Si Berandal, Milik Meidina

Si Berandal, Milik Meidina
kisah cinta


__ADS_3

Eka tak menyangka jika pria yang dia sukai begitu mudah mendapatkan perhatian anak dan adik-adiknya.


"wah lihatlah, siapa ini, bukankah mantan istrimu mas, yang tukang perusak rumah tangga orang itu," ejek seorang wanita yang sedang hamil dan seorang pria berkulit hitam.


Eka kaget melihat mantan suami dan istri barunya, yang dulu jadi duri di pernikahannya, "kalian mau apa," ketus Eka.


Fery yang mendengar suara Eka pun kaget, ternyata ada mantan suami dari wanita itu.


"sayang kamu kenapa disana, kemarilah aku ingin kamu memilih baju untuk ibu mertua," panggil Fery.


pasalnya dia melihat semua adik Eka terlihat takut saat melihat pria itu.


"ah iya mas," kata Eka yang mendekat ke arah Fery.


"wah siapa ini, dia kekasih mu, ternyata dia pria miskin ya," ejeknya.


"kenapa semua orang melihat penampilan saja, memang salah ya main ke tempat seperti ini dengan celana pendek, ya setidaknya aku bisa di banggakan karena kulit ku tak gelap dan wajah ku tampan," kata Fery cuek.


mendengar itu, adik dari Eka menahan tawa, bahkan penjual baju itu juga tertawa lirih mendengar ucapan Fery.


"sialan kamu," pria itu mulai terpancing emosi dan mencengkram kaos Fery.


melihat itu, Fiki putra Eka menangis, "brengsek, kamu membuat putra ku menangis," marah Fery yang langsung memutar tangan pria itu hingga kesakitan.


"sayang pegang Fiki sebentar," kata Fery yang tak bisa menahan amarahnya lagi.


"kau ingin di selesaikan dengan jantan, aku turuti sialan, tapi jangan berani menyentuh dan membuat menangis kedua orang yang penting dalam hidup ku," marah Fery mencekik pria itu.


"hei apa yang kamu lakukan, tolong seseorang, pria itu sudah gila ingin membunuh Suamiku," teriak wanita itu.


Eka tak mengira jika Fery begitu menyayangi dirinya dan putranya, bahkan membelanya seperti ini.


"mas Fery jangan mas, jangan mengotori tangan mu," kata Eka mengingatkan pria itu.


"ayah..." kata Fiki.


mendengar panggilan bocah itu, Fery melepaskan cengkraman tangannya.


"ayah..."


"dengar, jika bukan karena Fiki, aku akan membunuh mu sialan," kata Fery menendang pria itu hingga kesakitan.


"sialan," gumamnya.


"mas lebih baik ambil bocah itu, ingat rencana kita," bisik wanita itu mempengaruhi mantan suami Eka.


"iya Fiki ini ayah," kata pria itu bangkit dan mendekat ke arah Eka dan putranya.

__ADS_1


Fery hanya melihat itu dan entahlah kenapa hatinya sakit melihat bocah itu akan dekat dengan dengan ayah kandungnya.


"Ndak... ayah..." tangis Fiki.


"iya ini ayah, ini ayah Indro ayah kandung Fiki," kata pria itu sebisa mungkin membujuk putranya.


tapi Fiki berontak turun dan berlari ke arah Fery dan memeluknya, "ayah..."


Fery kaget, karena mereka baru bertemu tapi bocah itu memanggilnya ayah.


"putra ayah," kata Fery yang langsung mengendong putra Eka.


Eka langsung mundur, "kamu lihat bukan, kamu menyiksaku saat aku hamil Fiki, bahkan kamu tidur dengan wanita itu dan membawanya pulang, kamu begitu kejam, sekarang saat kalian mau punya anak kenapa muncul, kita sudah bercerai, jika kamu jatuh miskin, itu pilihan mu dan jangan menganggu ku," marah Eka


"dasar wanita sialan," maki Indro.


mendengar itu, Fery marah dan langsung menendang pria itu hingga terpental.


