Si Berandal, Milik Meidina

Si Berandal, Milik Meidina
jangan ganggu lagi


__ADS_3

akhirnya Sahara di bawa pergi oleh anak buah Javis, semua warga pun tak mengira pria yang baik memiliki masa lalu yang begitu buruk.


Mei dan bude baru sampai rumah untuk segera membuat kue, sedang Javis memilih di rumah untuk mengerjakan semua pekerjaan.


dia sesekali menghubungi kelurahan agar semua berkas miliknya segera di urus agar bisa segera menikah.


karena Javis takut jika Mei berubah pikiran, kalau orang Jawa bilang Selak mambu angin.


pak lurah pun berjanji jika tiga hari lagi surat-surat itu segera siap di kirim ke KUA untuk di urus.


malam itu Javis datang ke rumah Wulan untuk mengikuti acara doa bersama.


setelah semua orang pergi ada beberapa motor yang datang, terlihat Mei sangat bahagia melihatnya.


"kalian datang," katanya dengan semangat.


"tentu saja, memang tak boleh," jawab seorang pria.


melihat itu wajah Javis merah padam, pasalnya dia tak mengira jika Mei punya teman pria seperti ini.


"siapa nduk?" panggil pakde Mei.


"ini teman Mei sekolah dulu pakde, ini Bagas, Bukhori, Nina, Selly dan Nita,"


"sini masuk semua, Alhamdulillah ternyata Mei masih punya banyak teman yang baik," kata pakde.


"kami temenan dari SMP pakde, jadi ya sudah Deket," jawab Bagas.


"kalau mas-nya siap, tak pernah lihat dan sepertinya bukan warga desa sini ya?" tanya Nita yang melihat Javis.


"bukankah Anda bos Javis, juragan dan orang terkenal yang memiliki perkebunan luas, yang sering bantu petani saat ada panen raya,"kata Bukhori.


"saya hanya membantu menyalurkan, apa anda pernah bertemu dengan ku?"


"saya putra pak Sudi, yang rumahnya di ujung desa sini, waktu itu bos membeli panen bapak dengan harga yang normal padahal para tengkulak tak ada yang mau dengan dalih alasan karena jagung yang kualitasnya buruk," kata Bukhori


"oh pak Sudi, iya ingat, padahal saya jarang jalan sendiri dan waktu itu kebetulan saya sedang longgar," kata Javis.

__ADS_1


"aduh kok kayaknya akrab banget sih, membicarakan apa nih," kata wulan yang datang membawa nampan berisi air minum dan kue.


"kalian ingat gak, waktu Bukhori bilang kalau mbaknya suka seseorang,jangan bilang itu mas Javis ya," kata Selly.


"iya tuh bener," kata yang lain.


"diem deh, dan Bagas kapan kamu nembak Mei, tuh sudah ada orangnya," kata Bukhori mengalihkan pembicaraan.


"apa, kalian aneh-aneh saja, tapi sepertinya telat deh, karena aku sudah akan menikah Minggu ini?" kata Mei tersenyum.


"apa, dengan siapa?" tanya mereka berlima terkejut.


"dengan mas Javis, dia adalah calon suamiku, nanti kalian juga di undang kok," kata Mei.


bahkan keduanya berpegangan tangan, terlihat Mei begitu semringah saat ini.


"bukankah tak elok saat saudara mu baru meninggal dunia tapi kamu mau menikah," kata Bagas.


"apa itu salah, padahal kami sudah mempersiapkan semuanya," kata Mei terlihat sedih.


"tak masalah, hanya paklek dari pihak ibu, bukan wali karena saya yang akan jadi wali Mei," kata pakde dengan tegas.


"tapi Mei, kamu tak curiga kenapa pria yang sehebat itu mau menikah dengan mu yang tak sempurna," kata Bagas.


mendengar ucapan Bagas, Mei sedih dia memang cacat, tapi apa dia tak boleh bahagia.


mendengar calon istrinya di hina Javis marah, dia menarik Bagas keluar rumah dan melempar bocah sialan itu.


