Si Berandal, Milik Meidina

Si Berandal, Milik Meidina
tak ada harapan


__ADS_3

keesokan harinya, Mei merasakan sesuatu, dan dia pun mengigit bibir bawahnya.


"mas..."


"sebentar sayang, lagi pingin," bisik Javis.


pagi itu pun Mei harus pasrah melayani suaminya yang entah dari semalam kesambet setan apa hingga terasa tak ada puasnya.


ponsel Mei berdering tapi mereka tak menggubrisnya, begitupun dengan ponsel Javis.


di rumah lama, para anak buah Javis menghela nafas, "wes bos kumat neh, gak bisa di hubungi begini," kesal Deny.


"kamu itu kenapa se, kok ngomel terus ya biarin dong bos kan masih pengantin baru, oh ya panggil anak-anak ajak sarapan," kata Fery.


"semua kumpul, mau sarapan gak?" panggil Deny.


Yuni pun mengeleng pelan melihat tingkah suaminya itu, tapi mereka harus tetap menjaga kesopanan karena masih tinggal di rumah itu


"jadi kalian gak beli rumah?"


"tidak jadi, kami mau renovasi rumah Mbah saja lebih murah, tapi setelah memastikan jika semua tanah itu milik Mbah Yuni," jawab Deny.


"bagus, kalau Fery mau apa, bukankah calon mu sudah ada, kenapa tak menikah?" tanya Iwan.


"masih belum yakin, mungkin beberapa bulan lagi," jawab pria itu.


"baiklah, semuanya kita sarapan dulu dan sebaiknya setelah itu kita berpencar untuk mulai melakukan bagian masing-masing, tentu kalian tau kan tugasnya apa saja?" tanya Fery.


"tentu, dan Yuni nanti aku antar ke rumah Mbah, kamu pastikan tanya di mana sertifikat tanah karena mas mau bangun, dan yakinkan pada keduanya, mengerti," kata Deny


"iya mas," jawab Yuni.


mereka pun bubar setelah selesai sarapan dan bersiap, mereka langsung menuju ke tempat kerja masing-masing


Fery pun mengambil mobil untuk memuat gabah-gabah yang harus di antar ke salah satu penggilingan terbesar di kota.


sedang Iwan mengawasi panen tebu yang kebetulan sedang dalam puncak panen raya.


Topan dan Adi menuju ke tempat perbaikan mobil dan beruntung mobil-mobil milik Javis sudah ganti cat dan beberapa ada yang di modifikasi.


Javis terbangun dan melihat ponselnya, dia langsung menghubungi Lukman, "apa kamu sudah ada di kebun jeruk untuk panen?" tanya pria itu tanpa basa-basi.


"iya bos sudah sama bang Iwan, kami sudah melakukan tugas masing-masing, karena bos tak bisa di hubungi," jawab pria itu.


"baiklah, panen semua jeruk kemudian bawa ke pabrik sesuai pesanan, mungkin aku baru bisa datang siang," kata Javis yang masuk mengusap punggung istrinya itu.

__ADS_1


entah mulai kapan, punggung istrinya sudah tak sekasar dulu, sekarang bekas luka itu juga perlahan mulai sembuh.


"mas hentikan, kamu mau mengurungku di sini seharian, ayolah aku harus membuat bumbu untuk jualan," gumam Mei yang masih tidur di dada Javis.


"kamu sendiri tak mau bangun sayang," kata Javis tersenyum menggoda.


"bukan tak mau bangun, tapi malas karena kamu," kesal Mei mengerucutkan bibirnya.


Javis pun membuka selimut dan langsung menggendong istrinya itu ke kamar mandi, dan mereka membersihkan diri.


hari ini Javis mengantar Mei ke warung, tapi sebelum itu mereka memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu.


"kita sarapan sate yuk," ajak Javis yang berhenti di depan warung sate.


"mas ini masih pagi, kenapa memilih ini?"


"tak masalah, aku harus punya stamina kuat untuk melayani istriku ini," gumamnya.


"dasar mesum," kesal Mei


mereka berdua turun dan masuk kedalam warung, terlihat cukup ramai meski baru jam sembilan pagi.


