
Yuni yang memang sudah tak memiliki orang tua pun di walikan oleh kakeknya.
beruntung Deny sudah di kenal dekat oleh keluarga mereka hingga pernikahan pun di lakukan.
"ah aku tak mengira akan melihat dua pernikahan anak buah Ki seperti ini karena kesalahan mereka," gumam Mei memijat kepalanya.
"sayang tak masalah, asalkan mereka tetap bahagia," kata Javis merangkul istrinya.
"iya mas, tapi bagaimana dengan Wenda, yang aku tau dia sangat mencintai tunangannya,"
tanpa di duga orang tua dari Wenda datang dan langsung menampar pipi gadis itu di depan semua warga.
"dasar anak tak tau malu!!" bentak ayah Wenda.
"pak Pardi, tolong jangan kasar pak, ini tempat umum," suara Mei yang meninggi melihat Wenda diperlukan tidak adil begitu.
"anda itu hanya orang luar, jangan ikut campur, ini semua karena dia bekerja di tempat anda jadi liar seperti ini," marah pria itu menunjuk ke arah kiri.
Javis berdiri dan langsung mendorong pria itu hingga terpental keluar dari ruangan bale warga.
"jangan sampai aku potong tangan mu karena berani menunjuk istriku!!" marah Javis
Mei memeluk Wenda, semua pun mulai lagi, beruntung pernikahan Deny dan Yuni sudah selesai.
pak Pardi ingin menyerang Javis tapi di pukul hingga terduduk oleh Topan dan Adi.
"jangan bertingkah jika tak ingin mati konyol," kata Topan memukul kepala pria itu.
"pak Pardi, anda keterlaluan, bagaimana bisa anda melukai putri anda di depan semua orang,oh ya anda jangan lupa disini kami yang membuat keputusan, sesuai rapat dengan warga," kata ketua dusun.
"tapi bagaimana bisa putriku menikahi dengan pria miskin itu, dua harus menikah dengan keluarga kaya dari kota itu," kata pak Pardi.
"loh keluarga kaya, bukankah kamu bertunangan dengan mas Candra dari kampung sebelah," kata Mei kaget.
"semuanya di batalkan mbak, dan bapak memaksaku untuk menikah dengan pria pilihannya," lirih Wenda.
"kita bisa menikah, dengan kamu meminta seseorang menjadi wali mu,tapi itu berarti kamu menganggap bahwa bapak mu sudah mati," kata Iwan santai.
"Abah Sulaiman tolong nikahkan saya, saya ingin anda jadi wali untuk saya," kata Wenda.
"dasar anak tak tau di untung, bagaimana kamu menganggap ayah mu ini sudah mati!!"
tapi Wenda tak menggubrisnya, dia pun tetap melangsungkan pernikahan dengan Iwan.
__ADS_1
ada alasan besar di balik pernikahan dari Iwan dan Wenda, "baiklah semua sudah selesai bukan."
"iya bos, silahkan pulang," kata bapak kepala dusun.
"untuk kalian berdua, aku kasih waktu lima hari untuk cari dan beli rumah, karena jika kalian terlalu lama di rumah itu, akan membuat yang lain tidak nyaman," kata Javis.
"baik bos," jawab kedua pria itu.
mereka pun berpencar untuk pulang ke tempat masing-masing, sedang Iwan dan Deny mengajak istri mereka pulang ke rumah yang selama ini di jadikan basecamp.
mobil yang di bawa oleh Javis baru sampai rumah, Javis dan Mei langsung masuk kedalam rumah.
Javis memeluk tubuh istrinya dengan erat, "ada apa mas?"
pria itu sudah mencium tengkuk istrinya dengan sangat lembut, "uh... dasar mas Javis," kata Mei yang sudah tak bisa berkutik.
ya mereka berdua benar-benar menikmati malam panas berdua.
sedang Iwan masih duduk di kursi kamarnya sedang Wenda duduk di tepi ranjang.
