
sore hari Deny datang membawa kelinci yang di janjikan oleh pak Deden, Javis pun menemuinya.
bahkan mereka sedang membicarakan beberapa pekerjaan, Mei datang membawa minuman dan camilan.
"Monggo di minum dulu, pasti haus ya cak," kata Mei dengan sopan.
"wah terima kasih Bu bos," kata Deny.
Mei selalu memakai baju sopan saat sore hari, bahkan baju yang di kenakan selalu baju yang lebar dan longgar.
itu membuat Javis tenang karena istrinya itu sangat menjaga dirinya.
saat dua pria itu duduk di teras, ada sosok Latifah yang keluar dari rumah dengan mengenakan baju yang kekecilan.
Deny kaget melihatnya, "widih pak bos pemandangan indah apa ini, suguhannya sungguh luar biasa," kata Deny tertawa.
"luar biasa apanya, eneg tau, kamu tau aku paling benci wanita yang sangat murahan seperti itu," kata Javis.
"ha-ha-ha iya bos, tapi sepertinya wanita itu ingin menarik perhatian mu, lihatlah dari tadi terus melihat kearah sini, bos yakin nih tak mau meliriknya, terlebih dia sangat wuh..." kata Deny terus membual.
"sayang tolong telpon Yuni, bilang Deny suka janda di depan rumah," kata Javis yang membuat pria itu kaget.
"apa? jangan gila deh bos, jangan Bu bos, bisa perang dunia kesepuluh ini," kata Deny ngeri.
"apa? kalian saja belum menikah, dan jangan jadi penakut gitu dong, masak belum nikah udah takut duluan," ejek Javis.
"bos tau meski aku sanggar gini, tapi lebih baik menghindari pertentangan dengan seorang wanita jika kita ingin hidup aman damai dan sentosa," kata Deny tertawa
"baiklah terserah kamu saja, tapi bisakah bantu aku membunuh kelinci itu," kata Javis.
"tentu," kata Deny.
mereka langsung menuju ke halaman yang masih ada tanah,meski semua halaman itu sudah di paving.
"aduh bos, kenapa kok repot banget sih, padahal bisa beli loh," kata Latifah yang mendekati pria itu.
"ini menyenangkan loh mbak, mau coba gak, lumayan aku bisa merasakan membunuh wanita bukan, uh tinggal pegang kepala tarik dan gorok, ini menyenangkan," kata Deny menyeringai.
"kamu mau jadi pembunuh," kata Latifah menundukkan tubuhnya sedikit lebih rendah hingga area atasnya terlihat.
__ADS_1
Javis nampak tenang dan tak terpengaruh, dari kejauhan tampak Mei hanya memperhatikan saja.
bahkan wanita itu duduk dengan santai, setelah dua kelinci itu di kulit, Javis membawanya masuk.
Latifah merasa kesal karena pria itu seperti tak menggubrisnya, "aduh tuh pak bos buta ya, kenapa mau sama wanita itu sih,dia tak tau ya jika mei itu mengerikan, ada iblis di balik senyumnya," kata Latifah.
"siapa? Bu bos iblis, bagus dong, karena suaminya itu raja iblis, jadi kalau punya anak anak iblis, menarik bukan, he-he-he,"
Deny masuk kedalam rumah untuk membersihkan tangannya,di sudah memasak kelinci itu.
sedang Javis sudah mandi dan berganti baju, Mei masih terlihat sibuk, "Bu bos lebih baik saya pulang dulu ya,"
"tunggu sebentar, ambil ini ada ayam goreng Kalasan, tadi iseng buat karena lagi pingin, oh ya bisa masak nasi kan?" tanya Mei.
"bisa dong, makasih ya Bu bos, saya pamit dulu," kata Deny.
Mei pun mengangguk, Javis baru keluar dari dalam kamar, dan tak mendapati Deny di sana.
"loh Deny Nana sayang, apa sudah pergi?" tanya Javis yang memeluk tubuh istrinya itu.
"iya mas, mas Deny sudah pamit karena sudah sore, oh ya mas mau makan atau masih ada kerjaan?"
"ikut ya, nanti biar aku buat bumbu untuk di warung selama kita pergi jadi para pegawai tinggal masak, jadi warung bisa tetap buka meski aku sedang jalan-jalan sama suami," kata Mei tersenyum.
"baiklah nyonya, kita berangkat Minggu depan, dan aku dengar ada pasar malam di desa tetangga,mau jalan-jalan nanti?" tawar Javis yang memang belum pernah jalan bareng istrinya itu
"mas yakin?"
"tentu, aku ingin merasakan pacaran dengan mu, toh kita belum sempat pacaran bukan," kata Javis tersenyum dengan sangat semangat
Mei pun terkikik geli, bagaimana bisa suaminya itu sangat mengemaskan seperti ini.
Mei menyuguhkan makanan untuk Javis, sedang di rumah tempat tinggal anak buah Javis, l Iwan kebagian harus memasak nasi.
dia bingung karena rice cooker itu sedikit lain, "eh man, itu airnya satu ruas jari atau gimana?" tanya Iwan.
"iya satu ruas jari di atas berasnya, sudah setelah itu tinggal tekan tombolnya," kata Lukman yang masih merekap semua laporan miliknya yang siang tadi mengantar semua beras pesanan.
"idih susah amat mau makan doang, untuk tuh lauk di kasih Bu bos, oh ya mau mie atau sayur enak nih kayaknya," kata Iwan yang duduk di kursi dekat Lukman.
__ADS_1
"kalau gitu masak lah, kenapa kamu cuma ngomong doang, ya kali tuh sawi bisa matang sendiri,"
"beh... aku sudah masak nasi, kau suruh juga masak sayur, enaknya hidupmu man..." kata Iwan geleng-geleng kepala.
"sudah biar aku yang masak, memang siapa yang ambil sawinya di belakang?" tanya Fery yang baru selesai mandi.
"Topan," jawab Iwan singkat.
"apa?"
Fery menepuk kepalanya, karena dia tau jika pria itu yang ambil sayur pasti berantakan.
yang di bicarakan pun datang, Fery sudah merasa tak enak melihat tanaman hijau yang di bawa oleh Topan.
"gok kamu tadi ambil apa?" tanya Fery
"ambil sawi,"
"tapi di tangan mu itu apa?"
"kangkung kalau bukan ya bayam, habis itu tanaman hijau semua, terus sawinya sudah habis," jawab Topan.
"itu gak salah sih kalau bayam, cuma kenapa kami cabut sama akarnya, itu bayam Jawa yang pohonnya dan daunnya besar, bukan bayam yang di jual di pasar yah... kan kotor ini rumahnya," kata Fery persis emak-emak ngomel.
"kamu tak bilang... sudah nih masak," kata Topan memberikan bayam itu dan ingin pergi.
"huh... tak bunuh kamu, itu rumahnya kotor lagi, sialan!!" marah pria itu.
"sabar, biar aku yang membersihkan rumah, mending masak bobor saja tuh bayam, pasti enak poll..." kata Adi.
"oke,"
ya begitulah kehidupan para pria bujang yang belum mendapatkan kekasih.
tapi mereka masih mencari sosok wanita yang pas, terlebih di desa juga tak ada wanita yang bisa menarik hati mereka.
memang mereka tak setajir Javis, tapi setidaknya mereka juga bukan orang sembarangan.
mereka semua makan bersama saat Fery selesai masak, awalnya mereka juga bingung sejak kapan pria itu jadi pintar memasak.
__ADS_1