
Mei bangun dan merasa mual, sedang Javis sudah tak ada di rumah karena sedang joging.
"uh... masak iya aku baru mabuk pesawat," kata Mei heran.
pasalnya ini kali pertama dia naik pesawat, dan rasanya tetap terbawa sampai sekarang.
hingga membuatnya sering pusing seperti ini, jadi dia memutuskan untuk di rumah saja.
dia pun segera memasak untuk Javis karena jadwal suaminya itu sangat padat hari ini.
dia melihat ikan dan daun pakis, dia pun segera memasaknya dengan cepat.
Javis pulang dan mencium aroma masakan istrinya, "kamu masak apa sayang?"
"aku masak daun pakis, dan ikan bumbu kuning, ternyata penjaga rumah membeli sayur cukup banyak," kata Mei
"kan sesuai kesukaan mu, ya sudah aku mandi dan bersiap, baru kita sarapan bersama ya,"
"iya mas," jawabnya.
Javis pun mengurungkan niatnya untuk seminggu di Samarinda, dan segera pulang.
karena dia masih penasaran siapa saja orang yang mengaku sebagai kang carok itu.
sedang di desanya Yuni menjadi orang kepercayaan dari Mei sedang Iwan menjadi orang kepercayaan Javis.
bukan Deny atau yang lain karena hanya Iwan yang netral dan tak terikat apapun.
seperti pagi ini, Iwan sudah membuat heboh karena pekerjaan tiga hari harus selesai dalam satu hari, karena saat Mei dan Javis pulang semua harus siap.
"ya elah wan, kamu makin gila saja, kenapa malah menyuruh mereka merampungkannya,"
"ya mau gimana lagi, Bu bos dan pak bos tak jadi di Samarinda selama seminggu penuh, tapi kemungkinan hanya tiga hari karena pak bos banyak pekerjaan juga disini,"
"baiklah aku mengerti," kata topan.
akhirnya mereka pun melanjutkan membantu untuk membuat taman di depan rumah Mei.
__ADS_1
bahkan mereka juga memperbaiki rumah itu dengan bantuan banyak orang agar cepat selesai.
ini juga perintah dari Javis, pria itu benar-benar memanfaatkan keadaan.
di Samarinda, Mei memilih untuk bersantai dan tak melakukan apapun karena dia sendiri bingung mau melakukan apa.
tapi salah satu sepupunya mengetuk pintu rumah untuk mengajak wanita itu main.
"mbak Mei, kenapa malah duduk di rumah saja, ayo kita main karena mumpung mbak disini," ajaknya.
"tidak dulu deh mbak Vista, aku merasa tubuh ku tak enak dan kurang bisa di ajak kompromi," jawab Mei yang memang terlihat pucat.
"aduh kasihan, sampai disini kok malah sakit, kasihan mas Javis dong tak ada yang memanjakan, atau biarkan aku membantumu untuk melakukannya," tawar Vista.
"apa maksud mbak Vista, apa yang kamu maksud dengan membantu itu?" tanya Mei yang terlihat marah mendengar ucapan sepupunya itu.
"ya tentu kamu tau sebagai wanita yang sesama sudah pernah berubah tangga, jadi tak perlu lah bersikap sok bodoh begitu," kata Vista tersebut.
mendengar hal itu, Mei langsung marah dan menampar pipi Vista tanpa ba-bi-bu lagi.
"kau itu cuma orang cacat, meski begitu kau begitu sombong," kata Vista tak terima.
"setidaknya aku punya harga diri dan tak pernah memiliki niat untuk memiliki suami orang lain, jika kamu masih punya malu, tutup mulutmu mu dan jangan membuatku marah," kesal Mei yang tak akan memberi ampun.
"aku tak takut," jawab Vista yang memang jatuh cinta pada Javis saat pertama kali melihat pria itu.
di tambah tadi pagi dia joging dengan baju basah terkena keringat hingga menunjukkan setiap otot di tubuhnya.
"lihat saja, sebelum kalian pulang dari sini, aku akan membuatnya bisa tidur dengan ku, dan sepenuhnya berlutut di depan ku, dan aku pastikan kamu akan di buang sialan," kata Vista yang pergi.
dia tak mengira jika Mei yang nampak rapuh dan kemah, ternyata cukup berani menantangnya.
dia tak tau sebagai orang yang sudah la hidup di suku Dayak, dia bisa melakukan apapun untuk mendapatkan keinginannya.
Javis sedang di perkebunan kelapa sawit yang sudah dia akuisisi beberapa hektar.
dan juga ada kebun yang lain, sekarang dia hanya sedang membahas beberapa pembangunan SPBU di kota itu.
__ADS_1
dan yang akan menjadi pemiliknya tentu saja istrinya sepenuhnya, "apa pak Javis yakin, semua SPBU milik bapak akan di atas namakan istri anda, karena nilainya tak akan kecil loh pak,"
"tentu saja, saya tau hal itu, karena bagi saya istri adalah segalanya, dan dia berhak atas semua harta yang saya miliki, dan anda hanya tinggal mengerjakannya, bukan mahal sibuk mendebat saya," kata Javis tak suka.
bahkan tanpa di ketahui siapapun hampir separuh kekayaan yang di miliki Javis kini sudah di atas namakan Mei.
setelah masalah SPBU selesai, kini dia mendatangi beberapa tempat pemilik usaha yang berhutang padanya.
mereka sudah tau cara kerja Javis dan siap mengikuti setiap persyaratan.
Javis tak mengira jika bulan ini pekerjaannya sangat lancar, pukul lima sore dia pun memutuskan pulang untuk mengajak istrinya keluar malam ini.
mobil yang di kendarai Javis, di cegat tiba-tiba oleh Vista saat akan sampai rumah, otomatis Javis berhenti karena wanita itu melompat kedepan mobil.
"sialan, mau apa wanita ini," kata Javis marah.
Vista tersenyum dan berputar ingin masuk kedalam mobil miliknya, dia pun langsung menancap gas untuk pergi.
Vista pun kesal dan berlari menghampiri pria itu, tapi Javis segera lari masuk kedalam rumah.
Mei kaget melihat suaminya datang dengan wajah panik, "kamu kenapa mas, kok lari-lari dari luar?"
"aku bertemu hantu nenek lampir, beh... hantu sini lebih menyeramkan di banding hantu tetanggamu itu," kata Javis memeluk Mei.
"maksudnya?"
"tuh sepupu mu yang ajaib, dia mau bunuh diri kayaknya, masak ada mobil lewat dia melompat ke depan mobilku dan mau masuk, ya aku tinggal pulang," kata Javis.
"dia itu ingin jadi istri kedua mu, bahkan tadi kesini dan bilang padaku, jika dia akan bisa memilikimu sepenuhnya, itu sumpahnya," kata Mei yang langsung terlihat murung.
Javis pun marah besar mendengar itu, bagaimana bisa ada orang tak tau malu seperti ini.
"apa ini maksud pakde mu sayang, dia sempat bilang padaku jika pria itu boleh punya dua istri, dan jika maksudnya ini, sumpah demi Tuhan, aku akan membuat keluarga mereka sengsara," marah Javis tak terima karena berani membuat Mei sedih.
"tapi mas, bagaimanapun dia tetap pakde ku,"
"memang dia pakde mu, tapi bukan pakde ku, jadi aku tak berkewajiban mematuhinya, aku akan tunjukkan siapa suamimu ini, hingga dia membiarkan kelancangan dari putrinya itu menyakitimu," kata Javis marah besar.
__ADS_1