Si Berandal, Milik Meidina

Si Berandal, Milik Meidina
bukan lamaran Fery dan Eka.


__ADS_3

Javis dan Mei pulang menuju ke rumah yang di tempati semua anak buah Javis.


mereka kaget melihat kondisi dari Javis yang begitu buruk, "pak bos!!" kaget yang lain.


"tenang, kalian lanjutkan saja persiapannya, aku mau tidur bentar," kata Javis yang masuk kedalam kamar miliknya di bantu oleh Mei.


setelah Javis istirahat, Mei keluar untuk melihat semua persiapan, "Bu bos kita harus menuntut balas," kata Topan yang tak terima.


"pria itu juga sudah mendapatkan pelajaran, dan sekarang dia tak akan sekuat dulu," kata Mei dingin.


"tapi ini tak bisa di biarkan," kata Lukman.


"aku bilang hentikan, dan fokus saja pada acara lamaran ini!!" suara Mei meninggi dan membuat semua orang kaget.


"kalian kira aku tak bisa melawan kalian semua, aku juga bisa amarah jika kalian tak bisa di ajak bicara dengan baik," marah Mei.


sedang Yuni tersenyum di balik para pria itu, "apa perlu aku memanggil mas hud mbak?"


"tak perlu, jika kamu memanggil pria itu, mereka semua bisa terpenggal kepalanya dan juga kasihan suamiku harus kehilangan semua anak buahnya," kata Mei duduk dengan santai.


mendengar ucapan itu, keempat orang itu kaget, bagaimana bisa di wanita itu bisa mengenal sosok Hudi, seorang pria kejam yang mengelola kang carok.


mereka pun memilih menurut dari pada mereka yang akan mengalami musibah besar.


Deny datang membawa kue yang sudah di pesan oleh Mei, bahkan dia juga mengambil hadiah untuk Eka.


"apa nanti lamaran saja, atau kalian akan menikah langsung, kenapa ada mahar juga?" tanya Mei.


"kami akan menikah juga Bu bos, karena perhitungan penanggalan Jawa sudah di tentukan," kata Fery.


"itu lebih baik dari pada kalian hanya berpacaran dengan tanpa tujuan, dan cak Lukman? anda kapan?" kata Mei.


"malam dua puluh sembilan puasa bulan depan Bu bos, itu permintaan dari orang tua Risa," jawab Lukman.


"bagus," jawabnya.

__ADS_1


dia membantu semuanya menghias hantaran yang akan di bawa, beberan tetangga datang membantu.


tentu mereka antusias karena Javis dan seluruh anak buahnya yang di kenal dermawan sering membantu orang desa.


"nanti malam setidaknya kita butuh tiga elf dan tiga mobil pribadi, apa mobilnya siap?" tanya Mei pada Iwan.


"tenang Bu bos, semuanya beres, dan kami semua akan memilih naik motor," kata Iwan


"kamu mau mati cak, jika kalian naik motor siapa yang akan menjadi supir untuk semua mobil yang di gunakan nantinya," ketus Mei.


"bercanda Bu bos," kata Iwan yang menggaruk kepalanya yang tak gatal.


tak terasa semua barang yang akan di bawa pun siap di atas mobil pick up yang akan membawanya.


beruntung wajah Javis tak bengkak karena lebam di beberapa titik, Mei memastikan kondisi suaminya itu baik-baik saja.


mobil rombongan dari Fery dan tetangga sampai di rumah Eka yang terlihat sangat ramai.


ternyata di sana juga di lakukan persiapan yang tak kalah heboh, bahkan ada pelaminan sederhana.


mereka semua pun masuk ke dalam rumah, tentu Javis dan Mei mendampingi Fery.


"sialan, aku di tipu ternyata," katanya saat melihat penghulu tersenyum menyapanya.


"tenang mas," bisik Mei.


cara akad nikah berjalan dengan sangat hikmat, dan setelah itu acara resepsi pernikahan secara sederhana.


Javis terus merangkul istrinya, bahkan dia terlihat tak mau jauh-jauh dari Mei.


acara berjalan cukup singkat dan tak ada yang aneh, terlihat Fery dan Eka sangat bahagia, bahkan putra Eka juga begitu terlihat begitu senang.


"kalian semua harus memikirkan ini, karena setiap manusia itu di ciptakan berpasangan, laki-laki dan perempuan, bukan batang sama batang," kata Javis tertawa.


Mei kaget mendengar ucapan suaminya, "mas ih..."

__ADS_1


"pak bos mah gitu, ngomong saja nyuruh kami nikah, lagi pula kami itu masih doyan perempuan, tak suka yang berbatang," kata Adi.


mereka semua pulang ke rumah, setelah acara itu selesai pukul sepuluh malam.


dan ternyata sovenir pernikahan dari keluarga Eka juga sangat berat dan semua tamu mendapatkan dua buah, satu sovenir dan satu lagi nasi kotak dan kue.


Javis langsung di minta istirahat oleh Mei saat sampai di rumah, saat suaminya sudah tertidur.


Mei membuka ponselnya dan ternyata begitu banyak pesan dari Hudi.


"mbak aku sudah melaksanakan semua sesuai rencana, dan aku juga akan terus mengawasi geng itu," isi pesan itu.


"baiklah, sekarang kita lihat bertahan berapa tahun geng mu itu," gumam Mei.


tiba-tiba dia lapar jadi memilih makan kue yang tadi di dapatkan dari tempat Eka.


sedang pasangan pengantin baru itu, sedang di buat bingung oleh putra Eka yang tak ingin lepas dari ayah barunya.


"aduh Fiki, sama Mbah kung dulunya, kasihan itu mama dan ayahnya mau istirahat," kata bapak Eka.


"tidak masalah pak, biarkan Fiki disini sampai tidur nanti di pindahkan saja," jawab Fery.


"baiklah le, maafkan Fiki ya, dia terlalu senang karena sekarang punya ayah katanya," kata orang tua Eka.


Fery berganti baju dan kemudian bermain bersama Fiki hingga bocah itu ketiduran karena lelah.


setelah itu mereka pun mengantar Fiki untuk istirahat bersama dengan orang tua Eka.


tapi saat dia masuk kedalam kamar, dia melihat Eka sedang duduk bermain ponselnya.


"kamu sedang apa, sepertinya sangat fokus membaca apa?"


"ini loh mas, aku sedang membaca novel online di Noveltoon, judulnya Kesabaran Cinta yang penulisnya adalah Meidina, uh itu kesukaan ku, dan masih banyak lagi novel yang di tulis oleh otor itu," kata Eka menunjukkan ponselnya.


"maaf itu penulis kenapa namanya persis sana seperti bu bos?" tanya Fery.

__ADS_1


"gak tahu..." kata Eka yang merasa kaget melihat sosok Fery sudah di depan wajahnya.


tak butuh waktu lama, Keduanya sudah berciuman dengan mesra, "lupakan dulu novel onlinenya, sekarang kita ibadah dulu ya sayang," bisik Fery yang langsung melakukan olahraga panas bersama istrinya.


__ADS_2