
setelah dari desa tetangga itu, mereka pun pulang, Lessa bahkan sudah pulas tertidur karena kelelahan.
Javis mengendong putrinya dan membawanya masuk, dia menidurkan putrinya itu di ranjang.
dan sempat membersihkan tangan dan kaki Lessa dengan tisu basah, dan tak lupa wajah bocah kecil itu.
pasalnya kulit Lessa terlalu sensitif, sedang Mei segera mandi untuk menyegarkan tubuhnya dan segera melaksanakan kewajibannya.
setelah itu, dia dan Javis duduk di ruang tengah sambil mengerjakan pekerjaan yang masih belum selesai.
yaitu menghitung setiap gaji para pekerja dan juga sumbangan yang akan di bagikan.
"sayang aku merasa heran, setiap bulan kenapa kita sangat untung, dan rasanya uang tak ada habisnya, padahal yang kita lakukan selalu membagikan uang dan sembako pada banyak orang setiap bulan," kata Javis merasa aneh.
"mas, di harta kita itu ada hak orang miskin, dan kita harus menyalurkan dengan benar, dan Allah pernah berjanji barang siapa yang ikhlas dalam bersedekah, Allah akan menggantinya dengan berkali-kali lipat," kata Mei.
"iya sayang, dan setiap anak dan istri itu membawa rezeki sendiri, dan aku yakini itu, karena setelah ada dirimu dan Lessa,aku merasa usahaku sangat lancar, di tambah lagi sekarang akan ada calon adik Lessa,"terang Javis mengusap perut istrinya.
"bismillah ya mas, ingat sebisa mungkin selalu mengaji sambil menyentuhnya, karena aku ingin dia menjadi anak yang paham agama agar tak tersesat di dunia yang j
kejam ini," kata Mei.
"Amiin..."
sore hari, saat keluarga mereka sedang mengaji, tiba-tiba ada tamu yang datang,Mei pun membuka pintu dan kaget melihat satu keluarga yang datang.
"assalamualaikum...." sapa Dian dengan semangat.
"waalaikum salam, ya Allah mbak akhirnya pulang, aku sudah takut karena kandungan ku makin besar," kata Mei berpelukan dengan Dian.
"aduh kami tak di sapa juga, ini ada Ibram dan Kesya loh," kata Japar.
"maaf mas, ayo masuk ... mas Javis dan Lessa sedang mengaji," kata Mei.
Javis dan Lessa keluar, dan menyapa para tamu yang datang.
Dian tak menyangka jika gadis mungil itu sudah berjilbab seperti bundanya.
Ibram memberikan sebuah gelang pada Lessa, karena kebesaran jadi Dian melingkarkan sebanyak dua kali agar bisa di pakai gadis itu.
__ADS_1
"Ibram sepertinya sangat menyukai Lessa ya,"
"Ibram sudah menganggap Lessa seperti adik Ibram, jadi Ibram akan selalu melindungi Lessa," kata Ibram yakin sambil mengandeng tangan gadis kecil itu.
"apa kamu yakin Ibram, karena om mau punya menantu yang kuat dalam pertarungan dan agama loh, karena Lessa sangat berharga bagi om," kata Javis tersenyum menggoda pria kecil itu.
"Ibram yakin akan jadi orang yang baik untuk Lessa di masa depan," jawab Ibram.
Lessa sangat senang karena dia tak pernah merasakan di lindu hi oleh kakak.
dan ucapan pria kecil itu seperti keyakinan yang membuat Japar tak percaya dengan ucapan putranya.
setelah puas berbincang, keluarga Japar pamit pulang, "aduh aku lapar sayang,mereka ini datang kok ya pas jam makan malam,beruntung aku tak kelaparan," kata Javis tertawa.
dia pun langsung menyantap makan malam bersama keluarganya, bahkan Lessa sudah bisa makan sendiri.
"ada apa sayang," tanya Mei mrligat Javis yang terdiam saat melihat ponselnya.
