Si Berandal, Milik Meidina

Si Berandal, Milik Meidina
pria kekar menawan


__ADS_3

Mei masuk kedalam rumah dan sudah di peluk manja oleh Javis, "mas ada apa, aku sedang membantu yang lain,"


"kan aku sudah bilang cari orang sayang, aku ingin kamu manjakan, bukan malah sibuk kerja, kalau kita sama-sama sibuk, kapan ketemunya, kalau gitu punya uang banyak gak guna dong," protes Javis.


"iya maaf deh, kalau begitu biar aku pindah warung saja, jadi di rumah kita bisa manja deh, dan warung biar di urus pegawai gimana?" tawar Mei.


"itu lebih baik, tapi tempatnya di mana sayang, ah jangan gerak sembarangan ya," kata Javis yang kaget melihat Mei duduk di pangkuannya.


"ada kok, mungkin lusa libur lagi dua hari buat pindahan, dan juga disana sedang di bersihkan juga," kata Mei tersenyum sambil mengoyang tubuhnya.


Javis pun memeluk Mei, dia menyembunyikan wajahnya yang merah karena menahan sesuatu, pasalnya istrinya benar-benar membuatnya gila.


"kamu tau, tak baik kita melakukannya sekarang, ingat di depan banyak orang, jangan sampai aku lepas kendali dan memakan mu," ancam Javis yang malah di tertawa kan oleh Mei.


"siapa takut, jika mas tak lupa harusnya mas bisa hitung bukan," bisiknya yang membuat Javis ingat.


Mei tersenyum dan lari ke depan rumah, dan ternyata benar bulek penjual jamu sudah mangkal di depan rumahnya.


dia pun membeli Jamu kunyit asam dan jamu beras kencur untuk suaminya.


"aduh pengantin baru beli jamu, ada apa ini, sudah keok huh, masak cacat di kaki mu mempengaruhi mu sih,aduh kasihan amat sih suaminya," kata Latifah yang ikut beli jamu.


"ah masak sih mbak, aku baru tau loh kalau memang bisa begitu, padahal aku tak mengatakan apapun loh," kata Mei tersenyum.


"itu buktinya beli beras kencur, masak pengantin baru belinya beras kencur, dasar lemah," ejek Latifah.


Javis keluar dengan rambut basah, pasalnya dia mendinginkan kepalanya tadi.


"jamunya ada dek, uh badan ku pegal semua, kamu sih," kata Javis yang membuat semua orang tertawa kecil.


"ih mas apaan sih, jangan bikin malu ah," kata Mei mencubit perut suaminya.


"aduh pak bos memang main berapa ronde sampai pegal-pegal, pasti gak berhenti nih," Kata mbok pedagang jamu yang menggoda.


"bagaimana bisa berhenti mbok punya istri bening begini, ya gas pol pokoknya," kata Javis yang berhasil membuat Mei Malu.

__ADS_1


"mas hentikan," kata Mei yang benar-benar malu.


sedang Latifah tak terima melihat Mei bahagia dengan pria tampan di sisinya, karena seharusnya dia yang menjadi istri pria itu.


"aduh kasihan banget, masak orang sempurna gitu mau sama wanita cacat, memang di dunia ini kayak gak ada wanita lain saja,"


"sayang kok aku bau mencium aroma busuk ya, uh aku pulang deh lupa masih ada kerjaan," kata Javis yang lari ke dalam rumah.


"mas jamunya kok gak di bawa," panggil Mei.


"wait... lupa sayang, love you, jangan main sama hewan ya, nanti ketularan bodoh ya, aduh gemes deh," kata Javis yang pergi membawa dua botol jamu.


"maaf suami saya kalau ngomong suka gak ada rem-nya," kata Mei tersenyum.


"iya mbak, ho-ho-ho pak bos memang beda, kan di desa sebelah terkenal dingin, lah sekarang malah sayang istri gini," kata mbok penjual jamu.


