Si Berandal, Milik Meidina

Si Berandal, Milik Meidina
tujuh bulanan


__ADS_3

setelah kejadian itu, Nurul yang hilang tak jadi masalah untuk mereka karena mereka tak ingin lagi berurusan dengan wanita itu.


hari berganti bulan, tak terasa sudah tujuh bulan berlalu, kehamilan Mei sangat baik dan lancar.


bahkan dia tak merasakan kesulitan selama kehamilan ini, bahkan bobot tubuhnya naik Lima belas kilogram.


hari ini restoran gratis buka, Mei dan Dian sedang membantu membungkus nasi yang akan di jual.


ya karena sistem sekarang nasi di jual dalam bentuk bungkus karena agar semua orang kebagian.


Mei duduk di salah satu meja bersama Dian, "mbak di kecil tumben tidak di ajak, padahal aku ingin bermain bersamanya,"


"dia di rumah bersama Mbahnya dek, oh ya kamu tau aku bermimpi kita besanan loh, jadi aku tak sabar mau menjadikan putrimu menantuku," kata Dian tersenyum.


"mbak ini ngomong apa, dedek bayi saja belum lahir, lagi pula aku yakin jika Ibram besar pasti banyak gadis yang suka, terlebih putri dari mbak Hujan sepertinya sangat suka pada putra mbak," kata Mei.


"entahlah, aku tak mengerti, tapi yang pasti aku ingin Ibram memiliki istri yang Sholehah, bukan beda agama, atau itu akan menyulitkannya," kata Dian.


"aduh omongan kita kayaknya kejauhan ya, orang bocah e saja masih piyik," kata Mei.


Dian tertawa, yang di ucapkan oleh mei itu benar, bocah kecil itu saja belum bisa bicara dengan lancar tapi sudah bicara tentang jodoh.


pukul tiga sore semua sudah selesai terjual dan habis, Javis dan Japar datang di waktu hampir yang bersamaan.


"loh jemput bang, aduh makin gede saja tuh badan," ledek Javis melihat tubuh Japar.

__ADS_1


"efek bapak-bapak anak satu, kamu nanti jangan seperti ku, ya kali baru punya anak satu tubuh mu mulai tak beraturan begini," kata Japar tertawa.


"tentu saja tidak bang, jika aku bablas bisa amsyong diriku jika sampai istriku di rebut orang, mana bodinya super montok gitu," kata Javis tertawa bersama Japar.


"ya kamu benar, mungkin aku juga bisa gila kalau sampai di tinggal istriku," kata Japar.


"aduh bapak-bapak ini ngomongin apa sih kok sampai ketawanya keras banget, jangan bilang mas Japar keluarin joks tak lucu itu ya," kata Dian menyalami tangan suaminya itu.


"tentu saja tidak sayang, aku hanya sedang membahas sesuatu dengan mas Javis, biasa pekerjaan," kata Japar merangkul pinggang istrinya.


"benarkah, ingat mas besok ada acara di rumah, mbak Dian dan keluarga silahkan datang, besok ada acara tujuh bulanan yang akan di sertai pengajian oleh warga sekitar," kata Mei.


"baik, dengan senang hati," jawab Dian yang akan sebisa mungkin menghadiri acara itu.


Mei dan Javis pun pamit, keduanya akan melihat pesanan keranjang buah untuk acara besok.


Mei tak mengira jika Javis begitu bahagia saat tau jika anak yang di kandung mei adalah bayi perempuan.


"mas apa tidak berlebihan untuk acara besok, ini kamu beli setidaknya ada tiga box loh untuk bingkisan," kata Mei mengingatkan.


"tentu saja tidak, dia adalah putri pertama yang aku impikan, kamu tau kan aku tak sabar menunggu kehadiran putri kecil kita ini," kata Javis senang


"baiklah, tapi biasanya seorang ayah akan senang jika punya bayi laki-laki untuk anak pertama tapi kamu kok ya kebalik," kata Mei tertawa geli.


"entahlah, aku sangat ingin punya putri yang baik seperti mu saat tau kamu hamil sayang, bukan aku tak suka bayi laki-laki, tapi aku membayangkan akan ada tangan kecil yang mengenggam tangan ku dan bilang, aku sayang ayah," kata Javis berkaca-kaca.

__ADS_1


mendengar itu Mei pun tau jika Javis ingin menjadi sosok yang di cintai putrinya, seperti pepatah bilang.


cinta pertama anak perempuan itu adalah ayahnya, maka bisa di pastikan jika nanti putri mereka akan jadi wanita tangguh terlebih Javis dan Mei adalah orang yang tegar dan kuat dalam hal apapun.


Eka, Yuni dan semua pegawai sibuk di rumah pasangan itu, mereka menyiapkan kue-kue.


pagi itu ada acara pengajian yang di sertai santunan anak yatim dan para janda.


setelah acara pengajian, siangnya ada sesi foto dan tingkepan khas Jawa, dan semua tamu undangan datang.


acara berjalan lancar, bahkan mereka juga banyak mendapatkan hadiah.


Samsul datang sambil memberikan tanda terima kasih hadiah untuk keluarga Javis.


Adi menyapa pria itu, karena berkat mengurus masalah Samsul,Adi bisa punya tabungan cukup banyak dari upah membereskan istri dan pria selingkuhan Samsul.


sore hari, semua acara selesai, semua orang sedang beristirahat, Mei mengeluarkan hadiah.


"ini ada sedikit bingkisan untuk Kelian semua, jangan di lihat dari nilainya," kata Mei yang membagikan bingkisan.


mereka kaget saat membukanya, ternyata itu adalah gelas emas yang bentuknya sama dan gramnya juga.


"Bu bos!!! ini..." kaget semua pegawai Mei.


"hadiah untuk semua yang sudah bekerja keras, kalian berhak mendapatkan itu, terima kasih sudah setia membantuku untuk membuat warung itu makin besar," kata Mei.

__ADS_1


"kami yang harusnya berterima kasih, karena tak mungkin ada orang sebaik ini, bahkan dalam memperhatikan setiap pekerjanya selain Bu bos dan pak bos," kata Bu Susi yang memang merasakan sekali perbedaan setelah ikut Mei.


__ADS_2