"jadi apa rencana mu?" tanya Iwan
"besok pagi tolong antar aku ke tempat mas Candra untuk memintanya membawa ku kabur, setidaknya kita baru menikah siri dan anda bisa menceraikan saya dengan mudah bukan," kata wenda.
mereka pun tidur terpisah, Iwan memilih tidur di ruang tengah, dan saat Fery pulang dia hampir berteriak kaget melihat Iwan.
dia bingung bagaimana pria yang baru menikah itu malah tidur di ruang tengah, tak lama ternyata Deny juga memilih tidur di sana.
"lah kalian baru menikah sudah di usir?" katanya dengan suara mengejek
"tutup mulutmu, aku lelah mau tidur," kata Deny yang langsung lelap.
Fery pun merasa aneh dengan dua orang temannya itu, "apa pernikahan ini cuma mainan menurut kalian," gumamnya heran.
dia langsung menuju kamarnya karena tak baik mengurusi hidup orang lain.
keesokan harinya, Javis bangun dan masih mendapati istrinya di sampingnya, dia pun mengecup kening Mei.
"mas..."
"iya sayang,"
"aku lelah, boleh minta tolong awasi para pekerja yang akan memindahkan barang-barang warung, aku akan menjaga di tempat warung baru," kata Mei yang bangun.
__ADS_1
"tapi aku minta upah ku duluan," kata Javis yang kembali menindih tubuh istrinya.
benar saja pukul sembilan pagi pria itu baru keluar dari rumah, dan Javis sudah menyuruh empat anak buahnya membantu.
kecuali dua orang yang baru menjadi pasangan suami istri.
"bos tau gak, semalam Deny dan Iwan itu tidur di luar loh, dan sepertinya keduanya menyembunyikan sesuatu," kata Fery.
"mungkin istri mereka sedang datang bulan, karena takut tak kuat iman mereka tidur di luar, sudah kamu jangan malah gosip," kesal Javis mendengar percakapan dari anak buahnya itu.
Mei masih di kamar, dia benar-benar malas melakukan apapun, dan urusan pindah warung Javis yang mengaturnya.
"huh... suamiku ini benar-benar kok ya, bagaimana bisa aku sampai di buat lemas begini." gumamnya.
Latifah sedang duduk menikmati pemandangan yang menyenangkan bagaimana tidak, dia melihat para pria kekar sedang mengangkat- angkat barang.
Mei pun tak bisa terus di kamar, dia bangun dan mulai membuatkan es sirup dan camilan untuk semua orang.
dia melihat kedalam freezer dan beruntung masih ada sukun Frozen di dalamnya.
"sepertinya Bu sisi lupa kemarin menggoreng sukun ini, sudahlah aku goreng bersama pisang pasir saja," gumamnya.
sedang Javis tak mau ada yang tidak jadi dia ikut membantu, "semuanya ayo istirahat dulu," panggil Mei.
"iya Bu bos."
mereka semua pun berhenti dan duduk di teras, Mei berjalan ke arah toko milik latifah.
"maaf mbak Latifah, beli rokok Surya lima bungkus ya," kata Mei dengan sopan.
"seratus ribu, semua rokok mahal ya," kata Latifah dengan ketus.
"iya mbak, aku tau harganya kok, tenang saja aku tak akan protes," jawab Mei mengeleng pelan.
setelah dapat rokok dia pun bergegas pulang, dan memberikan rokok pada para pekerja.
sedang Javis menarik istrinya itu hingga jatuh di pangkuannya, "mas ih... malu itu di lihatin sama yang lain,"
"biarin saja, mereka jika pingin ya biar nikah, toh Fery sudah punya pacar juga, tinggal Adi,"
"ledek terus!! seneng banget kayaknya kalau ngeledekin orang," kesal Adi mendengar ucapan bosnya itu.
"kamu gak terima ya, padahal itu bener kan, uhuy... jomblo akut," kata Javis menjadi-jadi meledek anak buahnya itu.
__ADS_1