Si Berandal, Milik Meidina

Si Berandal, Milik Meidina
pasar malam


__ADS_3

"Fery aku penasaran, sejak kapan kamu jadi pintar masak, padahal dulu tak pernah tuh lihat kamu di dapur?" tanya Deny.


"memang gak boleh ya orang berubah?"


"bukan gak boleh Cok, aku cuma tanya," kesal Deny mendengar jawaban pria itu.


"sejak aku kenal Eka, pedagang di pasar citra niaga," kata Fery tersipu malu.


"wih... jangan bilang janda bahenol kesayangan warga pasar di sana, dia kan yang punya toko beras yang paling ujung kan," kata Lukman.


"ya tuh tau, dia sering loh bagikan resep masakan, dan lagi pula gak salah dong kalau aku kenalan ma dia, memang ada dari kalian yang keberatan, kalau iya ngomong ya," kata Fery sambil makan makan.


"kenapa?" bingung Deny.


"aku tak ingin menghancurkan persahabatan kita yang seperti saudara ini karena wanita, jadi jika ada yang menyukainya tolong bilang," kata Fery menjelaskan.


"kamu topan atau Iwan, atau mungkin Adi?" yang pernah kirim kesana,"


"gak tertarik, aku cari yang kalem kayak bu bos," jawab Adi.


"aku punya sendiri, dia anak desa sebelah," jawab Topan


kini semua mengarah pada Iwan, "gak tertarik, lagi pula aku gak suka cewek yang seperti Eka, meski cantik tapi kalau bercanda dengan para pria suka keterlaluan," kata Iwan.


"wah ternyata kalian semua sudah punya cem-ceman ya," kata Deny tak percaya.


"tidak, bukan cem-ceman tapi teman dekat saja," jawab semuanya tertawa bersama.


tiba-tiba semua mendapat pesan dari Javis yang sekarang berada di pasar malam.


"Weh... pak bos lagi di pasar malam nih, ikut gak lumayan ada yang traktir jajan nih kayaknya," Deny.


"berangkat yuk," kata yang lain


mereka pun berangkat mengunakan motor masing-masing, biar jika ingin pulang duluan atau belakangan tak merepotkan.


Mei dan Javis sedang melihat pasar malam yang ternyata itu sebuah Expo, yang memberikan wadah untuk para wirausahawan menunjukkan dan memperkenalkan produk mereka.


keenam pria itu datang dan langsung bisa menemukan bos mereka, ternyata Wenda dan Yuni juga ada di sana.


"bos, ya elah udah di tinggal saja, mau beli apa sih?" tanya Iwan.


"lah ilah, kalian ini kenapa kayak anak itik begini, kok malah ngintilin kemana-mana," kesal Javis yang tak mengira semua anak buahnya ikut datang.


"aduh mas biarkan saja, malah makin asik tau, semuanya mau pentol bakar gak? enak loh," tawar Mei yang menang sedang menunggu pesanannya.

__ADS_1


"boleh deh," jawab Lukman yang sebenarnya suka camilan itu.


akhirnya Mei memesankan untuk mereka semua, "loh cak Deny dan cak Iwan dan dua gadis itu kemana?" kata Mei yang kaget saat ingin memberikan pentol bakar jumbo itu.


"mereka sudah pergi Bu bos, sudah biar saya bawa saja," tawar Lukman.


mereka pun berjalan menuju ke area permainan, tapi Mei tak mau naik karena takut, terlebih dia dari kecil tak pernah naik wahana seperti itu.


saat mereka berjalan bersama keempat pria itu, dari kejauhan seorang wanita mendekat.


"mas Fery!! ku kira salah lihat, ternyata benar," kata Eka dengan senang.


"loh kamu disini, jauh amat mainnya?" tanya Fery melihat wanita itu.


"gak jauh kok,aku kan tinggal di daerah desa condong," kata Eka tersenyum.


"loh mbak Eka kenal mas Fery, wah jangan-jangan yang kemarin yang di maksud itu mas Fery ya?" tanya Mei yang kenal dengan wanita itu


"huss... jangan bilang-bilang dong, kan malu atuh mbak Mei, oh ya kemarin maaf ya gak bisa datang, pak bos pasti bisa subur nih sekarang," kata Eka.


"terima kasih, sudah Fery temani mbak Eka, bukankah kalian saling suka kan?"


