
Javis pun seakan ingat bagaimana dia harus melihat tubuh kaku kedua orang tuannya di dalam kamar jenazah.
bahkan ada dua tubuh yang lain di tempat yang sama, bagi bocah berusia dua belas tahun harus melihat semua ini begitu menghancurkannya.
hingga dia melihat seorang wanita yang cukup sepuh dan suaminya datang memeluk kedua jenazah di samping jenazah orang tuanya.
"kita harus gimana pak, Mei sedang di ruang operasi, dan dokter mengatakan cucu kita itu akan hidup dengan cacat, ya Allah.... kenapa semua menimpa keluarga anakku, ya Allah nduk.... anak mu sek cilik," kata wanita itu.
tapi sosok pria tua itu melihat Javis yang tak menunjukkan ekspresi apapun melihat jenazah orang tuanya yang terlibat kecelakaan maut itu.
"tole... kamu bisa menangis, jangan diam seperti ini, dan dimana saudara mu," kata pria tua itu.
"mereka tak menyukai ku karena ayah ku bukan orang kaya," jawab Javis.
mendengar itu pria itu memeluk tubuh Javis dengan erat, tiba-tiba Javis langsung menangis sedih.
akhirnya malam itu, dua orang yang sedih harus kehilangan segalanya, dan akhirnya Keduanya tidur dalam keadaan hati kacau dan menangis.
Mei bangun pukul tiga pagi untuk mulai memasak, beruntung meski suasana hatinya cukup buruk.
tapi tak mempengaruhi semua masakannya, tapi mata wanita itu tak bisa bohong.
pukul lima pagi Yuni dan Wenda baru datang dan kaget saat semua sudah tertata rapi, "mbak Mei bangun jam berapa?"
"ha-ha-ha... aku tidak bisa tidur," kata Mei tersenyum.
"mbak habis menangis, mata mbak kok sembab begitu, ayo jangan bohong mbak," kata Wenda yang melihat Mei.
"sudah kalian jaga dan layani semua pelanggan ya, mbak mau buat sate daging, entah kenapa hari ini mbak merindukan Mbah dok," jawab Mei yang langsung lari kedalam rumah.
"apa mbak Mei baik-baik saja?" tanya Yuni yang baru kali ini melihat sosok bos-nya itu seperti itu.
semua pelanggan mulai berdatangan, dan aroma sate daging yang di buat Mei.
banyak menggoda para pelanggan hingga memesan cukup banyak, karena itu adalah resep rahasia dari keluarganya.
pukul setengah tujuh pagi, rombongan Javis dan semua anak buahnya juga datang.
__ADS_1
"permisi mau pesan apa?" tanya Yuni yang kaget melihat Javis dengan mata bengkak.
"pesen nasi campur sepuluh ya Yuni, dan sepuluh teh hangat, dan aku mencium aroma yang enak? apa itu?" tanya Deni yang sudah sangat dekat dengan Yuni dalam semalam.
"oh itu mbak Mei sedang buat sate daging, katanya sedang rindu Mbah dok, mau coba aku jamin kalian semua pasti suka, karena jarang mbak Mei membuat resep ini," kata Yuni.
"lah memang hari ini ada yang spesial?" tanya Topan.
"tidak, tapi kalau sedang sedih pasti akan membuatnya, dulu kalau mbak Mei cerita itu, Mbah dok selalu membuatkan menu ini saat mbak Mei sedih," kata Yuni yang malah cerita.
"sudah bisa bawa pesanan itu dulu, dan minta dua puluh sate dagingnya," kata Javis dingin.
"iya mas, eh juragan bos..." kata Yuni yang kaget.
semua anak buah Javis merasa jika emosi pria itu sangat buruk, padahal sebelum pergi dia mendapatkan telpon dari pengacaranya.
dan ternyata semua gugatan Javis, dan perceraian sudah putus, dan kini Javis menjadi pria sendiri lagi.
terlebih Javis juga tak mengizinkan bayi anak dari Sahara memakai namanya, karena bayi itu bukan anaknya.
sedang di kota lain, pak Budiono dan Sahara kaget karena menerima surat keputusan yang mengejutkan itu.
sedang Sahara kini benar-benar jadi gelandangan, dan anaknya bahkan tak bisa memakai nama milik Javis.
"ini semua tak bisa ku terima, aku harus bertanya pada pria itu, kenapa dia memperlakukan aku seperti ini," kata Sahara.
mendengar ucapan cucu menantunya itu, pak Budiono merasa begitu pusing, "tutup mulutmu Sahara, kamu mau hilang tanpa jejak setelah menemui Javis, kalau iya silahkan,"
"tapi aku di buang, dan semua ini karena kakek,kenapa kamu yang mengagahi ku, dasar pria tua tak sadar diri!!" maki Sahara yang merasa buruk.
"kamu yang sudah telanjur kotor dari awal, tak usah bersikap seperti orang suci, itu menjijikan, jika bukan karena ayah mu, aku juga tak ingin menikahkan Javis dengan mu," kata pak Budiono.
keduanya kini saling menyalahkan, mereka belum sadar jika hidup keduanya siap di buang.
Yuni dan Wenda membawa semua pesanan dari Javis dan yang lain, dan sate itu di bagi menjadi empat piring.
tapi yang aneh pesanannya kurang satu, yuni tak memberikan milik Javis.
__ADS_1
"loh Yuni mana milik pak bos," tanya pria itu melihat Yuni.
"emm... pak bos di minta mbak Mei untuk kedalam, karena ada sesuatu yang ingin di katakan oleh mbak Mei," kata Yuni.
mendengar itu Javis langsung berdiri dan lari kedalam warung.
Mei hanya sedang berdiri di sana melihat Javis yang melangkah menghampiri dirinya.
"ada apa kamu ingin menemui ku?" tanya Javis melihat gadis itu.
"aku ingin melihat mas Javis makan di sini," kata Mei yang memberikan pesanan Javis.
"tidak, aku akan makan bersama dengan semua orang ku," kata pria itu.
"aku mohon, karena setelah ini aku harus pergi ke tempat yang jauh, jadi aku mohon," kata Mei yang menghentikan langkah Javis.
"kenapa kamu mengatakannya, kamu bisa langsung pergi, dan kenapa aku harus tau,"
"maaf... aku yang bodoh, sepertinya aku memang tak berguna ya, bahkan hidup ku saja terus membuat orang lain marah," kata Mei tersenyum melihat punggung Javis.
mendengar itu Javis berbalik dan duduk di meja samping Mei yang sedang membakar sate daging keloter terakhir.
"kenapa kamu mengatakan hal seperti itu, apa kamu mau mati?" tanya Javis.
"mas tau,mau aku hidup atau mati pun tak akan ada orang yang peduli, semua keluarga ku sudah tiada, jadi untuk apa aku hidup di dunia ini, toh satu persatu orang yang ku kenal akan pergi bukan, jadi aku memilih menjauh dari sini," kata Mei
"tapi aku membutuhkan mu," kata Javis.
"mas Javis sempurna, pasti bisa memiliki wanita yang pantas di cintai,"
"tapi aku ingin dirimu," kata Javis tetap kekeh.
"habiskan makanan mas Javis, aku akan menjelaskan kenapa aku menolak mu," kata Mei yang membuat Javis makan dengan buru-buru.
tak lama satu piring nasi itu sudah amblas dengan cepat, bahkan air jahe hangat itu juga sudah habis sekali teguk.
"seharusnya mas Javis pelan-pelan karena jika tau apa yang akan aku tunjukkan mas Javis pasti akan menyesalinya," kata Mei sedih.
__ADS_1
"tidak akan!" bantah Javis.