"jika berani menghina calon istriku lagi, bukan hanya ku usir dari rumah ini, aku akan merobek mulut mu!" marah Javis.


"oh... kau kira aku takut, dasar pria kasar, kamu hanya mendekati Mei karena semua uang dan hartanya bukan, aku tak percaya kamu lebih kaya dari keluargaku," kata Bagas yang tak terima.


"kamu mau tak bunuh, aku bahkan sudah memiliki semua kekayaan itu, Deny dan Topan selidik siapa orang tua pemuda ini, kita lihat sampai mana dia bisa sombong," perintah Javis.


"baik bos," jawab keduanya.


sedang Bukhori mencoba menutup mulut temannya itu, "hentikan Bagas, kamu tak tau dia siapa, jadi jangan berulah dan tutup mulut sombong mu,"

__ADS_1


"tidak, kenapa harus Mei yang dia nikahi, di desa banyak gadis normal,"


"memang salah jika ada orang yang menikahi ku, apa aku tak boleh bahagia Bagas?" tanya Mei.


"bukan seperti itu Mei , dia itu cuma ingin harta mu,kan aneh jika tiba-tiba muncul orang yang ingin mengajak mu menikah, apa yang dia inginkan tak mungkin dia benar-benar mencintai mu, tidak seperti ku yang mengenalmu dari kecil, Mei!!" terang Bagas.


plak...


sebuah tamparan di berikan oleh Mei, "berhenti menghinanya, aku tak ingin kamu mengatakan keburukan lagi, kamu tau aku mencintainya karena dia adalah orang yang menyelamatkan hidupku," kata Mei mengejutkan semua orang


"kamu tau Bagas, aku hampir di begal dan di lecehkan malam itu, jika bukan karena mas Javis datang, mungkin aku sudah jadi wanita kotor, jadi aku tak ingin mendengar mu menghinanya," kata Mei tegas.


"tapi tak ada yang akan mencintai mu seperti ku Mei,"


"kamu yakin Bagas, kamu bahkan tak berani membelaku di saat ibu mu menghina ku di depan teman-teman kita, itu yang kamu sebut cinta, maaf aku tak bisa menerima cinta dari keluarga kaya seperti mu, apa yang biasa ibu mu bilang, keluarga juragan Supono tentu harus sempurna, dan sedikit kecacatan itu harus di buang," kata Mei.


Bagas diam, ya orang tuanya tak pernah suka melihat Bagas dekat dengan Mei yang memang sedikit cacat.


"pergi dari sini, kedatangan kalian hanya menambah kesedihan dari calon istriku, aku tetap akan mengundang kalian nanti, saat Mei setuju," kata Javis.


mereka pun pulang, dan Bukhori merasa begitu buruk karena Bagas sudah mengacaukan semuanya, bahkan dia mengusik orang yang tak seharusnya.


Javis pun menenangkan Mei, "nak habis, apa pernikahan kalian tak bisa di majukan, kenapa pakde merasa Mei akan dalam bahaya," kata pria itu khawatir.


"baiklah pakde, bagaimana jika menikah secara agama dulu, setelah itu baru kita resmikan dengan pernikahan di KUA," usul Javis.


"baiklah pakde setuju, tolong nak undang beberapa tetangga untuk jadi saksi," perintah pakde Mei.


akhirnya malam itu, Javis mengucapkan akad nikah di depan seorang ustadz di saksikan oleh para tetangga.


karena pakde merasa jika keselamatan Mei kemungkinan dalam bahaya.


setelah menikah Javis meminta Iwan untuk pulang mengambilkan semua keperluan miliknya dan juga beberapa berkas penting.


dia akan mengajari istrinya itu pekerjaan untuk membantunya agar tak perlu lagi repot membuka warung.


tapi semua itu tergantung Mei sendiri mau bagaimana. Iwan datang dengan membawa semua yang di minta Javis.

__ADS_1


"maaf aku akan merepotkan, dan silahkan tidur aku harus bekerja sebentar lagi, sambil menemani pakde."


"iya mas," jawab Mei.


__ADS_2