"apa pak bos, gak kok kami cuma berteman baik dan dekat, ya kan mbak Eka," kata Fery


"iya pak bos, lagi pula siapa yang mau dengan janda yang di kenal centil dan suka menggoda orang seperti saya," kata Eka sedih.


"mbak Mei benar, sebenarnya saya sekarang juga mulai sedikit menjaga batasan kok, karena seseorang," kata Eka melirik Fery.


akhirnya kedua orang itu juga pergi, kini tinggal Lukman, Topan dan Adi yang masih mengikuti Javis dan Mei.


"kalian bertiga ini ya, pergi main cari gadis sana loh, kenapa terus mengikuti kami,"kesal Javis.


"yaelah bos, biasanya juga tak pernah risih," kata Topan.


"terserah deh," kesal Javis.


Mei hanya bisa tertawa saja melihatnya, pasalnya Suaminya itu memang benar-benar tak bisa kompromi.


"sudah, sekarang ayo kita duduk cari camilan yuk, kaki ku sakit nih mas, karena kebanyakan jalan," kata Mei yang sudah tak sanggup lagi.


"ah kita ke tempat itu yuk,sekalian beli minum," ajak Javis.


Mei sudah di gandeng oleh Javis, tadinya pria itu ingin mengendong istrinya, tapi Mei malu jadi mereka berjalan saja.


"mas pesan es jeruk lemon satu, yang lain mau kopi panas atau apa?" tawar Mei.

__ADS_1


"kopi susu panas empat," kata Javis


"memang rasa sakitnya masih sering muncul ya Bu bos, padahal itu luka lama loh, bukannya sudah sembuh ya," tanya Adi penasaran.


"sebenarnya sudah sembuh, tapi rasa sakitnya masih sering datang saat kelelahan," jawab Mei.


"tapi yang aku dengar, saat hujan petir,orang yang pernah pasang pen tulang harus sembunyi karena itu akan terasa sangat sakit, benar gak sih Bu bos," tanya lukman.


"iya, itu dulu, pen di kaki ku sudah di ambil, karena tulangnya sudah sembuh, tapi hanya rasa sakitnya saja yang sering muncul," bohong Mei.


dia hampir keceplosan, karena yang sebenarnya kakinya menang sudah sembuh total, tapi dia menyembunyikan semuanya agar tau mana yang sungguh-sungguh baik dan hanya mencari muka.


"sudah kalian hentikan,jangan mengintrogasi istriku, dan sayang minumlah,"


"terima kasih mas," kata Mei.


mereka sedang berbincang dengan santai, terlebih Topan membuat semua orang tertawa.


hingga datanglah nenek lampir yang merusak suasana hari itu, "eh kita ketemu disini, selamat malam semuanya, boleh gabung gak!"


"maaf kursi penuh, cari tempat lain," kata Topan yang menyahut.


"aduh kejamnya, aku ini tetangga bos kalian loh,"


"maaf mbak Latifah, bisa tolong jangan sekarang, aku mohon... karena aku sedang malas meladeni tingkah mu itu ya, Bu tolong di ajak pergi ya putrinya," kata Mei tersenyum sopan pada ibu Latifah.


"sudah Latifah, kita pergi saja, jangan ganggu mereka," kata wanura sepuh itu.


"eh jangan sombong ya, dasar wanita cacat,"


"lebih baik cacat fisik bukan mbak, daripada cacat kelakuan dan otak karena tak bisa berpikir," jawab Mei menatap tajam ke arah Latifah.


"kau..."


Mei bangun dan mendekat ke arah Latifah, "pergi dari sini, atau kamu mau aku melakukan hal buruk seperti dulu,"


mendengar itu Latifah langsung pergi dari tempat itu,karena dia tak ingin di permalukan lagi oleh Mei.


keempat pria itu kaget melihat perubahan sikap Mei, wanita itu bahkan kembali ke kursinya seperti tak terjadi sesuatu.


sedang di tempat Fery dan Eka, kedua orang itu seperti keluarga bahagia.


karena Fery bisa dekat dengan mudah dengan putra Eka yang berusia empat tahun


bahkan bocah itu terus memeluk Fery erat, "aduh Fiki begitu manja, maaf ya mas, karena niatku tadi memang mengajaknya main,"

__ADS_1


"tak masalah, dia bocah yang manis kok, kalian mau beli sesuatu tidak, biar mas belikan deh, hitung-hitung hadiah perkenalan,"


"terima kasih mas," kata kedua adik Eka yang senang.


__ADS_2