Si Berandal, Milik Meidina

Si Berandal, Milik Meidina
pulang dan berdamai


__ADS_3

Malik sadar jika semua yang terjadi karena kesalahan anak buahnya, tapi itu juga terjadi karena usaha mereka terjadi sedikit kendala.


tak terasa hari ini Mei sudah di izinkan pulang, dan dia sudah mendapatkan pesan dari Dul tentang permintaan dari Malik.


karena tak ingin bersitegang lagi, terlebih kelompok Malik sudah sangat hancur karena ulahnya dan suami.


jadilah Mei meminta Dul untuk membiarkan kelompok Malik bertransaksi dengan baik.


dan mencabut semua larangan tentang pembatasan kerjasama oleh geng naga api.


Mei tak ingin lagi memiliki musuh dan kini akan fokus membesarkan putri mereka dan menjaga keluarganya.


Javis datang membawa kursi roda bersama seorang suster, "aduh aku cemburu sepertinya," gumam Mei melihat hal itu.


mendengar ucapan istrinya,Javis memakai tas ransel di punggungnya, dan langsung mengendong Mei.


"tak usah kursi roda suster, saya masih kuat mengendong istri saya," kata Javis dengan lembut.


bahkan mendengar ucapan suaminya membuat Mei malu, tatapan Javis yang begitu dalam membuatnya tersipu malu.


ternyata ada Iwan dan Wenda yang menjemput mereka, "kalian yang datang, apa ada masalah di desa?"


"tidak ada bos, semua baik begitupun usaha anda, tapi karena beberapa tugas, Adi menetap di Probolinggo dan Topan menatap di malang sekarang,"


"itu memang perintahku, dan apa sudah ada kabar dari Fery, pria itu tiba-tiba sulit sekali di hubungi," kata Javis yang mendudukkan istrinya di jok penumpang bersama Wenda.


sedang dia duduk berdampingan dengan Iwan, "sudah bos, kami baru kerumahnya kapan hari. dan saya tak bisa menjelaskan karena sepertinya anda harus melihatnya sendiri,"


"jangan bilang dia babak belur karena di keroyok oleh banyak orang,"


"saya juga tak tau bos, tapi yang pasti kondisinya memang cukup buruk, meski yang aku dengar dia sekarang di penjara karena menghabisi mantan suami dari Eka," kata Iwan.


"aih... padahal juga baru kemarin kita semua bertarung bersama dan kalian sudah melakukan banyak kebodohan, entahlah mungkin aku akan membubarkan geng ini," kesal Javis.


"maafkan saya bos, ini semua juga di luar kendali kami," kata Iwan yang merasa malu.


karena kesalahan mereka sangat banyak, bahkan mungkin Javis bisa murka jika tau semua kebodohan yang telah di lakukan.

__ADS_1


perjalanan cukup singkat, tapi batu juga sampai di rumah, Javis malah mendapatkan sebuah telpon dari panti jompo.


"sayang kamu di sini bersama yang lain ya, aku mau angkat telpon dulu," pamit pria itu.


"iya mas,"


Javis keluar rumah dan menjawab telpon itu, "iya Bu, ada apa menelpon saya? apa ada yang penting?" tanya Javis yang terlihat khawatir.


ponsel pria itu jatuh dari tangan kekar itu, bahkan air matanya juga menetes setelah menjawab telpon itu.


dia tak percaya dengan kabar yang dia terima baru saja, "tidak!!" teriak Javis yang merasa begitu buruk.


mendengar suara teriakan suaminya, Mei buru-buru bangkit di bantu oleh Wenda dan Yuni.


"ada apa mas," panggil Mei.


Javis berlari ke arah istrinya sambil menangis sesenggukan, "kakek ku meninggal dunia sayang, dan aku tak sempat melihatnya untuk yang terakhir kali...."


semua orang kaget, mereka tak percaya dengan apa yang di katakan oleh Javis.


bagaimana bisa pria itu meninggal dunia padahal Deny tau jika kondisi pria itu selalu baik.