"jika kamu tak mau pergi, dan terus membuatku marah, aku akan membuatmu bertemu malaikat maut, pergi brengsek!" maki Fery


Javis dan yang lain memang melihat keributan itu, tapi mereka memilih santai, "Fery jaga perilaku mu, ingat aku malas harus berurusan dengan polisi,"


"tentu bos," jawab Fery.


Mei bangkit dan melihat wanita itu dan mantan suami dari Eka, "kenapa belum pergi, mau anak kalian tak selamat,"


"boleh jujur, dari pada dua lahir dari orang tua seperti kalian bukankah lebih baik mati," kata Mei yang mendekat ke arah Fery yang sedang mengendong Fiki.


"wanita sialan," marah wanita itu.


tanpa di duga, Mei menahan tamparan itu dan mencengkram dagu wanita itu dengan erat.


"kamu tau, aku paling tak suka wanita yang merebut kebahagiaan orang lain, terlebih mbak Eka adalah orang yang ku kenal," marahnya.


bahkan Mei membuat wanita itu kesakitan hingga duduk di tanah, "jadi gunakan otak mu itu, sebelum menyesal,"


akhirnya Mei menunjukkan sisi yang tak lemah dan tangguh, bukan merasa aneh dengan istrinya.


terlihat Javis santai saja melihatnya, "pak bos itu Bu bos?"


"kenapa dia bebas melakukan kesenangannya," kata Javis santai


setelah itu mereka pun pulang.


Fery mengantarkan Eka dan keluarganya pulang, tapi saat Javis dan tiga anak buahnya pulang .


mereka malah mendapatkan telpon mendadak, "iya ada apa Deny," tanya Javis.

__ADS_1


"pak bos tolong kami, kami di balai warga dan tengah di sidang," kata pria itu.


"apa!!" teriak Javis membuat Mei dan yang lain kaget.


"baiklah aku kesana," jawab Javis mematikan telponnya.


"ada apa bos?"


"sekarang Deny dan Iwan ada di balai warga, kita pergi ke sana karena aku takut terjadi sesuatu," terang Javis.


"kita pergi," kata Wulan yang nampak santai.


ya dia sudah tau apa yang dilakukan oleh ke-empatnya, karena beberapa alasan di beberapa desa di lakukan gerebek.


yaitu mencari pasangan muda-mudi yang tengah pacaran di tempat gelap.


kemudian langsung di nikahkan jika usianya sudah matang, dan jika belum maka akan di lakukan denda dan orang tua harus meminta maaf karena kelakuan anak mereka di depan semua warga.


pasalnya beberapa desa ini sudah ada banyak kejadian hamil di luar nikah, jadi warga pun di buat marah.


keempat sepeda motor itu sampai di balai warga desa Temu, saat sampai mereka sudah melihat Iwan dan Deny yang sudah tak bisa apa-apa.


"beh sejak kapan tuh dua orang tak bisa ngelawan gini?" kata Topan.


"tutup mulut kalian, sudah sekarang kita masuk dulu dan tanya sebenarnya ada apa ini," kata Javis.


"itu bos saya dan semua teman kami," kata Iwan melihat Javis dan rombongan.


"selamat malam semuanya, ada apa ini," tanya Javis sopan.


"sebenarnya psk, kami berhasil menangkap keempat orang ini yang sedang pacaran di gelap-gelapan, jadi kami ingin menikahkan mereka," kata kepala dusun.


"lakukan saja, toh mereka juga belum menikah, dan masih singel," jawab Javis santai.


"mas Javis, tunggu dulu pak, Wenda dan Yuni apa kalian mau menikah dengan cak Iwan dan cak Deni," tanya Mei


"mau Bu bis, karena aku mencintai mas Deny," jawab Yuni.


"kalau kamu Wenda,"


"saya bersedia," kata gadis itu.


"tapi... bukankah kamu sudah bertunangan," kata mei mengingatkan gadis itu.


"saya bersedia juga Bu bos," kata Iwan.


sebenarnya dia tadi sudah mendengar semua cerita dari Wenda, karena gadis itu merasa sedih setelah dapat telpon dari tunangannya.

__ADS_1


"kalau begitu nikahkan mereka berempat," kata bos Javis.


__ADS_2