
malam itu, Javis dan pakde tidur di ruang tamu, Mei membawakan bantal dan selimut untuk Javis.
Mei tak mengira jika dia akan menikah dengan pria yang sesempurna Javis.
bahkan dia mau membela dirinya yang di hina tadi, bahkan bisa melakukan apapun untuknya.
keesokan harinya, Javis berada di kamar Mei setelah mandi, saat Mei masuk membawakan kopi.
dia kaget melihat punggung Javis yang memiliki tato ular kembar yang begitu besar.
"mas ini kopinya,"
"terima kasih dek, apa kamu kaget, ya aku tak bilang jika memiliki tato di tubuh ku, apa kamu keberatan?" tanya Javis yang bertelanjang dada duduk di ranjang.
"tentu tidak, aku hanya kaget, lagi pula pantas ada di sana," kata Mei malu-malu
"benarkah,terima kasih pujiannya, oh ya apa kamu ingin melakukan sesuatu bersama ku?" tanya Javis.
"apa?" kata Mei kaget.
"apa sih, aku hanya ingin mengajak mu bertemu dokter kepercayaan ku, dia dulu yang mengobati luka ku, dan sembuh, mau ya sayang," mohon pria itu.
"baiklah, apapun yang mas minta,"
dia sadar jika dia harus menuruti keinginan suaminya, bagaimana pun Javis ingin yang terbaik untuk dirinya.
"baiklah, besok kita kesana, biar aku buat janji," kata Javis mengambil ponselnya.
tapi sebuah telpon masuk, "iya.... buat mereka miskin," perintah Javis.
Mei melihat suaminya itu, "ada apa mas?"
"tidak hanya seorang penghianat, sekarang tolong ambilkan sarapan untuk ku ya sayang,"
Deny dan Topan sudah mengetahui siapa orang tua Bagas, mereka adalah juragan sombong dan kikir dari desa tetangga.
setelah mendapat perintah dari Javis, mereka pun bergerak, mulai dari menghentikan dan mengembalikan semua barang yang sudah di beli.
serta menghubungi lebih banyak orang untuk membatalkan kerja sama mereka dengan pria itu.
keluarga juragan Supono kebingungan,karena semua orang yang bekerja sama tiba-tiba menarik diri dan meminta investasi mereka di kembalikan.
"sebenarnya apa yang terjadi, Burhan!!" panggil pak Supono pada putra tertuanya.
__ADS_1
"iya ayah," jawab pria itu.
"apa kamu tak selidiki kenapa semua orang yang bekerja sama dengan kita mundur, ini aneh karena jika satu orang itu normal, tapi ini sepuluh orang, brengsek," marah pria itu.
"pak, ibu tidak mau jadi miskin, nanti apa kata keluargaku tentang ini," kata wanita itu yang membuat heboh juga.
"tutup mulutmu Bu, aku sedang pusing jangan menambah masalah," bentak juragan Supono.
Bagas baru pulang joging, dia kaget melihat banyak gabah dan jagung yang di kirim kembali ke rumahnya.
"hei pak no, ini ada apa?"
"saya juga tidak tau mas, tiba-tiba semua barang kembali seperti ini," kata pria itu.
Bagas pun masuk kedalam rumah, dia melihat Burhan dan ayahnya sedang sibuk.
"ada apa Bu,"
"ibu juga tak tau, tapi melihat ayah mu sepertinya dia marah besar," kata istri pak Supono.
juragan Supono pun marah, dan membanting ponselnya, dia menatap tajam ke arah Bagas.
"sudah ku katakan berkali-kali padamu, jangan berhubungan dengan wanita cacat itu, lihatlah karena kamu masih berhubungan dengannya dan dengan gobloknya mengusik suami wanita itu, kita bangkrut Bagas!!" teriak juragan Supono sambil menampar pipi anaknya itu.
"kamu bodoh ya, bagaimana bisa aku punya anak goblok seperti ini, bukan membantu kamu malah menghancurkan," marah juragan Supono.
"jangan bilang Bagas mengusik bos Javis," kata Burhan gemetar.
