Si Berandal, Milik Meidina

Si Berandal, Milik Meidina
berhenti dong


__ADS_3

Mei merasa sedikit aneh dengan suaminya itu, pasalnya bagaimana Javis sebagai pria bisa tahan selama ini, terlebih setiap malah dia membantu Mei mengobati semua bekas lukanya.


karena penasaran, Mei pun duduk melihat ke arah Javis, "mas boleh tanya?"


"tentu sayang,"


"mas masih bisa kan?"


"apa maksud mu masih bisa, memang aku gak bisa apa?" tanya Javis bingung.


"adik kecil itu masih bisa di gunakan bukan?" tanya Mei penasaran


"memang kenapa, si kecil baik-baik saja loh, kalau dia sedang bangun kamu bisa kaget karena ukuran sama bentuknya, ha-ha-ha."


"ih aku serius, kan aneh saat seperti ini saja mas sepertinya tak minat padaku, lihatlah padahal aku sudah seperti ini," kata Mei membuat mata Javis melotot.


"ya Tuhan sayang, berhenti melakukan itu, kamu tau aku dari tadi berusaha membuat adikku tak bereaksi, tapi kenapa kamu malah pamer kates Bangkok begini,mana putih mulus begitu," kesal Javis menutup mata.


Mei tertawa saja, ternyata suaminya itu sudah tersiksa seminggu ini, "loh memang kenapa mas kok gak minta jatah?" tanya Mei heran.


"habis kamu pakai roti gitu sudah lima hari," kata Javis.


"oh itu, iya ya, aku belum selesai menstruasi, sudah sekarang tidur yuk," ajak Mei.


"sayang terus nasib si Otong gimana,"


"suruh tidur, kan besok kita harus ke bandara, nganter pakde dan bude,"


Javis pun terpaksa tidur dengan keadaan yang sedikit terpaksa, tapi tanpa di duga, Mei melakukan servis yang sangat hebat.


"sayang kamu ngapain... tolong... itu..." kata Javis menutup mulutnya.


"aku sepertinya bisa karena kebanyakan nonton film dengan dua anak buah ku deh," kata Mei tersenyum.


Javis pun tak mengira jika dia benar-benar bisa merasakan kenikmatan dengan istri barunya.


padahal dulu dia tak pernah tertarik dan merasakan reaksi meski di goda oleh banyak wanita.


tapi dengan Mei, semuanya berubah, dia bahkan sangat bahagia sekarang, dan keduanya tidur berpelukan.


pukul setengah empat pagi, Mei sudah siap dan membawakan semua oleh-oleh untuk anak-anak dari pakde dan bude.

__ADS_1


"nanti janji main ya ke Samarinda,"


"iya bude, insyaallah bulan depan," kata Javis yang sudah berada di jalan tol.


perjalanan cukup singkat, karena jam setengah enam pagi pesawat mereka harus take off.


"mau pulang?"


"tunggu dulu mas, ayo sarapan di kota sini, mumpung kita di Surabaya,"


"baiklah, dan aku akan mengenalkan mu pada beberapa karyawan di tempat usahaku," kata Javis.


mereka menuju ke sebuah warung Sego campur yang cukup terkenal di kota itu.


ternyata cara jualan setiap orang beda, "aduh kenapa beda dengan buatan istriku ya,"


"iya, ini rasanya enak banget mas," kata Mei.


"bukan, tapi buatan mu yang paling enak sayang," kata Javis yang membuat Mei tersipu malu.


setelah selesai makan, mereka berangkat menuju ke sebuah bengkel yang cukup besar.


ternyata itu adalah bengkel milik Javis yang di kunjungi satu bulan sekali.


setelah itu mereka berpindah ke toko sembako yang ada di kota sebelah.


dan toko sembako itu di kenal paling besar dan sangat lengkap, "sekarang toko ini milik mu,jadi semua keuntungan toko akan masuk ke rekening milik mu ya sayang," kata Javis merangkul Mei.