Latifah yang mendengar ucapan dari Javis merasa kesal, pasalnya pria itu sangat menyebalkan.


bagaimana tidak bahkan omongannya saja sudah di tepis begitu saja.


ya mulai hari ini mereka jualan sesuai yang di masak tanpa ada tambahan, karena Mei sudah tak bisa mengabaikan suami dan tugasnya.


Javis sudah tidur di kamar karena dia merasa lelah, sedang Mei mengawasi pegawainya, "Yuni cari dua pegawai lagi untuk di tempat baru ya, dan lusa buat tulisan libur dua hari untuk pindahan," kata wanita itu yang memberikan gaji dan uang makan.


"memang kenapa mbak, di suruh pak bos ya?"


"bukan Yuni, tapi apa salahnya kita memperbesar warung, lagi pula aku kasihan kalau mas Javis di rumah terganggu saat ada pembeli seperti tadi,"


"iya juga sih, kan gak bebas, baiklah aku cari dua orang lagi, satu untuk pelayan yang satu untuk bantu masak kan, soalnya Bu bos tak boleh capek karena harus segera punya bayi," kata Yuni tersenyum.


"iya iya, sudah selesai semua kan, silahkan pulang dan selamat istirahat," kata Mei.


ketiganya pulang, Mei memilih mandi, ternyata Javis tidur tanpa mengenakan baju, padahal kipas angin juga menyala.


"mas, bangun yuk, sudah jam dua belas, itu dari tadi ponselnya bunyi," bisik Mei yang baru selesai beribadah.

__ADS_1


"uh biarin, dan kenapa kamu begitu wangi, mau kemana?"


"tak kemana-mana, sudah itu di jawab dulu telponnya," kata Mei yang sekarang tidur di samping Javis.


dia pun bangun dan melihat ada nomor Deny yang ada di layar, "halo ada apa,"


"anu bos, emm.... ada masalah di kota Nganjuk, itu pak Heru gak jadi jual barang ke tempat kita," jawab Deny di sebrang telpon.


"kenapa, coba jelaskan," kata Javis yang berjalan ke kamar mandi.


"dia bilang karena bos menikah, dan ternyata setelah aku korek, ternyata dia ingin membuat putrinya jadi istri bos, itulah kenapa saat ke tempatnya, gadis itu terus menunjukkan dirinya," terang Deny.


"skip... tak tertarik, punya ku kates bangkok, bukan apel malang, sudah biarkan saja, toh selain kita juga tak akan ada yang mau membeli hasil panennya," kesal Javis.


"oke bos, kalau begitu saya sedang berada di tempat pak Deden, beliau bilang mau kelinci pedaging gak, katanya hadiah untuk Bu bos dan pak bos nih, biar makin greng..." kata Deny tersenyum.


"boleh, bilang nanti kalau main ke desa, mampir ke tempat warung bu bos," kata Javis yang sudah kembali merebahkan diri di samping istrinya.


"siap pak bos," jawab Deny yang mematikan ponselnya.


"ada apa mas?"


"hanya masalah kerjaan, ada pemilik peternakan kelinci yang langganan aku ambil gabah, menawarkan kelinci untuk hadiah pernikahan kita," kata Javis yang mulai mencium leher istrinya.


mendapatkan serangan seperti itu, Mei hanya bisa menjambak rambut suaminya itu.


"sayang aku menginginkan mu,"


"lakukan mas, aku milikmu," kata Mei tersenyum.


olahraga panas pun terjadi, Mei pun tak mengira akan merasakan sakit dan kenikmatan bersamaan.


begitu pun dengan Javis yang juga sangat menikmati waktu bersama istrinya, di sisi lain.


sekarang Sahara dan Joko sudah menikah dan hidup keras di sebuah pelosok perkebunan sawit.

__ADS_1


mereka bisa berada di sana setelah anak buah Javis memaksa mereka akan menikah, dan setelah itu di bawa pergi entah kemana.


__ADS_2