Si Berandal, Milik Meidina

Si Berandal, Milik Meidina
Javis berulah


__ADS_3

Javis dan Mei masuk kedalam rumah sederhana yang ternyata dalamnya begitu rapi dan bersih.


"kamu pandai menjaga kebersihan ya," kata Javis yang melihat suasana rumah.


"mas lihat ini, aku bukan hanya cacat kaki, tapi tubuhku penuh luka yang membuat ngeri siapa pun yang melihatnya, apa kamu tak akan jijik melihat ini, dan tetap ingin menikahi ku," kata Mei yang melepaskan kemeja yang dia pakai.


Javis kaget melihat semua bekas luka di punggung gadis itu, ada bekas setrika dan bekas cambuk yang cukup dalam.


bahkan di kaki Mei, dia bukan melihat bekas jahitan operasi,tapi bekas luka bakar.


"inilah kenapa aku meminta mu untuk mencari wanita lain, tak akan ada pria yang mau punya istri seburuk ini, tubuh ku sudah rusak mas, sudah rusak," kata Mei yang mengenakan baju miliknya lagi.


"siapa yang melakukan itu, dan kenapa?"


"mas tau, keserakahan manusia itu tanpa batas, aku di hajar dan hampir mati di tangan adik dari ibuku, karena kakek nenek ku mewariskan semua harta mereka padaku, dan beruntung sebelum aku hampir mati tergantung di langit-langit rumah, para warga menolongku dan mereka di bawa ke kantor polisi, dan aku pergi karena besok keduanya keluar dari penjara," kata Mei melihat Javis.


Javis pun berjalan ke depan Mei, bahkan dia menyentuh leher gadis itu, "bahkan luka di leher mu membekas jerat tali," lirihnya.


Mei mengangguk sedih, "aku akan tetap menikahimu, aku tak peduli karena aku hanya ingin menikah dengan mu, dan kalau boleh jujur aku juga seorang duda, pernikahan ku hancur karena aku menikah dengan wanita yang tak aku cintai karena itu paksaan dari kakek ku, tapi wanita itu malah hamil anak kakek ku, jadi aku menceraikannya," kata Javis.


"apa?"kaget Mei tak percaya.


Javis mengecup kening Mei, "kita membawa masalalu Mei, aku akan cerita semuanya, tapi kali ini biarkan aku pergi menyelesaikan semuanya ya, tolong tunggu aku dan tolong jangan pergi," kata Javis memeluk Mei.


"mas kita belum menikah..." lirih Mei di pelukan Javis.


"maaf, tapi tolong jangan pergi, aku mohon dan simpan cincin ini untuk mu, ingat aku akan datang lagi," kata Javis yang bisa tersenyum.


sedang Mei melihat cincin di tangannya itu, bagaimana tidak cincin itu di pakaikan oleh Javis tanpa permisi.


Javis keluar dan melihat di tempat itu tinggal ada Deni dan Iwan, "kita berangkat sekarang," kata pria itu.


Deni dan Iwan langsung mengangguk dan pergi bersama Javis.


tak butuh waktu lama, mereka sampai di kota dimana Javis memenangkan perkara itu.

__ADS_1


setelah mengucapkan ikrar talak, dia tak memiliki hubungan apapun dengan Sahara dan pak Budiono.


Javis menuju ke desa dimana sawahnya banyak di sana, Agus kaget melihat sosok bos besarnya itu datang.


"bos besar," kata pria itu yang datang.


"semua orang dengar,mulai hari ini kalian tak perlu harus tunduk pada pak Budiono dan Sahara, karena aku tak punya hubungan apapun lagi dengannya, dan anak wanita itu juga bukan milikku, jadi mulai sekarang, Agus jika ada sesuatu langsung hubungi aku, dan ingat jangan membuatku harus membuat ku kesal, dan untuk semua keuangan akan di urus Deni dan Iwan, apa kalian mengerti," kata Javis.


