
Javis sedang sarapan lagi saat ini, pasalnya tadi dia makan cukup tak nyaman di rumah karena putrinya yang rewel.
ya mau bagaimana pun bayi memang tak bisa mengatakan apa yang di rasa.
dan lagi dia belum terbiasa melihat pup putrinya saat makan jadi dia tak bisa melanjutkan makan.
sedang Deny dan Fery merasa aneh, karena tak biasa bos mereka sarapan di luar seperti ini.
"tumben bos, memang Bu bos tak masak ya?" tanya Iwan.
"menurut mu istri yang sebaik itu bisa tak masak, ya tak mungkin karena dia selalu masak pagi meski baru melahirkan begini, cuma tadi aku habis ganti Pampers dari Lessa, dan ternyata dia pup, jadi aku tak selera untuk melanjutkan sarapan," kata Javis santai.
"ya elah bos..."
Javis tak peduli dan selesai terlebih dahulu, dan mereka langsung menuju ke tempat yang di tuju, ya mereka ada pekerjaan di kota sebelah.
tapi mereka santai saja toh kita itu tak jauh, dan hanya mengambil saja tak harus menimbang lagi.
tapi nanti mereka harus ke kebun yang akan di beli oleh Javis, itu adalah sebuah kebun buah salak yang baru akan di beli.
Javis berangkat menuju ke kebun itu sesuai arahan dari Samsul, ya Javis membeli kebun itu dari pria yang baru saja di tolong oleh dirinya.
setelah perjalanan selama satu jam, akhirnya mereka sampai di tempat yang di maksud.
tapi yang aneh, dia melihat sebuah mobil Jeep di kebun yang di tunjuk oleh Samsul kapan hari.
"permisi, anda siapa di tempat ini, karena ini adalah kebun yang akan saya beli," kata Javis dengan suara meninggi.
"wah lihatlah.... kenapa ada bos jadi-jadian ini berada disini, pasalnya kamu terus menyebalkan dari kapan hari ya Javis, sekarang kamu pun ingin merebut tanah ini," kata Malik yang berdiri di depannya.
"memang kenapa harus begitu, apa kamu tak tau ini adalah tanah yang di miliki teman ku, sedang pria itu tanahnya ada di ujung, ayolah jangan bodoh Malik, kita di bisnis ini tak sebentar, kenapa kamu masih bodoh dan bisa di bodohi dengan mudah,cih..."
__ADS_1
"jaga ucapan mu,aku memang tau yang di maksud oleh dua, tapi aku penasaran dengan kebun ini, aku ingin membelinya dengan harga tiga kali lipat," kata Malik.
"maaf tapi anda tak bisa melakukannya, karena aku sudah menjualnya di tempat mas Javis," jawab Samsul yang baru datang.
"baiklah berarti aku boleh menjualnya kan, toh aku juga tak butuh kebun, lebih baik untuk tabungan anak-anak ku," kata Javis menyeringai.
"tentu saja boleh, ini sudah jadi milik mu," kata Samsul tersenyum.
"baiklah aku mau tapi dengan harga tiga milyar, mau apa tidak?" kata Javis tersenyum ke arah pria yang selalu memusuhinya.
"uang yang sedikit, aku akan kasih tiga setengah milyar, dan berikan sertifikat itu padaku," kata Malik.
Javis baru beli sudah untung dua milyar, sedang Samsul juga dapat tambahan lima ratus juta.
entahlah apa yang akan di lakukan oleh Malik dengan tanah itu, padahal harga tanah itu meski di jual tiga tahun lagi tak akan semahal itu.
Javis pun tak ambil pusing karena dia bisa beli tanah di daerah pegunungan yang lain.
karena dia ingin membuatkan vila untuk hadiah ulang tahun anak cantiknya nanti.
dan Samsul bisa menunjukkan beberapa tanah yang lain yang letaknya strategis terlebih hawa yang dingin.
Javis pergi ke daerah Pacet Mojokerto untuk melihat tanah yang di beli oleh Javis.
di rumah, Mei sedang bersama putrinya, dan dia sedang mengobati luka bekas operasinya.
dia pun mengigit jilbab yang sudah di gulung agar tak repot nantinya, terlebih Javis sedang tak ada di rumah.
Mei meneteskan air matanya karena rasa sakit yang dia rasakan, setelah selesai dia pun menghela nafas.
beruntung putrinya itu tak bangun, dan dia langsung minum obat, dan sekarang bayi Lessa tak sepenuhnya minum susu ASI.
__ADS_1
karena perlahan air susu Mei tak bisa keluar,jadi terpaksa di bantu susu formula agar bayi Lessa lekas sehat.
pasalnya bayi itu masih butuh perkembangan dan berat tubuh yang sesuai dengan perintah dokter.
sedang Mei sudah tak bisa menyusui lagi, tapi beruntung Javis tak bermasalah akan hal itu.
"maaf mbak bos? apa perlu di buatkan teh atau air hangat untuk mandi nyonya dan bayi Lessa," tanya mbok kah.
ya wanita itu sekarang membantu pekerjaan dari Mei yang belum bisa melakukan pekerjaan berat.
"tidak usah mbok, saya bisa memandikan putri saya sendiri, semua pekerjaan mbok sudah usai?" tanya Mei yang mengendong putrinya masuk melihat pekerja wanita itu.
"baiklah mbok, tapi tolong bantu saya untuk beberapa saat saja, karena saya ingin menyiapkan makanan untuk suamiku, jadi apa mbok bisa menjaga putriku menjaga baby Lessa sebentar saja,"
"baiklah Bu bos, silahkan masak setenang anda, karena bos baby cantik ini terlihat sangat tenang,"jawab mbok kah.
sedang di warung ada Risa dan ayu yang nampak begitu sedih, keduanya seperti sedang dalam keadaan yang begitu galau.
mereka sedang duduk melamun di depan saat warung sudah tutup, Yuni dan Wenda merasa aneh melihat tingkah keduanya.
"tuh dua pegawai kenapa sih, kok mereka nampak begitu sedih begitu, apa mereka sedang mengalami kejadian buruk," Tanya Wenda heran.
"menurutku mungkin mereka sedang galau, pasalnya mas Deny mengatakan jika mas Lukman pernah punya pikiran untuk membatalkan rencana pernikahan dengan Risa, entahlah apa yang terjadi pada mereka,"
"apa jangan-jangan itu terjadi karena aku, bukankah karena mas Iwan juga putus dengan ayu, sebenarnya aku juga merasa sungkan kembali di sini, tapi karena permintaan mbak Mei, tapi kenapa aku malah melihat hal seperti ini," kata Wenda sedih.
"tak usah merasa tak enak, toh itu bukan kesalahan mu, itu adalah pilihan mas Iwan, lagi pula selama mereka berhubungan pun mas Iwan seperti tak bahagia bersama dengan ayu, jadi tak salah untuk mas Iwan memilih jalan itu dan mengejar cintamu," kata Yuni.
"baiklah aku mengerti, sekarang kalau begitu lebih baik kita pulang, tapi tegur mereka dulu takutnya kesambet," kata Wenda.
Yuni pun menghampiri keduanya dan meminta mereka bubar karena tak baik tetap di sana karena warung juga sudah tutup.
__ADS_1
sedang Rina juga sudah selesai membagikan nasi, ya mereka punya jadwal untuk pergi menaruh nasi di tempat box yang ada di setiap taman di kota.
dan membaginya pada orang-orang yang berjuang di jalanan. karena itu adalah janji Mei jika bisa memiliki anak yang sehat.