
siang itu, Javis selesai membantu istrinya membuat lemet, dan sekarang dia sedang di teras untuk menikmati kue jadul itu sambil ngopi bersama Mei.
terlebih siang itu cuaca sangat mendukung karena hujan turun sedang.
terlihat sebuah mobil pick up datang, ternyata Yuni turun dan membuka gerbang rumah Mei.
setelah itu mobil itu masuk kedalam rumah, "Bu bos pesanan datang," kata Yuni yang menaruh payungnya.
karena rumah dari Mei itu memiliki kanebo dan paving blok juga tertata rapi.
"pesanan apa sayang?" tanya Javis bingung.
"aku cuma pesan jamur kuping dan adonan bakso sapi, karena mas tak memperbolehkan aku ke pasar dan lelah, jadi sekarang Yuni membawa semuanya matang, benar kan Yun?" kata Mei.
"lah matang ya mbak, padahal aku kira mbak sendiri yang mau cetak bakso nya," kata Yuni.
"aduh kamu ini gimana sih, makanya di baca yang benar dong Yuni pesan ku itu, terus kamu tak melihat tampang suamiku yang sudah marah begitu?" kata Mei takut .
pasalnya Javis benar-benar marah, karena dia sudah membuat suaminya marah.
"kalau begitu aku bawa ke warung saja ya, biar di bantu anak-anak di sana," kata Yuni.
"mending tuh pegawai warung suruh kesini, dan cetak disini agar aku bisa tau kalian membuatnya higenis atau tidak," ketus Javis.
"iya pak bos iya..." kata Yuni cemberut.
dia langsung menghubungi semua pegawai di warung agar segera ke rumah Mei untuk membantu dirinya membuat pentol.
sambil menunggu, dia dan mei menyiapkan sayuran untuk membuat siomay gubis.
tak hanya itu banyak lagi yang di siapkan, tak butuh waktu lama mereka semua datang ke rumah Mei.
dan mereka langsung bekerja dan meminta Mei istirahat karena bisa bahaya jika Javis marah.
karena pria itu bisa saja melakukan hal tak terduga, tak lupa Mei menyiapkan minuman dan camilan untuk semuanya.
"aduh Bu bos kok masih bisa buat lemet sih, rasanya sebenarnya enak tapi kurang manis ya," kata Bu mit yang terkenal paling pintar dalam cicip mencicip
__ADS_1
"kenapa Bu tidak enak?" tanya Javis membuka suaranya.
"bukan tidak enak, hanya sedikit kurang manis, tapi hal seperti itu adalah sesuai selera kok bos," jawab Bu mut yang seketika mengerti jika yang membuatnya adalah habis bukan Mei.
sedang bersama semua orang habis mendapatkan pesan dari Iwan, "iya ada apa?"
"bereskan sesuai hukum yang ku terapkan, dan temukan gadis itu minta pria brengsek itu menikahinya dan sita semua harta yang dia dapat dari bekerja di tempat ku," kata Javis tegas.
"baik bos," jawab Iwan di balik sebrang telpon.
"ada apa bos?" tanya Deny.
"ada masalah di Probolinggo, itulah kenapa aku mengirim Iwan kesana untuk membereskan semuanya," jawab Javis.
"ya bos di pastikan jika pria itu tidak hanya membereskan orangnya saja, jika dia di sana lebih lama, sudah di pastikan tuh pekerjaan benar-benar selesai dengan sangat baik," kata Deny.
"itu baik memang," jawab Javis.
ayu hanya mendengarkan sekilas saat nama Iwan di sebut, dan tak sengaja dia malah meletakkan pentol ke air panas itu dengan ceroboh hingga membuat Risa terciprat.
"maaf Risa aku tak sengaja," jawab gadis itu
"pasti karena mendengar suara dan pembicaraan yang menyebut nama mas Iwan, kamu belum move on?" ledek Rina.
"tutup mulutmu, aku tak seperti itu, aku sudah melupakannya dan akan segera menikah juga, dengan pria lain,jadi jangan bahas lagi," ketus ayu
"iya deh iya..." kata Rina.
Risa dan ayu bagian pembuatan pentol halus, Rina dan Yuni bagian pentol urat.
sedang Bu mut bagian somay gubis, dan Bu Susi bagian tahu dan somay pangsit.
setidaknya ada lima kilo jladrenan pentol halus dan lima kilo jladrenan pentol urat, dan untuk somay tujuh kilo bagi dua, dan untuk tahu empat kilo.
"ini sebenarnya kita mau Adain pesta apa gimana sih, kenapa kok buat sebanyak ini?" tanya Bu Susi.
"ya ingin di simpan saja Bu, aku ini akhir-akhir ini suka sekali makan bakso, jadi biar tak beli," kata Mei.
__ADS_1
yang sebenarnya akan di gunakan untuk bagi-bagi di hari Jum'at lusa, karena itu bertepatan dengan weton suaminya.
tak butuh waktu lama semua pun selesai setelah tiga jam, setelah matang, pentol-pentol itu di vakum untuk di simpan di freezer khusus.
sedang di tempat Iwan, pria itu mencari rumah gadis yang di lecehkan oleh pria itu melalui data pegawai.
saat sampai di rumah wanita itu, ternyata rumah wanita itu sangat sederhana.
"assalamualaikum..." salam Wenda yang menemani Iwan.
"waalaikum salam, iya neng ada apa?" seorang wanita yang sudah cukup tua keluar dari dalam rumah.
wanita itu langsung marah saat melihat seragam yang di kenakan oleh Wenda, "mau apa kamu kesini, tak puas membuat putri ku satu-satunya sampai seperti itu, beruntung masih ada pria yang mau menikahinya meski sudah hamil besar, sekarang kalian datang untuk apa lagi, karena dia sekarang sudah bahagia," kata wanita itu.
tanpa di duga suami wanita itu keluar dari dalam rumah membawa clurit, sedang Iwan langsung menodongkan pistol yang dia bawa.
"letakkan itu atau peluru ini menembus kepala anda, kami kesini ingin mengatakan jika kami berhasil menemukan orang yang sudah menghamili putri anda, dan kami datang untuk meminta pria itu bertanggung jawab, tapi jika susah menikah, anda semua ingin di ganti rugi apa," kata Iwan yang melindungi Wenda.
"kami minta uang tiga ratus juta," kata pria itu dengan marah.
"tentu, saya akan mengabulkannya, ayo Wenda kita ambil uangnya," ajak Iwan.
"kamu tinggalkan gadis ini sebagai jaminan," kata pria tua itu menarik tangan Wenda.
"jangan ngelunjak, dia itu istriku!" marah Iwan menarik Wenda hingga ke pelukannya.
mereka pun kaget, karena Iwan bisa saja membunuh siapapun, karena sekarang saja dia berani mengacungkan pistol itu.
mereka pun pergi untuk mengambil uang dari pria brengsek yang menyiksa banyak wanita itu.
sesampainya di toko, Iwan dan Wenda masuk kedalam ruang hukuman.
Iwan menampar pria itu yang dari tadi terus berontak, "aku sudah menyita semua aset mu, sesuai perintah bos Javis, sekarang kamu kembali ke derajat awak mu, yang hanya seorang pemalas yang tak tau malu, dan silahkan kembali memulai dari nol,"
"tidak mau, itu harta ku,"
"kamu lupa jika kamu sudah menandatangani sebuah surat perjanjian dengan bos besar. karena kamu sudah melanggar poin-poin di perjanjian itu, jadi sekarang terimalah akibatnya," kata Iwan menyeringai dan mematahkan satu kaki pria itu.
__ADS_1