
"Alhamdulillah,aku tak tau akan jadi seperti apa jika terjadi sesuatu dengan kalian," kata Dian merasa sangat tak enak.
"anak seorang Meidina pasti kuat mbak tenang saja, tapi bukankah kalian menenangkan seseorang," kata Mei.
"jangan sebut nama mereka sayang, aku bahkan tak Sudi, dari dulu dia selalu melakukan kecurangan saat melawan ku, jika tidak dia tak akan bisa seperti saat ini,"kata Javis yang terdengar marah.
"sebenarnya aia yang terjadi, sepertinya kalian sangat bermusuhan," kata Japar yang ingin tau cerita yang sesungguhnya dari pria itu.
"tak perlu di bahas, aku selalu marah saat mengingatnya, sudah silahkan di nikmati, dan jagoan, kamu mau nantinya membantu menjaga adem bayi di perut ibu Mei?" tanya Javis pada Ibram.
"adek... mau," jawab bocah itu.
bocah itu memang sangat mengenaskan, dan Dian serta Japar bertamu cukup lama sekalian makan malam di sana atas permintaan dari kedua tuan rumah.
"lain kali main kesini lagi ya," kata Mei yang mengantar kepergian dari Dian dan keluarga.
"tentu, jamu juga naib ke rumah ku, biar aku juga bisa menunjukkan gubuk sederhana kami," kata Dian yang berpelukan dengan Mei.
"aku pamit dulu ya, terima kasih atas sambutan hangatnya,"
"iya bung, kapan-kapan kami akan maun ke rumah mu ya," kata Javis.
mobil Jeep itu pergi meninggalkan kediaman Mei dan Javis, keduanya tersenyum sambil melambaikan tangan.
"kalian seperti adik dan kakak, bahkan cara jalan sama," kata Javis tertawa.
__ADS_1
"kamu mengejekku ya mas, ya mau bagaimana lagi kami pernah mengalami patah tulang, jadi ya jadilah kalau jalan diklok,"
"aduh sayang aku cuma bercanda, kenapa menanggapinya begitu serius sih," kata Javis panik.
pasalnya dia ingin menggoda istrinya saja, tapi nyatanya itu seperti bumerang untuknya.
"sudah kalau mau aku maafkan, sekarang cuci piring di dalam tanpa bertanya,"
"siap Bu bos," jawab Javis tersenyum sambil memberikan hormat.
"ingat jika tak bersih saat cuci piring, di larang masuk kabar, atau sampai berani minta peluk atau jatah," kata Mei.
"iya sayang, aku paham..."
sedang di rumah yang lain, seorang wanita itu tak percaya melihat rumah yang di beli untuk tempat tinggal dirinya dan keluarganya.
"tentu sayang, ini rumah yang aku beli untuk rumah tinggal kita, dan jarak tiga rumah dari rumah kita itu rumah pak bos, jadi kalau ada apa-apa kita bisa segera kesana,ya karena bagaimanapun aku harus selalu siap sedia bukan," kata Fery.
Eka pun tersenyum mendengarnya, "tentu, karena itu pekerja mas,"
mereka akan pindah besok pagi, karena rumah itu baru di bersihkan, sedang di tempat lain.
Adi sudah berada di rumah pria yang di maksud oleh pria yang memberikan pekerjaan itu.
ternyata pria itu tinggal di sebuah perumahan baru, dan rumahnya termasuk sangat bagus.
__ADS_1
jadi dia akan mudah menyergapnya nanti, terlebih pria itu tak memiliki pembantu atau apapun itu.
bahkan Adi bisa melihat wanita yang masih dalam ikatan pernikahan dengan Samsul datang kedalam rumah itu.
Adi sedang menyamar jadi pedagang bakso keliling dengan motor.
"bang bakso dong dua," panggil pria itu.
"mau yang biasa apa yang jumbo Bu?" tanya Adi yang berpura-pura jadi tukang bakso.
"boleh dong yang jumbo," jawab wanita itu tanpa curiga.
tak lupa Adi memasukkan obat kedalam bakso yang di jual olehnya, untuk melumpuhkan kedua orang itu.
setelah Adi mengantar bakso,dia menunggu selama sepuluh menit, dan ternyata obat itu sudah bekerja.
"ups .. sepertinya aku kebanyakan menaruh obat, maaf ya nyonya dan selingkuhan mu, aku perlu pria busuk ini," kata Adi yang menarik pria itu ke kamar dan menemukan brangkas dengan mudah.
dia pun langsung mengunakan anatomi tubuh pria itu untuk membukanya.
ternyata benar empat sertifikat tanah, tiga BPKB mobil dan juga ada tiga puluh gepok uang di brangkas itu.
"sialan, ternyata kalian benar-benar merampok pria itu," gumamnya mengambil semua barang.
Adi mengikat wanita yang tak berdaya itu, dan mengancamnya "dengarkan ini baik-baik wanita kejam dan picik, sekali kamu buka mulut busuk mu itu, aku akan pastikan kepala pria mu itu akan terpisah dengan tubuhnya, ingat itu," ancam Adi.
__ADS_1
wanita itu hanya bisa menangis, dan Adi membawa mangkok bakso miliknya pergi.
tidak akan bisa dia di tangkap karena dia mengunakan samaran untuk melaksanakan perampokan Lo itu.