
Mei sedang bersiap untuk pergi ke warung karena dia tak ingin sendirian di rumah.
ya suaminya sudah bekerja meski sakit begitu, dan untuk Dian sudah dapat pesan untuk datang saat sore hari.
"sayang sebaiknya kamu istirahat di rumah, tak baik dalam kondisi mu ini kamu malah sibuk," bujuk Javis.
"sepertinya ada yang salah deh, bukannya mas yang harus istirahat, tuh mukanya saja belum sembuh malah maksa untuk tetap kerja," kata Mei tak mau kalah.
mendengar jawaban itu dari istrinya membuat Javis tersenyum geli, dia benar-benar tak bisa berkutik melawan istrinya dalam berargumen.
"baiklah maafkan aku sayang, kalau begitu, biar aku antar kamu ke warung, toh hari ini aku akan pergi menemui seseorang saja, tak ikut anak-anak yang sedang ke sawah," kata Javis.
"baiklah mas,"
mereka pun berangkat menuju warung pertama-tama, sesampainya di warung, Javis mencium kening istrinya sebelum Mei pamit.
mobil yang di kendarai oleh pria itu pun kini pergi meninggalkan tempat usaha milik istrinya.
Javis harus ke markas miliknya karena seseorang sedang menunggunya.
ya dia adalah klien besar yang akan memberikan sebuah pekerjaan yang mungkin bisa bernilai ratusan juta.
sesampainya di markas itu, ternyata pria itu sudah bersama Adi, "selamat pagi, maaf aku telat menemui mu karena aku harus mengantarkan istriku," kata pria itu tersenyum.
"tak masalah bung, tapi lain kali tolong jangan lakukan lagi," kata pria itu tersenyum.
"baiklah apa yang anda butuhkan tuan? sepertinya akan ada pekerjaan penting?" tanya Javis melihat pria yang sudah beberapa tahun ini di kenalnya.
"seperti biasa, tolong cari tau tentang pria ini, sepertinya istriku bermain apa dan mengelapkan beberapa tabah, jika kamu bisa merebut tanah itu, maka uang lima ratus juta ini untuk mu," kata pria itu menyeringai.
"apa perlu aku membunuh pria simpanan istri mu tuan Samsul," kata Javis tau siapa pria ini sebenarnya.
"tentu saja tak usah, karena aku juga akan menceraikan istriku, jadi bereskan semuanya, tanah yang dia ambil, tentu kalian tau bagaimana caranya," kata Samsul
"baiklah, beri waktu seminggu, kami akan bergerak dan membereskan semuanya, bahkan untuk mengganti semua surat kepemilikan tanah itu juga," kata Javis yang memang mengenal orang dalam.
"baiklah, jika dalam seminggu anda berhasil mas Javis, tentu aku akan menambahkan seratus lima puluh juta lagi untuk anda," jawab pria itu.
"tentu," jawab Javis yang menerima tantangan itu.
Samsul pun bangkit dan kemudian pergi meninggalkan markas milik Javis.
"Adi bereskan, semakin sedikit yang bergerak, tentu kamu tau jika bonus kalian makin besar," kata Javis.
__ADS_1
"baik kami mengerti," jawab pria itu.
tapi Adi adalah orang yang bisa melalui apapun, terlebih dari semua orang di sana.
hanya dirinya yang tak punya kelemahan karena belum memiliki orang yang di cintai.
Iwan dan Topan juga sedang ada misi untuk mengawasi beberapa orang, pasalnya mereka adalah orang yang meninggal angsuran hutang pada Javis.
dan perintah Javis sederhana untuk mereka, "bereskan..."
Fery sedang cuti untuk menikmati waktunya bersama istri, sedang Deny dan Lukman mengurus beberapa usaha lain.
di warung milik Mei, wanita itu juga sedang sibuk sekarang, bahkan dia terus memasak dari tadi.
bukan apa karena semua pelanggan tak ada putusnya, akhirnya pukul tiga sore semua pun tutup.
