
akhirnya orang tua dari kedua pemuda itu datang ke warung, terlihat juragan Wawan yang masih terlihat muda.
Japar sudah dengan wajah marah ke arah kedua pemuda itu, melihat reaksi dari ayahnya.
Ibram bersembunyi di balik tubuh Mei dan habis, "ya bocah ini, tadi begitu sangar di jalanan, tapi sekarang kamu sembunyi kayak tikus begini,"
"diam om, lihatlah wajah ayah ku, sepertinya aku akan di mangsa olehnya," kata Ibram tersenyum.
"Ibram kemari dan jelaskan apa yang terjadi," panggil Japar.
"takut ah ayah, ayah Javis bisa jelaskan, yang salah Satria bukan aku, beneran deh," kata Ibram yang masih di belakang tubuh Mei.
"sudah biar aku yang jelaskan,ayo duduk dulu, itu Mbahnya juga masih istirahat disana," kata Javis.
mereka duduk bersama, dan terlihat juragan Wawan sangat marah pada putranya.
pasalnya satria harusnya menjadi putra kebanggaan bukan jadi pemuda urakan seperti ini.
terlebih setelah semua yang mereka hadapi untuk mendapatkan kebahagiaan ini.
"baiklah mas Javis terima kasih sudah membantu mengamankan putraku, jika tidak mungkin dia sudah di massa oleh semua orang tadi," kata juragan Wawan.
"sudah juragan kita ini semua kenalan, tapi yang tak ku sangka kenapa Ibram dan Satria bertingkah seperti orang yang tak pernah sekolah saja," kata Javis.
"iya mas kamu benar, kadang aku juga heran jika ikut karate saja itu tak masalah, tapi mereka ini sering sekali ikut tawuran," kata Dian memijat keningnya.
"sepertinya mereka sudah waktunya untuk mereka masuk kedalam pondok pesantren untuk memperbaiki sikap mereka," kata Wulan.
Ibram sebenarnya keberatan, tapi dia tak bisa menolak perintah orang tuanya.
sedang Satria juga tak ingin membuat orang tuanya sedih karena dia adalah anak yang di tunggu sudah cukup lama oleh juragan Wawan.
"aduh lihat itu muka dua pemuda ini sudah pucat begitu," ledek Mei.
akhirnya mereka pulang dan juragan Wawan menyelesaikan semua permasalahan dengan orang yang di tabrak oleh satria.
sedang Mei menutup warung karena memang sudah sepi, dan besok jadwal Dian yang jaga
keduanya pulang dan tak lupa menjemput ketiga anaknya, "ayah, bagaimana perasaan mu jika salah satu dari mereka ingin mondok?"
"tentu saja ayah senang bunda,karena itu adalah keinginan yang baik dan mulia, tapi tentu bukan pondok yang sembarangan, karena jika putri atau putra ku ingin mondok, tentu itu harus di tempat yang bagus," kata Javis
"lihat ayahnya tak ingin putrinya sengsara di pondok, sudah itu terserah anaknya," kata Mei tersenyum.
padahal Javis sudah memiliki beberapa tempat rekomendasi jika anak-anaknya ingin mondok.
karena tempat itu bertaraf internasional dan sering melakukan pertukaran pelajar ke Yaman atau Mesir.
tiba-tiba ponsel Mei berdering, "ya assalamualaikum, ada apa mbak?"
__ADS_1
"waalaikum salam... bunda jemput, kamu sudah pulang," kata Lessa dari sebrang telpon.
"iya iya iya,ini bunda dan ayah masih di jalan, yang sabar to," jawab Mei tersenyum.
mendengar itu, Javis langsung menginjak pedal gas mobilnya dan langsung segera melesat ke pondok putrinya.
"pelan ayah," kaget Mei.
tak lama mereka sampai di daerah sekolah dari anak-anaknya.
ketiganya langsung masuk kedalam mobil, "assalamualaikum.... kok tumben mbak,"
"waalaikum salam, karena gurunya sedang rapat bunda,", jawab Jefry.
"baiklah-baiklah sekarang kita mau pulang atau mau makan bakso dulu," tanya Javis pada ketiga anaknya yang sudah masuk kedalam mobil.
"makan mie ayam!!" terik ketiganya.
"kalian ini gimana, ayah itu nawarin bakso loh,"
"tapi kami suka mie ayam!!" protes ketiganya.
Mei pun ana tertawa saja,"dasar anak bunda kalian ini, pecinta mie," kata Javis.
Mei tersenyum bahagia, dia tak menyangka akan memiliki keluarga lengkap dengan yoga orang buah cinta mereka.
begitupun dengan Javis, dia tak pernah membayangkan kehidupannya yang begitu berantakan selama ini.
Mei adalah seperti cerminan dirinya, wanita yang selalu terlihat sabar dan baik itu akan sangat mengerikan saat marah.
tapi Javis bersyukur di dalam rumah tangganya tak akan ada masalah yang datang, meski itu seperti riak atau ombak yang ingin menghancurkan tapi pernikahan mereka terlalu kuat.
jadi sekarang Javis bersyukur dengan semua yang dia miliki, termasuk semua kebahagiaan ini yang rasanya tak ingin lepas dari tangannya.
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
halo semuanya, selamat malam ini adalah akhir cerita, yang sebenarnya ini akan lanjut ke judul baru biar nanti tak bertanya-tanya.
ini siapa kok tiba-tiba banyak pemerannya, jadi aku buat cerita ini agar sedikit menjelaskan.
tunggu cerita selanjutnya ya, yang berjudul KESABARAN HATI ...
sebenarnya mau buat judul kesabaran cinta, tapi karena judul itu sudah pernah otor pakai, dan kebahagiaan cinta juga sudah.
jadi sekarang author pakai itu saja untuk judulnya, jadi jangan lupa mampir ya, oh ya jangan lupa untuk vote, like dan komen....
Kau anggap diriku
__ADS_1
Bagai ranting yang kering
Kau diam, kau acuh
Dan tak pernah kau sentuh
Ujian ataukah hinaan untuku
Diriku ke kanan dan kau pun ke kiri
Kau anggap diriku bagai ranting yang kering
Perasaanku berbakti untukmu
Makan pagi kusiapkan semua
Mati ataukah hilang perasaanmu?
Apa memang pindah ke lain hati?
Jadi aku harus apa?
Masa sih, aku diam saja?
Apa memang kau tunggu jatuh ke tanah?
Kau anggap diriku bagai ranting yang kering
Perasaanku berbakti untukmu
Makan pagi kusiapkan semua
Mati atau hilang perasaanmu?
Apa memang pindah ke lain hati?
Jadi aku harus apa?
Masa sih, aku diam saja?
Atau memang kau tunggu jatuh ke tanah?
Kau anggap diriku bagai ranting yang kering
Kau diam, kau acuh
Dan tak pernah kau sentuh
Ujian ataukah hinaan untuku
__ADS_1
Diriku ke kanan dan kau pun ke kiri
Kau anggap diriku bagai ranting yang kering