
"bisakah kalian tenang," kata Japar marah.
"duduk semuanya," kata Dian.
"sudah mas, maafkan suami saya, dia memang seperti ini," kata Mei melirik tajam pada Javis.
"tidak mbak, suami saya juga sedang sensitif," kata Hujan yang sudah mencubit perut suaminya itu.
sedang Dian tak kalah dingin menatap suaminya, bahkan tiga pria itu tak bisa berkutik sekarang.
"ibu tadi tak bawa coklat?" tanya bocah lucu itu masih memeluk Mei.
"Ibram mau coklat? sepertinya tadi ibu bawa deh, tunggu sebentar ya nak," kata Mei mengambil tas miliknya.
dia pun mengeluarkan coklat yang di inginkan oleh bocah itu, dan melihat lima coklat batangan itu membuat bocah itu tersenyum senang.
"apa tak apa-apa memberikan coklat sebanyak itu?" tanya Hujan heran.
"tidak apa-apa, karena itu coklat tanpa gula," jawab Dian.
terlihat bocah laki-laki itu memberikan satu coklat miliknya pada gadis kecil yang main bersama dengannya.
setelah itu Ibram berjalan ke arah ayahnya, tapi Japar meminta adiknya menjaga putranya itu.
"sayang kita harus pulang, sepertinya anak-anak butuh dirimu untuk mengatur semuanya,"kata Javis yang tak bisa tahan lagi.
bukan dengan kehadiran anak-anak, tapi melihat wajah mengesalkan Malik membuatnya muak.
entahlah karena wajahnya yang memang tengil atau memang tak enak di pandang saja bagi javis.
"baiklah mas, kalau begitu kami pamit ya, maaf karena di rumah sedang ada sedikit urusan keluarga, dan mbak Dian nanti bisa mengirimkan apa yang di butuhkan, insyaallah suami saya akan menyediakan semuanya," kata Mei tersenyum.
"iya mbak," jawab Dian yang memeluk Mei seperti adiknya sendiri.
"tunggu dulu, bukankah tak baik bersedekah dengan uang haram," kata Malik yang kembali memancing amarah Javis.
"Malik hentikan omongan mu itu," marah Japar mendengar ucapan temannya itu.
"sebelum kamu membuka mulut mu, bercermin dulu. Bung, kamu juga perampok tak pantas berani mengomentari usaha orang lain," jawab Javis yang tak tahan lagi.
"brengsek, tutup mulutmu," kata Malik menyerang Javis.
tanpa sengaja Malik mendorong Mei yang berdiri di samping Javis, hingga Mei terjatuh terduduk di lantai.
__ADS_1
melihat istrinya yang terjatuh seperti itu Javis murka, dia menonjok Malik hingga pria itu tersungkur ke lantai.
"kamu melukai istri ku sialan!!" maki Javis yang hilang kendali.
bahkan kedua ketua geng itu bertarung hebat, bahkan beberapa pengunjung berteriak melihat pertarungan keduanya.
"mas Javis... perutku sakit..." kata Mei yang tak tahan lagi melihat keberingasan suaminya.
mendengar panggilan itu, Javis berhenti dan berbalik dan bergegas menghampiri istrinya yang sudah bersama Dian.
tapi tanpa di duga Malik malah melemparkan pot bunga ke kepala Javis yang membuat pria itu terduduk dan perlahan darah keluar dari kepala Javis.
melihat itu, Mei marah dan melihat ke arah Malik, "Malik apa yang kamu lakukan, dia sudah mundur," kata Japar menahan tubuh Malik yang ingin menyerang Javis.
"dia itu pantas mati seperti orang tuanya!!" teriak Malik.
Mei bergegas pergi ke arah suaminya, "apa bayinya tak apa-apa?" tanya Javis tersenyum menyentuh perut Mei.
"maaf ... dia baik ayah, dia hanya terkejut," kata Mei memeluk suaminya itu.
Hujan dan Dian kaget, bahkan Japar pun tak mengira jika Javis mundur karena teriakan Mei karena wanita itu sedang hamil.
"maafkan ayah," lirih Javis.
Iwan dan Deny datang ke kafe, sebenarnya mereka tadi dapat pesan dari bos mereka.
karena Javis sadar jika Malik sangat membenci dirinya, "pak bos!!" teriak dua pria itu yang memukul mundur semua orang.