"sayang ini ada kiriman video yang tak senonoh,dan apa kamu bisa percaya siapa pemainnya," lirih Javis menunjukkan video itu.
karena penasaran Mei melihat video di ponsel suaminya, dia bahkan sampai tersedak setelah melihatnya.
"sayang apa-apaan ini, kenapa ada video beginian, dan ini mbak Eka, bersama dengan tiga pria!" kata Mei tak percaya.
"sepertinya aku harus ke tempat Fery setelah ini, kamu dan Lessa di rumah saja ya sayang," kata Javis yang tak ingin sesuatu terjadi pada istri dan anaknya.
"baik mas," jawab Mei.
Lessa yang mengerti juga tak rewel melihat ayahnya pergi, Javis yang selesai makan langsung berangkat dengan mengunakan motor miliknya.
ternyata di rumah Fery sudah sangat ramai, dan terlihat Deny dan Iwan sudah ada di sana, begitupun dengan Lukman.
"jadi sekarang ada yang bisa bilang ada apa ini?"
"Fery hampir membunuh istrinya,karena video yang beredar bos, dan mbak Eka mengakuinya jika itu dia, jadi kami mengikat Fery agar tenang," kata Lukman.
"tapi itu karena dia duluan yang berselingkuh dengan wanita asal kita yang selalu dia ajak kemana-mana,dan kalian juga membantunya menyembunyikan semuanya," marah Eka.
"wanita kota," bingung Javis.
__ADS_1
"yang di maksud adalah mbak Sheila bos," saut Iwan.
"wanita bodoh,dia itu sedang bekerja, bahkan wanita itu menyewa jasa Fery untuk melindunginya dari mantan suami dan keluarganya, tidak ada hubungan seperti itu,"kata Javis.
"apa, kalau begitu kenapa tak bilang," kaget Eka yang merasa bodoh.
"seharusnya kamu peka, kamu tentu tak melihat bagaimana setiap usaha suamimu agar bisa membahagiakan kalian semua, terutama dirimu dan putra mu," kata Iwan.
"maafkan aku mas," kata Eka yang terlanjur malu dan sedih.
"tak Sudi, sekarang kita bercerai saja, aku tak mau dengan wanita murahan seperti mu, yang dengan sombong memamerkan hubungan men-ji-jik-kan itu," kata Fery.
"tidak ... aku melakukan semua itu karena salah paham," mohon Eka.
"aku akan keluar dari rumah, dan ini adalah harta yang kamu dapatkan saat aku menceraikan mu, dan mulai sekarang aku menjatuhkan TALAK, TALAK,TALAK..."
Fery pergi meninggalkan rumah dan pamit pada Javis untuk memilih bekerja di Bali.
karena Javis baru saja membuka bisnis di kota itu, Javis pun mengizinkan.
Eka benar-benar menjadi wanita bodoh, kecemburuan yang ingin dia balas, malah jadi Boomerang baginya.
dan di desa ini dia juga sudah di cap sebagai wanita murahan yang bisa melakukan hal seperti itu.
Javis tak mengira jika pernikahan Fery yang terjalin dengan berbagai perjuangan.
bisa hancur dalam sekejap mata, itupun karena kesalahpahaman,Javis tak ingin mengulangi kesalahan seperti itu.
dia berjanji pada dirinya sendiri akan selalu jujur apapun yang akan terjadi itu lebih baik.
Javis, Lukman, Deny dan Iwan duduk bersama, "sekarang tinggal kita bos, apa kita bisa membantu bos," kata Deny yang merasa frustasi.
"itu tak jadi masalah, karena aku akan ikut turun sekarang, karena aku tak ingin diam di rumah saja," jawab Javis.
"iya bos, tapi aku dengar jika di kampung sebelah lusa ada pelelangan sawah yang cukup luas, apa mau berangkat?"
"boleh, aku ingin membeli itu untuk investasi masa depan, kalian juga bisa bersaing jika ingin mendapatkan tanah itu," gumamnya.
"kami mengerti bos," jawab ketiganya yang tak akan bisa menyaingi kekayaan Javis.
__ADS_1