Si Berandal, Milik Meidina

Si Berandal, Milik Meidina
monster wanita


__ADS_3

melihat hal seperti itu, pria yang mengaku sebagai Javis ketakutan, dia tak mengira jika wanita yang terlihat lemah itu begitu kejam


Javis mencekik pria itu dan mengangkatnya," siapa kamu sebenarnya, dan kenapa berani menggunakan nama ku sembarangan," tanya Javis dingin.


"dia adalah sepupuku bos, maafkan dia, dia seperti ini karena aku membantunya, dia menyukai wanita itu dan dengan bantuannya juga aku bisa mengambil kembali sawah milik orang tuaku yang di ambil paksa oleh orang tuanya," kata Nugi.


"bangsat, kamu berani menghianati ku," kata Javis melempar pria itu ke arah Nugi


"maaf..." lirih Nugi


tanpa di duga, Mei yang sedari tadi tak terlihat membawa seutas tali tambang yang di di gunakan untuk menghias warungnya.


tak di duga, dia melilitkan tali dengan secepat kilat pada pria yang sudah kesakitan karena Javis, "jika kamu tak jujur, aku akan menyeret pria ini dengan motor, Topan, lakukan," kata Mei menarik pria itu yang terus berontak


Nugi nampak tak bersuara, sedang pria itu panik, "aku kembalikan, aku kembalikan semuanya tak hanya sawah, aku akan membayar mahar yang ku janjikan sebelum adik mu mati," kata pria itu ketakutan.


"jalan!!" teriak Mei.


sepeda motor sudah menyala, "aku tak sengaja membunuhnya, dia terus ingin kabur, aku marah dan mendorongnya hingga terjatuh dan kepala bagian belakangnya terbentur pinggiran meja," mohon pria itu ketakutan.


"dasar pria sialan, kamu sudah membunuh satu-satunya adik kelas kesayangan ku," marah Mei.


pria itu masih ketakutan dan menangis, "terima kasih Bu bos, sekarang aku akan membawanya ke kantor polisi," kata Nugi.


semua orang masih bingung, "Nugi memiliki satu adik sepupu yang sangat dia lindungi seperti adik kandungnya, tapi sayang wanita itu harus mati mengenaskan saat hamil besar, dan saat kematiannya Nugi tak ada di rumah, dan aku menyadari ada yang janggal saat aku memangku gadis itu saat di mandikan, ada luka di belakang kepalanya, dan ternyata pria busuk ini yang melakukan semuanya," tunjuk Mei.


"jangan jangan kamu wanita monster yang terkenal itu?" kata pria itu ketakutan.


Mei hanya tersenyum sekilas dan menghampiri suaminya, pria itu tak percaya melihat secara langsung wanita yang bisa mencelakakan sepuluh temannya saat bermain waktu kecil.


Nugi membawa pria itu ke kantor polisi, dan wanita yang sudah berlumuran lumpur itu masih tak percaya jika dia di bohongi.


"aku tak terima, aku mau ganti rugi, karena pria itu tak bisa menikahi ku, maka kamu harus merelakan suamimu untuk ku," kata Winda dengan tak tau malu

__ADS_1


Mei mengambil satu tong air dan menyiramkan ke wanita itu, "semoga makin sadar diri, dan ini baru air biasa, jika kamu terus mengatakan omong kosong, mungkin air keras yang akan menyiram tubuhmu, pergi!!"usir Mei.


"oh ya dan besok tak usah jualan di sini lagi, aku tak mau melihat wajah mu," kata Javis


wanita itu pergi dengan wajah marah, sedang Javis melihat ke arah istrinya.


"kamu menyembunyikan sesuatu dariku?"tanya Javis pada istrinya.


"kita pulang aku akan jelaskan," kata Mei.


mereka berdua pun pulang, dan selama dalam perjalanannya habis terus menerka, sebenarnya siapa istrinya itu.


sesampainya di rumah, Mei langsung berjalan masuk dan kemudian duduk di sofa.