"baik juragan bos," jawab semua pekerja.


"baik kalau begitu silahkan lanjutkan, dan hari ini semua dapat bonus," kata Javis.


"terima kasih bos," kata semua orang.


selama dua hari Javis tak menemui Mei, dan wanita itu berkegiatan seperti biasa tanpa ada yang harus di khawatirkan.


entahlah saat dia merasa cemas, menyentuh cincin pemberian habis seperti membuatnya tenang, karena dia punya seseorang yang bisa dia jadikan sandaran.


sedang Javis sudah mendapatkan semua kebenaran yang terjadi, yang ternyata benar, kejadian yang menimpa wanita yang ingin dia lindungi terjadi sekitar lima tahun lalu.


"karena ini dendam, dan aku harus mewujudkan hal itu, karena aku tak bisa terus melihat seseorang terus terluka," kata pria itu.


"baiklah kami ikut, dan kami percaya jika bos tak mungkin menghianati kami," kata Deni.


"baiklah, jika ada yang bisa, besok tolong ada yang menculik dua orang ini," kata Javis menyodorkan foto.


"bukankah ini saudara mbak Mei, yang kemarin aku selidiki? sebenarnya ada hubungan apa bos dengan mereka?"


"apa kamu lupa peraturan pertama saat ikut dengan ku Lukman?" kata Javis dingin.


"tidak bukan maksudku begitu bos, tapi aneh saja jika tiba-tiba anda seperti ini?"


"karena aku menyukai Mei, dan siapapun yang menyakiti wanita itu, aku akan membereskannya, termasuk merek, puas!" kata Javis yang mengejutkan Lukman.


"besok biar aku yang jaga di depan lapas, dan langsung membawa mereka ke tempat kura di gudang," kata Iwan.

__ADS_1


"aku bisa membantumu," kata Deni dan Topan bersama-sama.


"baiklah, dan yang tak ada kaitannya bisa tetap bekerja dan jangan menganggu orang yang sedang repot, paham kalian!" kata Javis.


Lukman dan yang lain seperti merasa dapat peringatan dari Javis, Adi menatap Lukman dingin.


saat Malik pergi, semua melihat pria itu, "kamu mencari masalah Lukman,"


"maaf aku tak sengaja," kata pria itu, sekarang bos bisa sedikit tenang, tapi jika kamu berulah, pasti habis kamu," kata Adi memukul pria itu.


"sudahlah,kalian tentu tau apa yang harus di lakukan jadi jangan mengatakan hal aneh dan istirahat sebelum semuanya menjadi runyam."


keesokan harinya, Mei tak berjualan karena ketakutan, dia memilih berdiam di dalam rumah.


sedang Topan, Deni dan Iwan sudah menunggu kedua orang itu di depan lapas.


tak lama mereka keluar dari tempat itu, dan saat berjalan untuk mencari kendaraan.


keduanya di sergap dan langsung di masukkan kedalam mobil, mereka tak bisa berontak dan melawan.


di dalam mobil keduanya di bius, dan jika ada CCTV di jalanan pun tak akan berguna, karena mereka memakai topeng sintetis yang biasa mereka gunakan untuk merampok.


dan plat nomor mobil itu juga palsu, mobil Jeep itu menuju ke sebuah gudang terbengkalai yang sebenarnya di dalam sangat baik.


karena pria itu menjadikan tempat itu tak terlacak dan sangat aman.


keduanya sudah terikat dengan mulut tersumpal kain agar tak bisa berteriak.


keduanya sadar,mereka kaget melihat ada empat orang yang sedang main kartu di depannya.


mereka tak bisa melepaskan diri karena itu rantai khusus untuk mengikat penjahat.


"emm... Hem..."


"tenang saja, tunggu sebentar lagi, karena aku sedang main, jangan sampai aku kesal dan langsung memotong lidah kalian," kata Jarvis.

__ADS_1


__ADS_2