Si Berandal, Milik Meidina

Si Berandal, Milik Meidina
berandal muncul


__ADS_3

Reihan, Niko dan Juan kaget melihat para pria bertopeng itu, "tak ku sangka kalian juga datang ingin berebut benda itu dengan kami," ejek Juan.


"sudah ku katakan untuk diam," marah kang carok.


"aku tak tertarik dengan transaksi ini, tapi aku hanya ingin tau siapa orang yang berani mengunakan nama kakek ku untuk transaksi gelap seperti ini," kata Javis.


"tentu saja orang kepercayaan yang diperbolehkan mengunakan nama itu," jawab pria itu.


"baiklah kalian bisa lanjutkan, aku akan pergi bersama dengan seluruh anak buah ku," kata Javis.


tapi tanpa di duga geng serigala merah menyerang berandal dari belakang.


Javis langsung berbalik dan membuat mereka semua kuwalahan.


di depan dua geng besar itu, Javis dengan mudah membunuh dua puluh orang itu dengan mudah.


bahkan semua orang itu mati duduk dengan kepala yang patah, dan ini adalah ciri khas berandal dalam membunuh musuhnya.


seseorang melompat turun dari pohon, "kenapa kamu buru-buru pergi, sekarang barang ini milik mu, dan lakukan transaksi itu," kata seorang berpakaian hitam melempar sebuah kalung berlian di dalam kotak.


"ini tak berguna," kata Javis.


"tentu saja, karena jika ingin membuat sabu, kamu harus mencampurnya dengan beberapa bahan," jawab wanita itu santai.


wanita itu pun menghilang dari tempat itu di ikuti oleh kelima orang itu.


"aku butuh berlian itu, dua milyar rupiah," kata Reihan.


"aku kasih harga satu setengah milyar, aku akan bagi menjadi dua, "


Reihan setuju, Niko pun setuju, dan sekarang mereka malah dapat uang yang cukup banyak


dan untuk semua mayat itu mereka di seret dan di buang ke danau yang ada di daerah hutan itu.


sebenarnya itu memang bukan berlian melainkan bahan baku pembuatan narkoba.


pukul dua malam Javis pulang membawa uang yang sudah di bagikan tadi.


saat dia sampai dia melihat Mei yang masih tidur di atas sofa, "emm... mas sudah pulang,"


"iya sayang, kamu lanjut saja tidurnya, aku akan menaruh tas ini dulu ya," kata Javis.


Mei pun mengangguk dan berjalan ke kamarnya, dia kaget karena tiba-tiba kakinya terasa nyeri "aw..."

__ADS_1


"ada apa sayang," kaget Javis


"sepertinya kaki ku kram," jawab Mei


Javis tanpa bicara langsung mengendong istrinya itu ke kamar dan istirahat.


besok dia bisa menyimpan uang itu, karena Mei selalu jadi yang utama di hati Javis.


keesokan harinya Nurul nampak begitu senang saat di warung, semua merasa jika sikap gadis itu sedikit berlebihan.


"kamu habis kesambet apa, kenapa dari tadi senyum mengerikan seperti itu?" tanya Risa melihat Nurul.


"tidak ada kok, tapi jujur saja aku sedang kasmaran dengan seseorang, dia yang bisa menolong ku," kata Nurul.


"aduh siapa itu, kok aku penasaran ya," tanya Bu mut.


"mas Lukman," jawab Nurul tanpa malu.


"jangan berharap terlalu tinggi, terlebih dengan pria yang tak bisa tergapai, kamu tak tau siapa dia yang sebenarnya," kata Yuni.


"apa maksudnya mbak, buktinya mbak Yuni bisa menikah dengan mas Deny, apa aku tak bisa," tanya Nurul.