"bawa mas Javis ke rumah sakit, cepat!!" bentak Mei yang sudah berlumuran darah suaminya.
"tapi Bu bos juga sedang hamil dan kondisinya juga tak baik," kata Iwan.
"aku bilang bawa mas Javis,"kata Mei.
Iwan dan Deny pergi membawa Javis, dia pun bangun dari tempatnya duduk, "aku melindungi mu agar tak terbunuh oleh tangan suamiku, tapi dengan pecundang kamu menyerangnya dari belakang,apa pantas ketua geng naga api seperti ini, bukankah itu memalukan," kata Mei melihat ke arah Malik dengan tatapan marah.
"mbak Mei, ini kecelakaan," kata Hujan.
"kecelakaan, kamu ingin melihat apa itu kecelakaan," kata Mei menyeringai.
dia langsung mendorong Hujan hingga terdepak keluar pagar dari lantai dua, "ini namanya kecelakaan, maaf aku tak sengaja mendorong mu, dan yang di lakukan suamimu adalah membunuh secara pengecut seperti ini," kata Mei melepaskan tangannya,
"tidak!!" teriak Dian kaget.
__ADS_1
Malik berlari dan menyelamatkan istrinya yang sudah bergelantung di pagar itu.
Mei berjalan santai, "maaf mbak Dian, kita memang bisa bekerja sama, padahal aku sudah bilang padamu, jika aku tak bisa gampang percaya pada orang,"
Dian pun terduduk di lantai, Japar masih tak menyangka wanita itu bisa sekejam ini, "untuk geng naga Api, selamat kalian di coret dari daftar kang carok untuk bisa bertransaksi,"
mendengar itu Malik kaget, "kamu siapa,"
"seharusnya kalian sadar, bagaimana bisa orang kepercayaan kang carok bisa memberikan transaksi terakhir itu kepada berandal, tentu saja karena aku adalah orang di balik semua itu," kata Mei yang langsung pergi.
Malik kaget, begitupun dengan Japar, mereka pun tak mengira jika wanita itu cucu dari orang hebat.
Malik pun jatuh pingsan karena lukanya, sedang Dian tak mengira pilihannya mengajak Hujan bisa berakibat seperti ini.
Javis sudah mendapatkan pertolongan pertama, dan beruntung pria itu cukup kuat dan hanya mendapatkan jahitan.
dan tak perlu ada yang di khawatirkan, sedang Mei juga melakukan pemeriksaan dan beruntung bayinya sangat tangguh.
"bagaimana dengan kamu sayang," tanya Javis.
"aduh aku baik-baik saja mas, tapi wajah mu ini hancur, padahal nanti malam acara cak Fery," kesal Mei melihat kondisi suaminya.
"hanya lebam, dokter sudah memberikan obat yang terbaik, dan tak masalah aku luka sedikit saja," jawab Javis.
"sedikit, kepala mu dapat tiga jahitan mas,"
"tidak apa, aku pernah bahkan hampir mati dulu," jawab Javis yang masih bisa tersenyum.
"baiklah mas kalau begitu, tolong bawa mobil untuk pulang cak Iwan, dan tolong kirimkan permintaan maaf ku pada keluarga Japar, setidaknya aku tadi membuat istrinya sedih," kata Mei pada Deny.
"siap Bu bos," jawabnya.
Deny datang membawa bunga, buah dan kue ke rumah keluarga Japar, "ada apa kamu datang kemari,"
"saya di minta tolong oleh Bu bos Meidina untuk mengantarkan semua ini pada ibu Dian, beliau minta maaf karena membuat kekacauan dan kerjasama masih bisa berlanjut, pembicaraan bisa di bahas lagi nanti, dan Bu bos minta maaf tak bisa datang sendiri karena harus mempersiapkan acara lamaran,belum lagi pak bos yang juga terluka parah," kata Deny panjang lebar.
"seharusnya aku yang minta maaf," kata Japar memijat pangkal hidungnya.
"pak bos bilang, itu bukan salah anda, karena pak bos dan ketua geng naga api memang memiliki dendam dari dulu," kata Deny.
Dian pun merasa sedih,"baiklah tolong bilang pada mbak Mei, jika besok insyaallah kami akan berkunjung ke rumahnya," kata Dian
"baik, kalau begitu kamu pamit dulu," jawab Deny yang langsung pergi.
__ADS_1