"jangan sebut pria bajingan itu, seharusnya semalam aku memukulnya karena berani menghinaku," kata Bagas dengan sombong.
tanpa bicara, Burhan langsung menghajar pria itu dengan kesal, bagaimana bisa pria itu begitu bodoh seperti ini sebagai adiknya.
"kamu goblok ya, semua orang disini tau, jangan mengusiknya jika ingin hidup damai, tapi sekarang kamu malah mengusiknya dengan begitu mudah, kamu tau, jika sekarang kita habis, aku tidak mau tau, sekarang minta maaf atau aku akan membunuh mu Bagas," ancam Burhan.
juragan Supono tak bisa berpikir lagi, bagaimana bisa, putranya menghancurkan dirinya semudah ini.
"sudah Burhan, lebih baik sekarang kita pergi ke rumah bos Javis dan minta maaf, jika perlu kita berikan sawah kita agar dia mau membantu kita, jika terus seperti ini, kita bisa-bisa benar habis semuanya,"
"iya ayah," jawab Burhan.
"tidak boleh, jika kalian memohon seperti ini, bukankah kalian sama saja mengemis," kata Bagas tak bisa terima.
"itu karena otak kecilmu, seandainya aku harus membuatmu cacat juga, aku akan melakukannya, jadi tutup mulutmu," marah Burhan.
__ADS_1
keduanya pun pergi, Bagas pun tak mengira jika Javis benar-benar melakukan ucapannya.
"semua ini terjadi karena wanita cacat itu, jadi ibu harus membuatnya membayar mahal," kata Bu Supono.
dia pun pergi ingin menemui Mei, dia tak bisa melihat Bagas di perlakukan buruk oleh ayah dan kakaknya.
juragan Supono dan Burhan sampai di sawah, terlihat Javis sedang mengawasi sawah miliknya.
"selamat pagi menjelang siang bos, kami ingin bicara," kata Burhan.
"tak ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian berdua, jadi tak usah repot-repot menjelaskan," kata Javis dingin.
"tolong bos, jangan bicara seperti itu, karena kami bisa hancur," kata juragan Supono.
"itu bukan urusan ku, itu terjadi karena mulut kasar putra mu, dan jika ingin menyalahkan, salahkan dia yang berani menghina ku dan istriku,"
"apa bos, maksud bos, Bagas menghina bos dan istri itu?"
"Ya... Mei adalah istriku, meski kami baru menikah secara agama tapi dia tetap istriku," kata Javis dingin.
"maafkan kami bos, tolong kembalikan reputasi kami, aku bersedia memberikan sebuah sawah sebagai permohonan maaf," kata juragan Supono.
"kalau itu, tanya istriku, dia yang akan memaafkan mu atau tidak," kata pria itu.
"baik bos," jawab keduanya yang langsung mengikuti Javis pulang.
sedang di rumah Mei, wanita itu sedang sibuk menyiapkan beberapa Puro untuk acara malam nanti.
tapi dia di perlakukan kasar oleh istri juragan Supono yang menariknya dan mendorongnya hingga jatuh ke pelataran tanah rumah.
"Mei!!" kaget bude.
pakde pun keluar ingin menolong Mei, tapi dua orang centeng wanita itu menahannya.
"dasar wanita tak tau malu, gara-gara kamu Bagas di pukul ayah dan kakaknya, seharusnya kamu mati bersama orang tua mu, dasar anak perampok sial!!" maki Bu Supono menjambak Mei.
motor Javis sampai di rumah, dan kaget melihat istrinya di perlakukan seperti itu.
"wanita sialan," maki Javis yang langsung mendorong Bu Supono dengan kasar tak peduli dia wanita tua.
"sayang kamu tak apa-apa?" kata Javis memeluk Mei yang sedang menangis.
"apa yang dilakukan wanita bodoh itu," marah juragan Supono.
__ADS_1
pasalnya pria itu yang memohon untuk belas kasih, tapi istrinya malah bertingkah menyakiti wanita yang bisa membujuk Javis agar tak menghancurkan keluarganya.