"duduk dulu sayang, biar aku yang pesan," kata Javis.


saat Javis sedang memesan, kebetulan ada tukang jamu lewat, "jampi ... jampi.."


"iya Neng, mau jampi nopo?"


"boleh minta kunci suruh di campur sama kunyit asem satu botol ini ya, sama jamu beras kencurnya juga satu botol,"


"iya neng, Alhamdulillah penglaris...." kata penjual jamu itu.


setelah Mei selesai beli, ternyata banyak pelanggan di warung itu yang ikut beli.


Mei duduk menunggu sarapan, Javis melihat ada jamu di meja dan terlihat makin semangat.


"aku memesan sate daging sapi, kan tak baik pagi-pagi makan sate kambing," kata pria itu tersenyum.


"iya mas,"


tak butuh waktu yang lama untuk keduanya sarapan, setelah selesai mereka akan pergi.


Javis masih membayar, sedang Mei melihat beberapa anak pengamen dan pengemis.


dia memanggil para anak jalanan itu dan memberikan uang dua puluh ribu satu anak.

__ADS_1


anak-anak itu pun sangat senang, Javis datang dan mereka pun pergi menuju ke ruko tempat Mei membuka warung yang baru


ternyata Yuni dan Bu Susi sudah datang bersama orang-orang baru yang akan berkerjasama dengan mereka.


"aku pergi dulu ya, karna pekerjaan mas juga banyak," pamit Javis.


"iya mas," jawab Mei.


Javis pun pergi meninggalkan istrinya itu, dan Mei berjalan masuk kedalam ruko yang sekarang sudah sangat bagus itu.


sedang di rumah Latifah, dia kesal karena kesempatan untuk merayu Javis sangat sulit di dapat.


terlebih pria itu sangat mencintai istrinya, bahkan sangat cuek pada orang lain yang menggoda dirinya.


rasanya dia sudah tak sabar untuk bisa menikmati badan memandang puas tubuh pria itu.


"tak bisa begini, aku harus membuatnya bertekuk lutut padaku," gumamnya.


dia pun memutuskan untuk pergi ke dukun langganan miliknya, itu dukun sakti untuk memasang susuk pemikat.


Latifah dapat nomor urut lima sedang di tempat itu ada sosok lain yang juga ingin menambah susuk demi bisa membuat Javis tergila-gila.


dia adalah Winda yang dapat nomor urut dua, dan sedang di dalam ruangan paranormal yang mengaku sakti itu.


"ada apa nduk?" tanya pria yang sudah sepuh itu.


"saya ingin pasang susuk demi membuat seorang pria menyembahku dan meninggalkan istrinya," kata wanita itu.


"wah maharnya mahal," kata dukun itu.


"tak masalah Mbah, asal dia bisa menjadi milikku, terlebih dia itu orang kaya, jadi untuk uang itu mudah Mbah," kata Winda dengan percaya diri.


dukun itu langsung membaca mantra dan meniup asap kemenyan ke arah wajah Winda, kemudian memasukkan duduk jarum emas di beberapa titik, "ingat untuk mandi bunga tujuh rupa, dan sebut nama pria itu,"


"iya mbah," jawab Winda.


wanita itu sudah selesai, sekarang giliran pasien yang lain, saat giliran Latifah pun tiba.


"siang Mbah,"


"loh loh loh, siang Latifah ada apa kesini, dan kapan pulang dari luar negri?"


"baru beberapa Minggu mbah, mau pasang susuk berlian, untuk membuat pria ini bertekuk lutut adaku mbah, dan kalau bisa santet saja istrinya," kata Latifah memberikan selembar foto pada dukun itu


"weleh weleh abot nduk, cah ayu Nok foto ini duduk wong sembarangan," kata Mbah dukun.

__ADS_1


"iya Mbah, dia itu Monster Mbah,"


ingin sekali dukun itu menampar Latifah atau menghajarnya, pasalnya yang dia sebut monster itu adalah cucu dari teman baiknya yang baru saja menikah.


__ADS_2