
Javis melihat istrinya yang sedang tidur, Mei terlihat nyaman setelah Javis mengusap punggung wanita itu.
"maaf membuatmu kesulitan ya sayang, dedek di perut bunda baik-baik ya, jangan nakal, kasihan bunda," bisik Javis mengecup pipi istrinya.
dia pun bangkit dan berjalan menuju ke ruang tengah untuk melihat beberapa pekerjaan.
terlebih banyak toko yang sudah tiga bulan terakhir belum dia cek langsung kondisi yang sesungguhnya.
bukan karena dia malas, tapi karena dia tak ingin istrinya itu terlalu lelah, seperti kegiatan kemarin saja.
berhasil membuat Javis tak bisa fokus bekerja, "ah ... aku sepertinya harus selalu di sampingnya, karena dia begitu tak bisa di percaya," gumamnya.
sedang di sebuah toko, terlihat seorang wanita sedang di lecehkan, dan anehnya tak ada yang menolong dan bersikap cuek.
"kamu tak akan dapat pekerjaan di sini jika kamu tak mau melayani keinginan ku, jadi jangan berisik dan nikmati saja apa yang aku inginkan," kata pria itu mencengkram dagu wanita itu.
wanita itu pun dengan berani menampar dan menendang ******** pria busuk itu.
pria itu jatuh dan kesakitan, karena tendangan dari wanita itu sangat keras.
"kau kira aku takut, jika kamu lupa aku akan katakan sekali lagi, jika aku bisa bekerja di tempat ini karena bos Javis," kata wanita itu tak kalah sombong.
"benarkah, aku yakin bos memperkerjakan kamu itu hanya kasihan atau kamu juga sudah tidur dengannya," kata pria itu mengejeknya.
tapi tanpa di duga seseorang datang dan langsung menendang wajah pria itu.
"sejak kapan bos memperkerjakan pria yang pikirannya berisi cuma ************ saja, dasar manusia busuk," marah Iwan.
"mas Iwan..." lirih Wenda melihat pria yang pernah menikahinya secara sirih.
"kamu tak apa-apa Wenda?"
"iya mas," jawab Wenda yang tampak malu.
pasalnya dulu mereka berpisah setelah Wenda memilih kekasihnya dan meninggalkan kota.
__ADS_1
pria itu masih tersungkur kesakitan dan juga wajahnya sudah membekas sepatu Iwan.
pria itu nampak sangat marah, karena tak mengira ada pria busuk seperti ini yang bekerja di tempat Javis.
"aku akan menghubungi bos Javis, dan kita lihat hukuman apa yang akan di berikan oleh pria itu," kata Iwan tersenyum
"apa, jangan mas, aku mohon tolong jangan lakukan itu, aku bisa dalam masalah belum lagi aku akan sangat sulit mencari pekerjaan...." mohon pria itu
"seharusnya kamu memikirkan hal itu sebelum berani melakukan hal konyol seperti tadi, dan kamu tau benar jika bos itu tanpa ampun, apa ada yang jadi korban lagi?" tanya Iwan dengan suara keras.
"dia sudah keluar mas Iwan, karena gadis itu sedang hamil, dia juga belum menikah, tapi sepertinya dia juga korban pria busuk ini," kata salah seorang pria..
"Hem bosok awak mu," lirih salah satu pria.
"baiklah aku aka memberitahu bos, dan kalian bawa pria ini ke ruang kurungan di belakang, pastikan dia tak keluar, dan lain kali kalian harus lebih peka, jika tidak aku akan menghajar kalian semua yang membiarkan semua terjadi."
"baiklah kami mengerti,"
para karyawan membawa pria itu pergi, sedang Wenda yang melihat Iwan, langsung menekuk Iwan dengan erat.
"maafkan aku...." tangis Wenda.
"aku salah, dia pria brengsek, dia hampir memperkosa diriku dan saat aku membuatnya terluka dia ingin menjual ku ke rumah prostitusi, tapi beruntung salah satu anak buah kang carok menyelematkan aku, dan aku di bantu bos Javis hingga bisa bekerja di sini, tapi aku hampir di lecehkan lagi disini," kata Wenda.
"sekarang aku mengerti kenapa bos menyuruhku untuk datang kesini untuk alasan pekerjaan," kata Iwan yang tak percaya.
"terima kasih...."
Iwan pun terus memeluk Wenda, ya pria itu baru sadar jika dia tertarik dengan Wenda yang sedikit bicara.
dan selalu rasional dan perhatian, dan mendengar cerita Wenda yang begitu pelik.
seakan menggoreskan luka pada Iwan, dia selalu mencintai wanita ini meski dia hanya menjadi suami gadis itu beberapa jam.
"sudah sekarang kita harus membuat pria ini kapok, dan mencari wanita yang telah di sakiti, dan setelah itu, aku ingin mengajak mu memulai semua dari awal," tanya Iwan mengulurkan tangannya.
__ADS_1
"baiklah mas, aku sudah menemukan gadis itu," kata Wenda.
sedang di desa, habis sedang tersenyum, sekarang dia sedang membayangkan jika Iwan begitu bahagia.
pasalnya beberapa bulan yang lalu, dia benar-benar bisa melihat anak buahnya yang satu itu terlihat sangat sedih dan sering bengong.
"ada apa Iwan?"
"tidak ada bos, aku hanya sedang merasa aneh saja, aku baru saja memilih memutuskan hubungan dengan ayu, karena aku tak merasakan apapun dan malah cenderung risih dengan ikatan yang mengekang diriku," kata Iwan yang mulai bercerita.
"kenapa seperti itu, apa masih ada hati yang belum bisa mencintai ayu, atau kamu punya gadis yang di cintai?"
Iwan mengangguk, "aku akhir-akhir ini malah terus memikirkan Wenda, apa dia baik-baik saja, karena aku baru tau jika Candra itu bukan orang baik,"
"kamu salah pertanyaan, seharusnya kamu bilang, apa Wenda masih hidup apa sudah mati?" kata Javis.
"apa bos?!"
"ha-ha-ha santai saja, kenapa kamu begitu kaget begitu, kan cuma berandai-andai saja," kata Javis yang hampir membuat Iwan syok.
Mei bingung melihat suaminya yang sedang tersenyum melamun, "mas sedang kepikiran apa, itu singkong masih banyak loh," bingung Mei.
"ah sayang aku sedang kepikiran pada Iwan, pasti sekarang dia sangat senang, karena bisa bertemu dengan Wenda,"
"owalah mas ku kira kenapa, tapi boleh jujur, Wenda juga pasti senang, dia itu sebenarnya gadis baik tapi salah memilih pria, beruntung mas menerimanya di Probolinggo, dan menjadi pengurus di sana," kata Mei.
"iya sayang, tapi kamu tau kan karena hal itu ada hati yang terluka, Iwan bahkan sampai memutuskan ayu,"
"itu tak masalah mas, kita memang tidak bisa memaksakan orang lain untuk cinta pada kita, seperti halnya dengan cak Iwan yang baru sadar menyukai Wenda, dan jika meneruskan hubungan itu, pasti akan banyak hati yang terluka," terang Mei.
"ya kamu benar, seperti halnya aku yang tak bisa berjauhan dengan istriku ini," terang Javis.
Mei hanya tersenyum dan kembali meminta suaminya itu memarut singkong.
karena mei sedang ingin membuat lemet singkong dan gula merah. entahlah akhir-akhir ini mei benar-benar menyukai jajanan pasar.
__ADS_1
itulah kenapa Javis tak keberatan repot, asal semua yang di makan istrinya terjamin kebersihan dan kehigienisan.