
Mei merasa jika tubuhnya tiba-tiba merasa tak enak, ya sudah sebulan ini dia kekurangan istirahat.
belum lagi suaminya yang terus minta jatah tak pernah lelah, tapi dia harus sehat jika tidak besok bisa gagal lagi.
"semuanya sudah di bereskan, kalau begitu kita bisa pulang," kata Mei pada semua anak buahnya
"iya mbak, kami akan pulang," jawab mereka berlima
tak butuh waktu lama, mereka semua berpencar, Mei juga tak mampir kemana pun toh dia sudah tak ada pekerjaan.
sedang Lukman,salah satu anak buah dari Javis sedang santai di rumah.
ya hari ini adalah jatah liburnya, tapi dia bingung mau ngapain juga di rumah sendirian begini.
untuk semua laporan yang menjadi tanggung jawabnya juga sudah selesai.
"enaknya ngapain ya, pijet enak nih, tapi dimana ya," gumamnya.
dia pun menghubungi salah seorang anak buahnya yang memang terkenal tau berbagai macam tempat.
setelah menghubunginya, Lukman pergi dengan pria itu ke sebuah panti pijat.
dia juga tak berpikiran yang aneh-aneh, tapi yang mengejutkan pria itu adalah buruk yang baru masuk ke tempat itu.
tanpa tanya Lukman memegang tangan gadis itu dan menariknya keluar, "apa yang kamu lakukan disini?"
Nurul pun gemetar,dia tak mengira akan melihat sosok Lukman dan dia ketahuan secepat ini.
"mas tolong jangan bilang mbak Mei, aku bekerja di tempat ini juga baru, aku butuh uang mas," mohon Nurul di depan Lukman.
"loh memang kenapa?" bingung pria itu.
"ini tempat pijat plus-plus mas, mas tidak tau?" kata Nurul heran
"sialan Diki, kenapa mengajakku ke tempat ini, sekarang kamu keluar dari tempat itu, karena tentu kamu tak akan membayangkan apa yang bisa di lakukan bos Javis, saat kamu membuat nama baik istrinya tercemar,"
"memang kenapa, ini keputusan ku," kata Nurul.
"aku tau itu bodoh, tapi sekali kamu membuat nama baik Bu bos tercemar, maka kamu dan keluargamu tak ada jaminan akan selamat dari pria itu," kata Lukman.
__ADS_1
"tapi aku harus membiayai dia adikku yang masih kecil dan juga ibu ku yang sedang sakit," kata Nurul lirih.
tanpa di duga, Lukman menariknya masuk kedalam tempat itu, tapi bukan untuk bekerja.
melainkan untuk menemui pemilik tempat itu, bahkan saat Lukman menendang pintu itu hingga rusak membuat pria yang ada di dalam sana ketakutan.
"bos Lukman, ada apa?"
"dia bekerja di tempat mu berapa lama?" sarkas Lukman.
"baru tiga hari,tapi dia termasuk jajaran gadis pilihan yang harus memakai pengaman saat bekerja," jawab pria itu berlutut di depan Lukman.
"aku menginginkan gadis ini,jika aku tau kamu dan semua rekan mu berani memperkerjakan gadis ini, aku akan membuat mu paham sesuatu, mengerti?"
"baik bos Lukman," jawab pria itu ketakutan.
Nurul pun di tarik keluar dari tempat itu,dan di bawa pergi oleh Lukman, "mas aku mau kamu ajak kemana?" tanya gadis itu ketakutan.
"goblok diamlah!!! kamu bilang jika kamu ingin punya uang untuk membiayai adikmu, seharusnya kamu bekerja dengan cara yang hebat, bukan seperti ini, jika kamu terkena penyakit dan mati, bukankah mereka akan sedih dan terlantar," marah Lukman.
mendengar suara keras Lukman membuat Nurul terdiam, tapi yang di katakan pria itu benar.
"aku sudah melayani total lima pria, dan yang terakhir, dia tak mau melakukannya tapi keluar di luar dengan bantuan mulut saja," jawab Nurul ketakutan.
ya itu dimana dia bertemu Yuni, dan itu karena ulah pelanggannya yang tak tau aturan.
Lukman sampai di depan sebuah klinik dokter spesialis kulit dan kelamin.
"permisi, aku ingin melakukan pemeriksaan untuk kekasih ku," kata Lukman yang membuat Nurul kaget.
tapi dia tak bisa membantah, karena tatapan pria itu sangat mengerikan, dan dokter memeriksa dan melakukan tes IVA pada Nurul.
beruntung hasilnya baik, begitupun dengan hasil tes yang lain, Lukman terus menatap tajam ke arah Nurul.
Javis tiba-tiba menelponnya, "hei kamu melakukan kegilaan apa lagi sih, kenapa kamu meminta anak buah Dito untuk mu,memang kamu sefrustasi itu sampai mengambil wanita malam, aku bisa mencarikan mu pasangan jika perlu," kata Javis dari sebrang telpon.
pasalnya dia baru saja dapat laporan dari pemilik panti pijat yang memang menyewa tempat Javis.
"tapi aku hanya ingin dia, aku akan keluar dari rumah bos, dan tentu bos tau keputusan ku," kata Lukman yang terdengar begitu tegas.
__ADS_1
"baiklah, tapi ingat jangan menyesal di kemudian hari," jawab Javis yang tak bisa terlalu ikut campur pada kesenangan anak buahnya.
Iwan dan Adi yang mendengar awalnya juga kaget, tapi itulah Lukman sering bertindak sesuka hatinya.
sedang di rumah, Mei sudah berkemas dan dia juga merasa lebih baik setelah minum vitamin.
"emm... enaknya ngemil apa ya," gumamnya yang sedang gabut.
dia membuka kulkas dan melihat ada banyak buah di dalam sana, tapi dia sedang tak ingin makan buah-buahan.
akhirnya dia memilih untuk membuat pisang coklat karena melihat kulit lumpia.
setelah membuat beberapa dan selesai di goreng, dia pun duduk di depan tv sambil memakan camilan itu
tiba-tiba dia ingat pada Javis, "halo mas, kamu sedang dimana?"
"aku ada di Madiun sayang, maaf tak cerita dan sepertinya aku pulang telat nanti," terang Javis.
"yah....terus liburan Kita gagal lagi?"
"tentu tidak sayang, kita tetap liburan, besok pesawat kita jam dua belas siang kok, jadi kita bisa santai,"
"baiklah, mas sudah makan siang, maaf karena telat bertanya karena tadi aku sibuk di warung," terang Mei yang sedang tiduran santai
"sudah, tapi aku sudah rindu masakan mu, tapi tak masalah, nanti tak usah menunggu ku pulang, kamu istirahat saja ya sayang,"
"iya mas, mas juga tolong hati-hati ..."
"iya sayang," jawab Javis.
Adi sudah bertukar pesan dengan Lukman, ternyata pria itu benar-benar keluar dari rumah.
ternyata diam-diam pria itu sudah memiliki beberapa rumah kontrakan, dan rumah untuk tinggal ya meskipun jauh dari pemukiman warga.
"apa dia berniat untuk membangkang?" tanya Javis pada Adi.
"tidak bos, dia hanya mengatakan bahwa dia ingin hidup sesuai keinginannya, jadi dia bebas tapi tetap setia pada anda," jawab Adi.
"baiklah, tapi ingat jika kalian berani melakukan sesuatu yang menghianati ku, tentu kalian tau konsekuensinya," kata Javis dingin.
__ADS_1