"aku juga tak tau sayang, sekarang aku ingin ke panti jompo untuk mengambil jenazah kakek, kamu di rumah dan Iwan siapkan semua keperluan, dan untuk mu ikut aku," kata Javis pada Deny.


"siap bos," jawab Deny.


Mei pun tak percaya dengan semuanya, padahal beberapa hari yang lalu mereka datang untuk menjenguknya meski hanya dari jauh.


entahlah kenapa Javis begitu malu mengakui jika dia menyayangi kakeknya.


hingga memilih untuk diam-diam mengawasi semuanya, selama salam perjalanan Javis tak kuasa menahan kesedihannya.


sedang Deny tau jika pria di sampingnya itu masih peduli dengan kakeknya hanya saja mungkin dia merasa malu mengakuinya.


terlebih kakek dari Javis memang terkenal sangat arogan dan seenaknya sendiri.


sesampainya di panti jompo, ternyata sudah banyak polisi yang datang, serta banyak jrkuarga dari penghuni di panti itu.

__ADS_1


bahkan sudah ada tiga puluh peti mati yang tertata rapi di halaman panti dan sedang di doakan sesuai keyakinan masing-masing.


"permisi, saya cucu dari pak Budiono," kata Javis dengan suara tinggi.


"mas Javis, tolong kemari," panggil pemilik panti jompo yang terlihat begitu terguncang dan masih terlihat sedih.


sesosok pria terbaring di peri mati dengan wajah pucat membiru, dan pria itu sudah mengenakan setelan jas mahal.


"kakek, sebenarnya ada apa, kenapa bisa begini, kenatin saat kami datang, beliau masih sangat sehat dan baik-baik saja," marah Javis melihat kondisi kakeknya.


"selamat siang, saya AKP Suryana Shiddiq, ingin menjelaskan apa yang terjadi pada anda, karena ini adalah kasus keracunan yang di sengaja oleh salah satu mantan pegawai panti yang di pecat," kata kepala polisi itu.


"apa, tapi kenapa harus mencelakai semua lansia, mereka tak mungkin melakukan kesalahan besar bukan, dan Nana pelakunya aku ingin melihatnya!!" marah Javis yang sudah tak bisa terbendung.


"tolong tenang tuan, kami sudah mengamankan pelaku di kantor, dia di kenali sebagai Ratna, salah satu perawat senior dan di kenal ramah," kata polisi tersebut.


"tapi kenapa bisa melakukan ini," kata Javis yang butuh penjelasan.


"karena keserakahan saya, dan ketakutan saya jika ratna terus berhubungan dengan kakek anda, itu bisa membuat mas Javis memutus uang donasi pada panti kami, jadi itu keputusan yang saya ambil untuk memecat Ratna..." lirih ibu kepala panti


"kenapa anda memikirkan hal seburuk itu, padahal meski itu benar terjadi,saya tetap jadi donatur tetap, lagi pula itu pilihan kakek saya, dan sekarang aoa bisa anda menghidupkan para lansia yang harus meregang nyawa karena keegoisan anda, jawab!!"bentak Javis.


wanita itu hanya bisa menangis, dan polisi juga membawa kepala panti untuk bertanggung jawab.


Javis tak mengira jika kakeknya harus meregang nyawa di tangan orang yang di cintainya,


Javis pun membawa mobil jenazah untuk membawa jenazah kakeknya untuk segera di kebumikan.


banyak warga yang sudah berkumpul di rumah Javis dan Mei untuk menunggu kedatangan jenazah.


tapi tak ada suara lantunan ayat suci Al-Qur'an karena mereka berbeda keyakinan.


setelah satu setengah jam perjalanan yang cukup jauh, akhirnya jenazah pun sampai dan peti di turunkan dari mobil jenazah.


dan langsung di bawa ke rumah milik Javis yang di tempati anak buahnya.


karena warga desa tak bisa menerima orang beragama lain di makamkan di desa.

__ADS_1


jadi Javis memakamkan kakeknya di rumah peninggalan orang tuanya, dan lagi biar bisa ada yang mengurusnya.


__ADS_2