Mei pun duduk sambil mencoba membuat beberapa masakan yang dia pelajari dari YouTube.
ternyata masakan itu sangat ribet tapi dia berhasil membuatnya sendiri.
"akhirnya aku bisa membuat makanan ini sendiri, uh pasti terbaik lah," kata Mei yang sedang menikmati goh yong bersama semua anak buahnya.
"kalian pegawai baru kan, tadi siapa namanya," tanya Mei pada dua orang itu.
"baiklah-baiklah, selamat bergabung ya, dan jangan kapok jika saya nanti suka ngomel." kata Mei tertawa.
"siap mbak," jawab keduanya.
ya dua gadis ini di minta untuk bekerja karena warung yang makin rame.
terlebih Yuni juga tak boleh melakukan pekerjaan berat karena ingin segera punya momongan.
di tambah Mei juga tak bisa banyak membantu seperti dulu karena sedang hamil muda.
sedang Nurul hari itu tak terlihat, "Yuni, ini kemana Nurul kok tak kelihatan?"
"saya juga gak tau mbak, tadi pagi izinnya mau ke rumah saudaranya yang sedang acara hajatan,"
"baiklah, tapi lain kali tegur saja, masak yang lain kerja dis mdlsh keluyuran tak jelas," kata Mei yang memang tak suka kebohongan seperti ini.
"iya mbak," jawab Yuni.
ya sebenarnya Nurul tidak ke kampung saudaranya, tapi wanita itu melakukan hal gila saat ini.
__ADS_1
dia ke salah satu dukun terkenal untuk bisa memijat Lukman, dia tak mau kehilangan Lukman.
dia tak peduli dengan konsekuensi yang akan di terima oleh dirinya. "jadi kamu ingin memelet orang ini," tanya pria tua itu.
"iya mbah," jawab Nurul
"sepertinya tidak bisa, dia memiliki keimanan yang kuat, dan hati yang baik," jawab dukun.
"tolong lakukan Mbah, berapapun maharnya akan saya bayar," kata Nurul memohon.
dukun itu melihat tubuh Nurul yang molek dan menawan, "sepertinya bayarannya bukan hanya uang, tapi ada yang lain, apa kamu bisa," kata dukun itu mengusap bibirnya.
Nurul mengerti, toh sekarang hanya ini yang penting, jadi dia mengangguk setuju.
Mei sudah di jemput oleh suaminya, "jadi bagaimana hatimu sayang?"
"hariku sangat bagus, tapi ya... ada sedikit gangguan dari Nurul yang tiba-tiba libur secara mendadak, kan mas tau aku tak suka hal seperti itu," kata Mei.
"ya yang sabar saja sayang, mungkin dia seperti ini ada alasan tertentu," jawab Javis
"iya mas mungkin," jawab pria itu.
mereka sampai di rumah dan langsung bersih-bersih, bahkan Mei membantu suaminya itu mengobati luka.
tak lama terdengar suara mobil datang, ternyata saat Javis membuka pintu, itu adalah Japar dan keluarga yang datang.
Mei pun keluar berdampingan dengan suaminya untuk menyapa keluarga itu.
bagaimana pun, Dian adalah orang baik, dan kejadian kemarin bukan salah mereka.
"assalamualaikum..." kata Japar
"waalaikum salam... Monggo silahkan masuk," ajak Javis dengan sopan
mereka di persilahkan untuk duduk, Mei datang membawa nampan yang berisi minuman dan makanan.
"aduh kok malah ngerepotin mbak, kaki kesini benar-benar ingin minta maaf," kata Dian.
"tidak masalah, Monggo di minum dulu," kata Mei.
terlihat anak dari Dian begitu senang melihat kue kesukaannya, "kamu suka cookies,makan ya Ibram, jika habis nanti ibu ambilkan lagi yang banyak untuk bocah ganteng ini,"
"tapi bagaimana keadaan kandungan mu, soalnya kemarin kamu jatuh?"
__ADS_1
"tak masalah, dokter bilang bayinya sehat," jawab Mei.