Si Berandal, Milik Meidina

Si Berandal, Milik Meidina
tukang resek


__ADS_3

Javis sekarang duduk bersama dengan para anak buahnya, "kalian yang membereskan mereka, tadi saat pulang sepertinya baru di ketemukan tuh mayat-mayat,"


"mereka duluan pak bos, kami mah cuma lewat," saut Topan.


"habis mereka bodoh, kenapa malah mencegat kami dan ingin melakukan begal, kan sama dengan setor nyawa, tapi bos tenang saja, tak mungkin ada bukti karena aku sudah membereskan semua dengan baik," kata Adi.


"baiklah, kalian memang terbaik, tapi mana ini istriku, sayang!!" teriak Javis.


"mas tolong!!" teriak Mei.


mendengar itu Javis lari ke belakang begitupun dengan Adi, topan dan Lukman.


"ada apa sayang?" bingung Javis.


"bantu bawa ini," kata Mei menyodorkan begitu banyak yang di panen.


"itu kamu ambil buat apa, itu kan gak bisa di makan," kata Javis menunjuk sukun.


"kata siapa, ini itu buah paling enak tau, di goreng dengan adonan tepung, beh rasanya mantap tau,"


"terus itu Bu bos, ada nangka yang gak ada isinya, ndami doang loh," kata Adi heran.


"itu malah enak di buat sayur lodeh atau gulai nangka muda, beh... terbaik pokoknya,"


"tapi ada apa dengan jantung pisang itu," kata Lukman.


"ya Tuhan tinggal minta bantu bawa, jangan protes terus, besok juga mengerti," kesal Mei.


mereka pun membawa semua barang ke depan, mereka benar-benar tak tau apa yang ingin di buat oleh Bu bosnya itu.


Mei mengajak Javis pulang, ternyata sudah ada Yuni dan Wenda dan seorang wanita setengah baya bernama Bu Susi.


"kalian lama nunggu ya, maaf habis panen," kata Mei tak enak.


"tak kok mbak, kami juga baru datang, memang habis panen apa," tanya Bu Susi penasaran.


"buat dagang besok Bu, tolong bantu turunkan dari mobil ya," kata Mei.


Javis menurunkan satu peti telur dan beberapa belanjaan.mereks pun mengerti apa yang akan di masak.

__ADS_1


"mas masuk dulu ya, ingat jangan capek," kata Javis.


"iya mas," jawab Mei.


mereka pun mulai menyiapkan semuanya, dan setelah di potong dan di di bersihkan, sebagai di simpan di freezer.


dan hanya sedikit bagian yang di masak, dan besok akan ada menu baru yaitu abon jantung pisang.


nangka muda akan di sayur lodeh, dan sukun ada yang di kripik dan goreng besok.


semua pekerjaan terasa mudah di kerjakan karena di warung Mei ada banyak alat modern yang memudahkan mereka.


pukul tujuh malam semuanya selesai, dan mereka pamit pulang.


Mei masuk kedalam rumah, "sayang kemarilah, biar aku bantu mengoleskan obat," panggil Javis


"aku mandi dulu mas, aku tak ingin kamu mencium aroma bumbu dapur dari tubuhku," kata Mei.


Javis pun hanya melihatnya secara heran, setelah menunggu setengah jam.


Mei keluar dengan daster tanpa lengan, dan dia menuju ke dapur bersih untuk membuatkan suaminya itu susu jahe.


"susu jahe, mau pakai telur," tanya Mei yang duduk di samping suaminya itu.


"tidak usah, kalau pingin kan repot,"


Mei langsung membantu Suaminya itu untuk memeriksa beberapa dokumen dan laporan.


Javis sangat terbuka dengan semua harta yang dia miliki, bahkan sekarang Mei memintanya mengelola tiga sawah miliknya juga.


malam ini Javis pun tidur lebih awal karena bantuan Mei, semua pekerjaan jadi selesai lebih cepat.


sedang di sebuah jalan desa, sebuah taksi berwarna hitam mengantar seorang wanita yang sudah bekerja di luar negri selama bertahun-tahun.


itu adalah Latifah, seorang ibu muda yang menjanda, dan sudah lima tahun bekerja di Taiwan.


dia memutuskan pulang karena dia sudah memiliki semua yang dia inginkan,meski usianya dengan Mei sama, tapi takdir mereka sangat berbeda.


menikah muda, membuatnya menjadi janda setelah memiliki seorang anak.

__ADS_1


rumah Latifah tepat di depan rumah dari Mei, dan dia paling tak suka di samakan dengan wanita cacat seperti Mei.


"Alhamdulillah kamu pulang, katanya masih besok,"


"tidak Mak, orang aku sudah tak kuat, oh ya bagaimana toko kelontong kita, apa banyak pembeli dan berkembang?"


"ya begini-begini saja, kalau belanja banyak terutama rokok, karena berkat warung mbak Mei banyak yang beli di sini," kata Mak sup.


"tidak mungkin begitu, karena toko kita itu laris, oh ya apa dia masih belum laku, aduh kasihan sekali yang jomblo," kata Latifah mengejek Mei.


"aduh kamu ketinggalan berita, Mei sudah menikah dengan bos besar dari desa sebelah."


"alah pasti bis tua, sudah Mak aku mau mandi, dan jika Dimas mau ikut ayahnya biarkan saja, kok enak banget mau bikinnya kok gak mau ngerawat, menang aku apaan pabrik anak," kata Latifah.


Latifa tak menyangka jika gadis buruk rupa seperti Mei akan punya pasangan.


pukul tiga pagi, Mei bangun dan mulai memasak nasi, dan kali ini dia memberikan pengumuman jika akan buka di pagi hari saja.


karena dia tak ingin meninggalkan tugasnya sebagai istri karena sekarang dia sudah punya suami.


Mei sudah selesai menyiapkan semuanya saat adzan berkumandang, Javis heran tak mendapati istrinya yang sudah hilang.


tapi dia melanjutkan tidurnya karena tak bisa menahan kantuknya, Bu Susi, Wenda dan Yuni datang untuk menjaga warung.


semua di tata rapi, sedang Mei juga sudah selesai memasak semuanya, dan tinggal menunggu pelanggan.


Latifah keluar dari rumah dan membuka toko kelontong miliknya, melihat Mei sedang menyapu dia menghampiri wanita itu.


"lah Mak Lampir tukang itu sudah pulang,bikin kesal saja," kata Yuni.


"aduh-aduh katanya sudah nikah dengan bos besar, kok masih buka warung, bos besarnya pelit ya," ejek Latifah.


Mei hanya tersenyum saja, tanpa di duga Javis keluar dari rumah dengan masih muka bantalnya.


"sayang..." panggil pria itu.


"iya mas, permisi ya mbak," kata Mei yang langsung pergi meninggalkan Latifah yang kaget melihat suami Mei.


pasalnya Javis itu adalah sosok pria idamannya, badan kekar dengan kulit sawo matang dan kaya.

__ADS_1


"aku harus merebutnya," batin dari latifah yang ingin memiliki pria itu.


__ADS_2