"apa, ya jangan begitu dong mas, ini kan hasil jerih payah mas Javis, aku tak pantas jika mendapatkan ini semua," kata Mei


"harta ku itu milik mu sayang, aku sudah mengaturnya, lagi pula aku punya banyak kebun dan juga pekerjaan utama ku tengkulak, tapi sepertinya aku akan numpang di rumah mu deh, soalnya tak mungkin kan aku mengusir anak buah ku yang tinggal di rumah ku," kata Javis.


"mas ini ngomong apa sih, sekarang sawah milikku juga mas yang harus kelola, dan tinggal di rumah kakek nenek ku juga tak masalah, asal kita selalu bersama, tapi boleh aku tetap jualan seperti biasa?"


"kamu yakin sayang, istri seorang pria kaya masih mau dagang nasi?"


"sebenarnya mas, aku dagang nasi itu juga perintah nenek, beliau bilang jika ada seseorang yang butuh bantuan, setidaknya kita bisa bantu meski hanya satu bungkus nasi,"


"baiklah Bu bos, tapi ingat jangan buat dirimu lelah, kan kita harus segera punya Javis junior di sini," bidik Javis memeluk Mei.


"hus... buat aja belum," ledek Mei tertawa.

__ADS_1


"sayang..."


mereka pun mampir di sebuah kios yang jual onde-onde, setelah membeli cukup banyak, mereka pun pulang dan Mei akan mencari dua gadis lagi untuk membantu di warung.


satu untuk bagian depan, dan satu untuk bagian dapur yang membantunya.


saat masuk ke desa, terlihat di tuwangan sawah ada banyak mobil polisi dan ambulans, bahkan warga juga berkerumun.


Javis terpaksa membunyikannya klakson untuk membuat kerumunan itu menyingkir.


"pak Benu, ada apa sih, ini kok macet banget," heran Javis.


"itu bos, ada pembunuhan sadis, korbannya ternyata geng motor buang sedang di cari polisi," terang pria itu.


"memang maksudnya pembunuhan sadis gimana pak?"


"itu Bu bos, ada yang kepalanya putus, ada yang kepalanya patah dengan posisi terbalik, ada yang kepalanya di gorok tapi matanya di congkel,"


Mei merinding mendengar penjelasan pak Benu, Javis memberikan uang tiga ratus ribu, "bantu aku lewat pak,"


"makasih ya bos, woi minggir dong, pak bos Javis mau lewat!!" teriak pak Benu.


mendengar itu, otomatis semua orang minggir, dan yang membuat kembali warga berkerumun, adalah Mei yang memberikan uang dua puluh ribu bagi beberapa orang.


akhirnya mobil pun bisa melewati kerumunan massa dengan mudah, dia tau siapa yang melakukan itu.


tak butuh waktu lama mobil Javis sampai di rumah bergaya joglo itu, ternyata semua anak buahnya sedang santai di teras rumah sambil ngopi dan nyebat.


melihat mobil Javis mereka langsung bangun dan menyambut kedua orang itu, "selamat datang Bu bos dan pak bos,"


"terima kasih cak Deny, jadi kapan nyusul bukannya sudah serius," todong Mei.


"he-he-he,masih ngumpulin uang buat beli rumah Bu bos, kalau pak bos mau tambahin uang muka, bulan depan nikah juga boleh," terang Deny tertawa kecil.


"aku kasih dua puluh untuk dp rumah, sisanya cari sendiri, masak harus aku yang belikan," kata Javis.


"terus kami bos?"


"semuanya dapat, tenang dari ku sepuluh juta, jadi setiap orang dapat tiga puluh, dan segera menikah, kalian semua sudah cukup umur kan," kata Mei melihat mereka semua.


"siap Bu bos," jawab keenam orang itu yang senang.

__ADS_1


meski mereka sebenarnya kaya, tapi uang bonus itu tetap yang paling menyenangkan, terlebih Mei begitu baik seperti ini.


__ADS_2