
Mei benar-benar tak berdaya selama di Banjarmasin, Javis jadi sedikit khawatir dan harus menyelesaikan semuanya.
bahkan selama menunggu di bandara pun, Mei terus terlihat murung dan lemah.
"sayang, kita ke rumah sakit ya, kamu sepertinya sangat kesakitan, dan begitu lemas, aku jadi tak ingin memaksakan diri untuk segera pulang," kata Javis memohon.
"bukan begitu, aku ingin segera pulang untuk menikmati ketan di GOR itu loh mas," kata Mei dengan memohon.
"sebenarnya kami ini kenapa si sayang, Jangan-jangan kamu ini sedang hamil ya, kenapa kamu seperti orang ngidam saja," kata Javis penasaran.
"tidak ada, sudah itu pesawat kita akan segera take off, ayo mas," kata Mei yang mengajak suaminya pergi.
"baiklah ayo kita pergi," kata Javis yang tak bisa mengatakan apapun lagi terutama untuk membantah ucapan istrinya.
mereka pun naik pesawat, dan mei mengunakan penutup telinga agar tak kembali mendengar suara bising.
perjalanan tak lama di atas udara, tapi Mei merasa tubuhnya sedikit bermasalah.
"sayang tolong kita ke rumah sakit ya, tiba-tiba perutku sangat sakit," lirih Mei.
"kamu kenapa sayang," panik Javis melihat istrinya yang hampir jatuh pingsan.
"aku tak tau, tapi perutku sakit," kata Mei tak bisa menahan rasa sakit itu.
Javis pun langsung menggendongnya, beruntung mobil jemputan mereka datang, "Iwan bawa koper kami, dan Lukman bawa mobil ini cepat ke rumah sakit terdekat,cepat!!" panik Javis.
"siap bos," jawab pria itu bergegas.
akhirnya mereka berangkat ke rumah sakit, Mei pun mengeluarkan keringat dingin selama perjalanan.
Javis terus menggenggam tangan istrinya, beruntung di dekat bandara ada rumah sakit.
Mei pun di bawa ke UGD dan langsung mendapatkan perawatan intensif, terlihat dokter sedang memeriksanya.
tak lama dokter menghampiri Javis dan dua pria yang tadi ikut mengantar Mei.
"maaf apa ada suami pasien?" tanya dokter menghampiri Javis.
"saya dokter, istri saya kenapa, dan bagaimana keadaannya?" tanya pria itu tak sabar.
__ADS_1
"selamat pak, istri anda sedang hamil, dan dari perkiraan USG, janin sudah berusia tujuh Minggu," kata dokter menyalami Javis.
"apa dokter, istri saya hamil," kaget Javis.
"selamat bos, ya Tuhan kita akan punya bos kecil," kata Iwan dan Lukman
"terima kasih dokter, tapi kalau boleh tau, kenapa tadi dia kesakitan?" tanya Javis yang bingung.
"karena mungkin tekanan saat baik pesawat, terlebih sepertinya istri anda juga terlalu lelah dan banyak pikiran," kata dokter.
"apa perlu di rawat, atau perlu melakukan apa?" tanya Javis yang begitu khawatir.
"tenang pak, kandungan dan ibu sehat, jadi anda hanya perlu menjaganya, dan nanti saya beri resep vitamin, harus di minum sesuai anjuran," kata dokter pamit.
Mei sudah merasa baikan, dia tak menyangka jika ada hidup baru di perutnya, "sepertinya kamu akan jadi anak paling di sayang," kata Mei mengusap perutnya.
benar saja, Javis lari langsung memeluk tubuhnya, "ada apa mas,"
"kita akan jadi orang tua, dan kita akan punya bayi kecil,"
"iya mas, tapi masih delapan bulan lagi," kata Mei tersenyum mendengar ucapan suaminya yang seperti sudah tak sabar
pasalnya beberapa mobil miliknya memang sudah tua, "sebelum pulang, bisakah kita makan bakso kikil, aku tiba-tiba ingin makan itu,"
"baiklah, Iwan tolong ke bakso kikil di Mojokerto sebelah pasar ya," perintah Javis.
