Si Berandal, Milik Meidina

Si Berandal, Milik Meidina
kerja sama


__ADS_3

pagi ini, Javis sedang membantu istrinya itu untuk membersihkan rumah.


"mas berhenti dulu, ayo duduk dan makan dulu," panggil Mei.


"iya sayang," jawab Javis yang baru selesai membersihkan halaman rumahnya.


Mei membawakan camilan dan juga kopi, dia juga tak mengira jika dalam lima hari.


di rumahnya sudah ada taman dan kolam ikan, begitupun dengan garasi yang terlihat semakin mewah.


bahkan ada pagar besar yang di pasang juga, dia benar-benar tak mengira jika suaminya itu memperbaiki semuanya dengan cepat.


"ada apa sayang, kenapa kamu tersenyum," tanya Javis melihat istrinya.


"aku hanya tak mengira jika mas melakukan semua ini, lihatlah rumah tua ini benar-benar berubah hanya dalam waktu lima hari," kata Mei tak percaya.


"sudahlah sayang, ini rumah kita, jadi kita harus nyaman tinggal di sini," kata Javis.


"iya mas, tapi siang ini aku harus ke salah satu cafe di kota, untuk bertemu dengan pemiliknya, karena kami ingin membuat tempat makan khusus untuk para warga kurang mampu, apa boleh," tanya Mei.


"tentu saja boleh sayang, tapi tentu aku harus ikut karena aku tak ingin kamu kelelahan,ingat kamu sedang hamil muda," kata Javis mengingatkan istrinya itu.


"iya mas, kalau begitu tolong antar aku ya sayang, boleh..." mohon Mei.


"baiklah aku mengerti, aku akan mengantar mu kemana pun kamu pergi," jawab Javis tersenyum.


mere pun bersiap-siap, tapi Javis mengarahkan semua anak buahnya untuk melakukan pekerjaan sesuai tugas masing-masing.


Mei sudah keluar dengan gamis panjang dan jilbab syar'i yang cukup besar.


Javis pun tersenyum melihat istrinya yang selalu cantik dalam balutan gamis.


"aku panaskan mobil sebentar ya sayang, oh ya nanti sore Fery juga mengajak kita untuk menjadi keluarganya, ya dia ingin melamar Eka," kata Javis santai.


"apa mas, kenapa mendadak, aku belum membelikan apapun," protes Mei


"tak apa-apa sayang, kamu tau kata Fery kehadiran kita saja sangat cukup baginya," kata Javis menenangkan istrinya itu.


"itu tak boleh mas, jika cak Fery menganggap kita saudaranya, berarti kita harus melakukan sesuatu, ah biar aku pesan di salah satu toko langganan ku ya," kata Mei yang langsung sibuk.


Javis pun hanya mengeleng pelan, bagaimana pun semua anak buah yang ikut dengannya adalah orang yang sudah tak punya orang tua.

__ADS_1


jadi dia di anggap menjadi orang tua oleh mereka, mobil Honda Brio itu melesat menuju ke salah satu cafe besar di kota.


saat sampai, ternyata pengunjung kafe sangat banyak, seorang wanita berjilbab datang menyapa Mei.


"assalamualaikum saudari ku, apa kabar, aku dengar kalian baru pulang dari Samarinda," kata wanita itu dengan semangat


"waalaikum salam mbak Dian, iya habis ikut suamiku tugas,oh ya perkenalkan suamiku mas Javis Priyambudi," kata Mei


"salam kenal," kata Javis.


"aduh kenapa semua kenalan ku muka suaminya serem ya," kata Dian tertawa.


"maksudnya mbak," bingung Mei.


"ha-ha-ha sudah ayo masuk, kita ke lantai dua yuk, oh ya suami ku dan ada tamu satu lagi yang sudah ada disana," terang Dian dengan ramah.


"iya mbak," jawab Mei


ya dia adalah Dian yang memiliki kondisi sama dengan dirinya, wanita itu juga pernah mengalami patah kaki tapi kini dia menjelma sebagai seorang wanita hebat.


bahkan mereka mengikuti pengajian rutin yang sama, dan keduanya di kenalkan oleh ustadzah tempat pengajian mereka karena memiliki rasa ingin membantu yang tinggi.


