat.


Fery datang dengan seorang wanita, dan wanita itu tampak begitu cantik dan muda.


Javis dan Deny langsung menghampiri wanita itu, dan setelah berbincang sebentar wanita itu langsung pergi lagi bersama dengan Fery.


"mas tadi itu dia siapa? kenapa begitu dekat dengan mas Fery?" tanya Mei.


"sudah tak usah ikut campur, itu semua pilihan mereka sayang," kata Javis yang mengejutkan Mei.


dan Yuni tak percaya dengan apa yang di dengarnya, dia menatap tajam kearah suaminya yang hanya menggerdik kan bahunya.


acara bersih desa berlanjut, Mei mengajak putrinya pulang karena hari makin siang dan Javis berjanji akan pulang.


"nda, ain yuk ke lumah Bu Dian," kata Lessa.


"aduh tidak bisa sayang, ibu Dian sedang berada di Bali, nanti saja ya kalau sudah pulang," jara Mei membujuk putri kecilnya.


"iya," jawab gadis kecil itu dengan sedih.


karena Mei juga sedang butuh, dia menghentikan penjual itu, "permisi Mbah, boleh beli sapunya,"


"boleh neng, lima ribu ya," kata nenek itu dengan tangan yang gemetar.


"Mbah sudah makan?" tanya Mei yang merasa kasihan.


"belum neng, belum ada yang beli Mbah belum bisa beli nasi," jawab wanita sepuh itu.


"Lessa, bunda bisa minta tolong, tolong belikan nasi di warung Bu Iin, beli nasi dan lauk pisah ya," kata Mei memberikan uang


"Aci ampul Ian icah," kata gadis kecil itu.


"iya sayang, nasi campur ikan pisah,"


Lessa langsung berjalan dengan senang menuju ke warung yang di maksud.


sedang Mei menunggui wanita sepuh itu, sambil memilih sapu, dan menawarkan pada beberapa ibu yang bisa mengambilnya secara gratis.


di warung Bu Iin, Lessa masuk dan menarik baju Bu Iin, "Bu, eli aci Ian icah ya,"


"apa, kamu bilang apa?"

__ADS_1


"Eli aci Ian icah," teriak Lessa.


"mau beli nasi, ikan pisah?" kata seorang bapak.


"tul tul,"


"aduh kamu kok gemesin sih neng, mau ikan apa?"


"ayam, ni uang ya," kata Lessa memberikan uang yang di bawanya.


Bu Iin mengambilkan nasi dengan dua ayam dan beberapa lauk yang di pisah dari nasi, setelah itu gdis kecil itu kembali ke arah sang bunda dan tak lupa membawa air mineral juga.


Mei tersenyum melihat gadis kecilnya begitu pintar dan berani, bahkan gadis itu membeli sesuai yang di pesan oleh sang bunda.


"Mbah Monggo makan dulu, biar sekalian nunggu saya di jemput ya," kata Mei yang tersenyum lembut.


"iya neng," jawab wanita tua itu.


ternyata Javis datang membawa mobil dan juga sembako untuk nenek penjual sapu lidi itu.


bahkan mereka mengantar nenek itu pulang ke rumah dan rumahnya ternyata terletak di tiga desa dari desa mereka.


sesampainya di rumah Mbah penjual sapu lidi, mereka kaget melihat rumah repot itu.


yang bahkan sudah hampir roboh, "mbah, ini tinggal bersama siapa Mbah," tanya Javis merasa kasihan.


"Mbah tinggal sendiri nak, karena anak-anak Mbah sudah meninggal dunia semua, dan cucu Mbah juga jauh," jawab wanita itu.


"maaf permisi, apa ada yang bisa membantu Mbah ini," teriak Javis.


beberapa warga datang, "iya mas, ada apa? memang ada apa dengan Mbah Sumi?" tanya seorang pria.


"apa, Mbah Sumi? apa namanya sumiati istri kedua Mbah Joyo?" tanya Javis kaget tak percaya.


"loh mas kok tau mantan suami Mbah Sumi yang orang Probolinggo," tanya bapak-bapak itu.


"Mbah Sumi tak ingat saya, saya Javis putra pak Priyambudi, mantan lurah desa tadi Mbah,"


"gak ileng le, sudah Mbah mau masuk," kata wanita itu.


Javis merasa sedih, ternyata mantan pengasuhnya dulu, sudah sangat tua, dulu wanita itu di usir oleh kakeknya karena kedua orang tuanya mati.


"permisi pak,bisa tolong jaga Mbah Sumi, saya akan sering kesini untuk menengok Mbah, dan ini ada sembako untuk Mbah Sumi," kata Javis yang menitipkan wanita itu.


"iya pak, saya baru ingat panjenengan ini pak Javis orang yang sering bagi-bagi sembako ya, terima kasih loh pak," kata pria itu yang langsung mengiyakan permintaan Javis

__ADS_1


__ADS_2