"siap pak bos,"
mobil pun berhenti di warung yang di maksud, mereka pun turun dan langsung memilih bakso dan mie ayam.
Javis membeli mie ayam, karena tau kebiasaan istrinya, dan ternyata benar saja.
selesai makan mereka pun melanjutkan perjalanan ke rumah, dan ternyata di rumah sudah banyak orang yang menunggu.
Fery datang dengan mengajak Eka, Risa datang menunggu Lukman,sedang Yuni bersama Deny.
ada juga topan, Adi dan Iwan yang masih setia menyendiri, "sayang lihatlah, mereka berdua ingin memberi tahu jika akan segera menikah, jadi mereka mau minta tambahan untuk pesta."
"benarkah, kalau begitu aku akan kasih uang saja, karena dulu saat cak Deny menikah tak ada pesta, jadi sekarang kalian berdua dapat uang yang sama, dan kalian bertiga tak mau cari juga?" tanya Mei.
__ADS_1
"belum Nemu yang cocok Bu bos," jawab semuanya.
Mei hanya mengeleng, dia pun melihat suaminya yang nampak senang karena dari tadi terus tersenyum
"sudah sekarang ayo masuk dulu, dan paket ku sudah datang Iwan?"
" tentu saja sudah bos, dan aku menaruhnya di atas meja, jadi aman, sekarang kami minta oleh-oleh kami," kata Iwan tertawa.
"tentu saja, semuanya pasti dapat, karena paket itu adalah oleh-oleh kalian sebenarnya," jawab Javis.
Mei duduk melihat suaminya membongkar semua bawaan mereka.
dia memberikan gelang pada Yuni, Risa, dan juga Eka karena sekarang mereka akan jadi bagian keluarga.
sedang untuk ketiga pria yang lain masih di simpan karena belum memiliki kekasih hati atau calon istri.
Javis membagikan lima kemplang ikan lima bungkus besar untuk satu orang.
setelah semuanya dapat, mereka pun pamit pulang, dan Javis langsung mengendong istrinya itu ke kamar.
"mas aku baik-baik saja, kenapa membawaku ke kamar, aku masih ingin di luar, dan memeriksa semua bahan yang ada di kulkas," kata Mei yang takut ada barang yang kadaluarsa atau busuk.
"tenang saja, Iwan sudah membereskan semuanya, dia menyimpan yang seharusnya, dan sudah membawa buah, sayur dan roti yang akan kadaluarsa, tenang sayang semuanya beres," jawab Javis mengecup kening istrinya itu
"kalau begitu, di kulkas seharusnya ada nugget yang aku beli sebelum berangkat, jadi tolong mas gorengan ya, karena aku ingin makan itu sambil nonton tv, tapi sebelum itu aku akan pergi mandi, karena tubuh ku lengket dan ada aroma obat yang begitu menyengat." kata Mei yang langsung pergi.
Javis pun mengangguk dan mencari nugget yang di maksud ternyata benar, dia juga membuat sambal cocolan yang cocok untuk nugget itu .
Mei sudah selesai mandi dan merasa segar, dia pun duduk di depan tv, tak lama Iwan datang membawa kresek putih.
"permisi Bu bos," kata pria itu langsung ke belakang.
"iya cak," jawab Mei pada anak buah suaminya.
tak lama Iwan kembali sambil menyapa dan bergegas pergi, ternyata Javis datang dengan susu coklat dan nugget goreng.
"owh tadi cak Iwan antar susu, tapi mas aku kurang suka rasa susu loh,"
"tak masalah sayang, sekarang kamu harus mulai terbiasa, mengerti," kata Javis yang tak mau di bantah.
__ADS_1