Javis benar-benar menjaga istrinya itu agar tak kesakitan saat naik ke lantai atas.


"sialan... pertemuan apa ini," gumamnya


"ada apa mas?"


"tidak ada sayang, ayo..." kata Javis yang berusaha bersikap tenang.


sedang Mei hanya tersenyum saja sat melihat sosok Hujan yang ikut bangkit saat melihat kedatangan mereka.


"lihatlah, tamu spesial kita sudah datang, dan mas berhenti memasang wajah mu yang seram itu," tegur Dian pada Japar suaminya.


"ah iya maaf sayang, halo selamat datang, aku Japar, senang bertemu dengan anda," kata Japar mengulurkan tangannya pada Mei.


"jangan begitu dong mas Japar, masak kamu tak melihat ki yang Segede ini di sampingnya, aku tersinggung loh," kata Javis yang langsung mengenggam erat tangan pria itu.


"ha-ha-ha, kamu bercanda ya mas Javis, silahkan duduk, aku hanya tak percaya dengan melihat kamu datang dengan teman istriku," kata pria itu yang menahan rasa sakit akibat kabar tangan yang dilakukan oleh Javis.


"mbak Mei perkenalkan ini mbak Hujan, dia akan ikut dalam kegiatan yang akan kita lakukan," kata Dian.

__ADS_1


"tentu mbak,makin banyak orang itu makin baik kan," jawab Mei.


"tentu mbak, aku ingin minta tolong dan bimbingannya, karena aku tak pernah melakukan hal seperti ini," terang Wanita itu.


"kita belajar bersama, dan mbak Dian apa sudah punya konsepnya?"


"tentu saja, kita namakan warung kita, warung dhuafa, dan setiap hari kita buat seperti makanan warteg, jadi siapapun bisa makan murah dengan harga seikhlasnya dengan memasukkan uang ke kotak amal, dan jika ada yang bisa membayar dengan surat pendek, juga tak apa-apa," kata Dian.


"dan gratis untuk yatim dan piatu," kata Mei


"tapi kamu bisa bangkrut, setidaknya jika mereka tetap memberikan dua ribu saja, kita bisa membeli beras nantinya," bantah hujan.


"insyaallah tak usah khawatir tentang beras dan gas elpiji, di tempat ku, nanti biar diantar kan ke tempat warungnya.


"bagus bagus, kita akan buka di pinggir kota di samping rel kereta api, ya karen aku hanya menemukan tempat disana," terang Dian.


"tidak masalah, aku ikut saja mbak, nanti peresmian kita undang semua ibu-ibu pengajian," terang Mei.


"iya mbak, ide bagus," jawab Dian


Hujan tak bisa ikut nimbrung karena dia memang tak tau pengajian yang diikuti oleh temannya itu


terlebih dia juga non Muslim, tapi saat ketiga wanita itu fokus, ketiga pria itu seperti terlibat pertengkaran dengan tatapan mata tajam.


Javis tak mengira akan melihat kedua pria itu dalam situasi seperti ini, sedang Malik pun merasa jika ini bisa saja menjadi hal buruk.


"mas kenapa dari tadi diam?" tanya Mei dengan lembut merangkul lengan suaminya itu.


"tidak apa-apa sayang, aku hanya ingat beberapa hal," jawab Javis tersenyum lembut.


tiba-tiba terdengar suara teriakan dari bocah kecil, "ibu Mei datang..." suara Ibram yang datang bersama adik dari Japar.


"kenapa kamu sudah pulang?" tanya Japar kaget.


"aku tak sanggup untuk menjaga bocah-bocah ini, terutama bocah gadis ini, dia seperti alat penghancur, aku malu dan dia terus menyeret Ibram ke mana pun," kesal gadis remaja itu.


"cih .... persis seperti ayahnya," gumam Javis.


brak...


"apa katamu," kesal Malik.

__ADS_1


"mas..." tegur Mei dan Hujan bersamaan.


sedang Ibram sudah memeluk tubuh Mei dengan erat. pasalnya mereka sudah dekat karena bocah itu sering di ajak ke pengajian oleh Dian.


__ADS_2