"tentu saja bisa, jika kamu punya masa lalu yang bersih, karena bos Javis bukan orang yang akan mudah menerima seseorang begitu saja," jawab Yuni.


sedang Risa terlihat langsung terdiam dari tadi,entah apa yang sedang dia pikirkan saat ini.


mobil yang akan mengantar Javis dan Mei ke bandara sudah datang dan hari ini yang mengantar adalah Adi dan Iwan.


sedang Fery sudah izin libur hati ini karena ada kegiatan sendiri, tentu habis mengizinkan terlebih pria itu sedang berusahalah untuk meyakinkan gadis yang dia sukai.


"kita ke warung dulu untuk sarapan, pasti semua belum makan bukan," kata Mei.


"baik Bu bos," jawab Adi.


sesampainya di warung terlihat cukup ramai pagi ini, ketika keempat orang itu turun dari dalam mobil.


Yuni langsung menyambut Mei, "Bu bos mau sarapan, di ambilkan nasi campur seperti biasa?" tanya wanuita itu yang memang sudah tau kesukaan Mei.


"boleh, dan tolong teh hangat saja ya, karena saya tak terlalu es di pagi hari, dan kenapa muka kalian murung semua, apa ada masalah?" tanya Mei yang merasakan atmosfer tersendiri.


"tidak ada Bu bos, Kami tadi sedang berdebat dan seperti biasa aku menang, ho-ho-ho..." kata Yuni.


"kamu memang tak terkalahkan saat mendebat seseorang, baiklah aku tunggu di depan ya,"

__ADS_1


Yuni sudah tau jika akan ada perpecahan jika terus seperti ini, "jika kalian tidak ada yang bisa mengontrol emosi, lebih baik aku bilang agar mbak Mei yang membereskan," ancam Yuni.


"tidak mbak, tolong jangan lakukan itu, kami minta maaf atas ketidaknyamanan yang kami buat," kata Nurul.


Risa langsung keluar mengantar teh panas tawar, karena keempat orang itu tak suka manis.


"aduh Risa, tumben tak tanya dimana Lukman?" ledek Iwan.


"tidak mas, saya tak penasaran lagi," jawab gadis itu dingin.


"dia hanya membantu untuk menolongnya, dan jangan di masukkan ke hati saat kamu mendengar hal yang aneh-aneh," kata Javis.


"maksudnya sayang, kamu ngomong apa sih," bingung Mei penasaran.


"ini loh sayang, kemarin itu Lukman menolong Nurul dari orang jahat, dan takutnya dia ini cemburu dan berpikiran yang tidak-tidak, padahal lebih baik kan tanya pada orangnya langsung," kata Javis.


"owh maksudnya Risa ini lagi Deket sama cak Lukman, dan kemarin malam cak Lukman menolong Nurul, terus Risa marah, ayolah adek adek ku ini kenapa sih, jika kamu gampang cemburu buta seperti ini, aku jamin hubungan kalian tak Akan sehat, beri kepercayaan, tapi jika masih nakal lagi, tinggal sunat habis," kata Mei.


"sayang..."


"kan bener mas, kalau masih nakal," kata Mei tertawa.


Risa malah malu mendengar ucapan Mei, "sudah ah mbak aku kedalam dulu,"


Yuni yang mengantarkan makanan ke meja itu, "kamu gak curhat juga, mumpung masih di sini?"


''gak deh mbak, aku sudah tau apa yang aku ingin tau, terlebih aku malah langsung melihat dan menyentuhnya," kata Yuni tersenyum malu.


"memang kamu mau tau apa?" kata Mei bingung


Yuni membisikkan sesuatu, dan membuat Mei kaget tak percaya mendengar hal itu dari mulut Yuni.


"dasar mesum,kamu ini benar benar ya Yun," kata Mei mencubit Yuni.


"sudah ah mbak, selamat liburan sambil kerja, oh ya nitip kemplang ikan ya, disana kan terkenal sangat enak," terang Yuni


"tenang nanti di bawakan, satu kan," kata Mei.


"ih ya kurang dong, tiga deh atau lima," kata Yuni


"kamu bayar bagasinya ya, kan sekarang kelebihan bagasi harus bayar,"


"ih mbak..."

__ADS_1


__ADS_2