Javis mengikuti istrinya itu, "sebelum aku menjawab pertanyaan mas, bukankah mas seharusnya juga berkata jujur, sebenarnya siapa anda, tak mungkin semua musuh mu mengalami semua kecelakaan mobil atau motor dengan begitu kebetulan, belum lagi perampokan yang menimpa beberapa rumah," tanya Mei.


"memang apa yang kamu katakan, aku hanya tengkulak biasa," kata Javis.


"aku seorang perampok dan pembunuh, apa kamu puas, sekarang kamu menyesal?"tanya Javis mencengkram Tengkuk belakang leher Mei.


bukan kesakitan, Mei malah tersenyum, "aku tak menyesal, seharusnya aku harus tau dari awal, dan menyadarinya, bagaimana bisa dua orang bodoh itu keluar penjara kemudian mati, padahal hutang menjadi dasar penyelidikan polisi itu sudah tak ada," kata Mei tersenyum ke arah Javis.


"siapa kamu sebenarnya?" kaget Javis melihat sosok istrinya yang tengah menyeringai.


"seharusnya mas ingat, jika aku ini cucu siapa,"


"bukankah kamu cucu Mbah Yudha?"


"tapi kamu tak tau nama keluarga besar kami, yang sudah di kenal di dunia jalanan, yang di sebut sebagai kang carok," kata Mei.


Javis tak menyangka, pria yang pernah di temui di rumah sakit dulu, pria dengan tatapan dan pelukan hangat itu adalah penguasa jalanan yang melegenda.


"jadi kamu..."

__ADS_1


"ya aku pernah membuat seluruh teman main ku celaka saat kecil karena mereka bilang kaki cacat tak boleh main, jadi aku buat mereka semua merasakan sakit,"


Javis masih belum percaya dengan apa yang dia dengar, bagaimana bisa wanita yang lemah lembut.


punya sisi spikopat kejam seperti ini, bahkan senyum seringai Mei membuat Javis yang notabene seorang berandalan pun merinding.


"tapi kenapa kamu selama ini bersikap biasa dan cenderung lemah,"


"karena permintaan kakek dan nenek pada ku, untuk menyembunyikan semua kekuatan ku," jawabnya.


"tak masalah, sekarang kamu harus jadi dirimu sendiri, dan untuk sayang ku ini aku punya hadiah untuk mu," kata Javis yang menerima istrinya.


ya mereka ternyata punya masa lalu yang hampir mirip hanya jalan ceritanya beda.


"mas boleh tanya?"


"iya sayang, hup.... mau tanya apa," kata Javis yang membaringkan istrinya di ranjang, dan dia sedang sibuk mengusap pipi Mei dengan lembut.


"kenapa mas tak tertarik dengan janda depan, dia itu cantik, dan di desa ini terkenal paling wah pokoknya, malah memilih aku yang tak sempurna ini," kata Mei yang bersandar di kepala ranjang


"karena dari pertama melihat mu, aku tertarik dan ingin mengenal mu lebih jauh, dan kamu bisa di bilang punya keunggulan dari dirinya, terlebih kamu dan aku punya kemiripan yaitu sudah tak memiliki orang tua," kata Javis tersenyum mesum.


"apa yang kamu pikirkan mas," kata Mei yang geli melihat tingkah suaminya.


Javis pun memeluk istrinya itu, tak peduli dengan masa lalu mereka, yang jelas dia sangat mencintai istrinya, itu terpenting.


Iwan, Adi dan Lukman masih duduk di teras rumah sambil merokok, mereka menikmati suasana sepi kampung.


"kamu beneran gak menyesal sudah melepaskan Wenda, padahal dia itu wanita yang aduhai, kamu ingat jika dulu kita dapat mangsa begitu, kalau di jual bisa mahal tau, karena kesukaan gadun-gadun kaya," kata Lukman yang mulai sedikit teler.


"sudah ku katakan, aku tak tertarik, terlebih aku hanya akan hidup dengan wanita yang bisa menerima ku," jawab Iwan.


"menang ada ta?" saut Adi

__ADS_1


__ADS_2