Si Berandal, Milik Meidina

Si Berandal, Milik Meidina
tak ada lowongan


__ADS_3

Javis sedang istirahat saat Iwan datang membawa beberapa bungkusan kresek bersamaan dengan Dono.


"selamat siang Bu bos, mau setor," kata Iwan.


"taruh di tengah, dan sudah ada nama sesuai tempatnya kan, karena aku tak hapal semua usaha suamiku," kat Mei pada dua orang kepercayaan suaminya itu.


"iya Bu bos," jawab Dono.


setelah menaruh barang itu, mereka pun kembali ke rumah masing-masing.


Mei melihat ponsel suaminya yang sedang di cas, dia melihat ada beberapa kali telpon masuk dan itu terus menerus berdering.


"ini siapa sih," gumam Mei mengambil ponsel itu dan menjawabnya.


"iya ini siapa?" tanya Mei


"Anda yang siapa, saya ini menelpon bos Javis, anda itu lancang sekali menjawab telpon bos," ketus wanita itu.


"tak peduli, cepat sebutkan nama, jabatan dan kerja di mana, dan apa perlu mu, jika tidak aku matikan telpon ini," ketus Mei.


"saya Yunisa, pelaksana di bengkel yang di tangani mas Nugi, saa adalah calon istrinya, saya hanya ingin tau keadaan kekasih ku dan ada beberapa dokumen yang harus di tandatangani memang salah, dasar pembantu sialan," maki wanita itu.


mendengar itu Mei langsung marah, dia pun pergi mengajak putrinya pergi.


dia menelpon Nugi, dan meminta alamat bengkel yang selama ini di gunakan untuk memperbaiki semuanya.


mobil Pajero putih itu masuk kedalam bengkel yang begitu sibuk, Mei membunyikan klakson mobil dua kali dan Nugi langsung lari tergopoh-gopoh mendekati mobil itu.


"selamat siang Bu bos," sapa pria itu.


"siang Nugi, tolong gendong Lessa, dan antar aku ke kantor, dan tolong panggil yang bernama Yunisa ke depan ku, segera," kata Mei pada salah satu pegawai.


Nugi membuka pintu kantor milik Javis, dan terlihat ruangan itu sangat rapi.


dia duduk di kursi bos dan melihat semua pekerja di bawah yang super sibuk.


terlihat ada dua orang wanita yang datang dengan sedikit berlari, mereka seperti tak sabar ingin menemui seseorang.


bahkan dengan tidak sopan wanita itu masuk kedalam kantor Javis tanpa mengetuk pintu.


"pak bos merindukan ku, aku merindukan pak bos Javis," kata wanita itu dengan senang.

__ADS_1


tapi senyumnya hilang saat melihat sosok yang duduk di kursi milik Javis, "kamu yang bernama Yunisa,"


"kamu siapa, kamu pembantu tadi ya," kata wanita itu menunjuk Mei.


"Yunisa yang sopan, dia itu istri pak bos," tegur Nugi.


"yang akan di ceraikan oleh pak bos, karena aku adalah calon nyonya," kata wanita itu sombong.


"bagaimana kamu tau jika aku akan di ceraikan, apa dia bilang sendiri padamu, dan asal kamu tau dia menceraikan ku berarti dia siap jadi gelandangan," kata Mei tersenyum.


"itu tak mungkin karena dia punya banyak harta,"


"tapi sayangnya semua harta itu atas namaku dan putri ku, jadi jika dia minta cerai, dia harus angkat kaki dari rumah dan meninggalkan semua harta yang dia miliki," kata Mei.


"alah kamu bohong," kata Yunisa.


"terserah saja, Nugi mereka berdua di pecat dan usir dari tempat ini, dan pastikan aku tak akan melihatnya," kata Mei tegas.


"baik Bu bos."


"kamu tak bisa memecat ku karena aku bekerja untuk pak bos, bukan wanita rendah seperti mu," marah Yunisa.


"tapi sayangnya, kedudukan ku lebih tinggi dari pada bos mu, dan jangan membuatku harus memisahkan kepala dan tubuh mu karena kesal, karena aku juga bukan wanita yang bisa bersabar," kata Mei dengan santai.


karena kisah awalnya adalah keduanya itu saudara sepupu dari Risa.


dan meminta pekerjaan pada Lukman, tapi satu tahun bekerja di tempat Javis, keduanya malah bertingkah seolah mereka ini pemiliknya.


dan itu sangat menganggu semua orang, bahkan Javis tak pernah datang lagi karena malas berurusan dengan kedua wanita itu.


dan sekarang Mei benar-benar membereskan masalah itu dengan mudah.


kedua gadis itu tak terima di pecat, mereka akan protes dan meminta Lukman untuk bicara.


tapi saat di jalan, seseorang menyiramkan air keras ke wajah keduanya cukup banyak.


keduanya langsung jatuh dan kesakitan, warga yang mendengar teriakan dari keduanya langsung berbondong-bondong datang menolong.


"ini terakhir kali aku melihat ada wanita di tempat usaha suamiku, tanpa persetujuan dari ku, tak ada yang boleh memperkerjakan mereka, mengerti," kata Mei dengan tegas.


"baik Bu bos," jawab mereka semua.

__ADS_1


Mei pun mengajak Lessa pulang, dan sebelum sampai rumah, dia memutuskan untuk membeli brownis kukus kesukaan suami dan putrinya.


dan juga dia membeli kulit lumpia untuk membuat camilan, "nda Li osis ya,"


"oke sayang, sudah semuanya," kata Mei yang langsung membayar.


mereka sampai di rumah dan Javis sudah duduk santai di teras ngopi, "dari mana sayang ku?"


"ari Li osis," kata kesal yang berlari membawa es krim.


"beli kue mas, habis di rumah sudah tak ada stok tersisa," kata Mei yang membawa kresek cukup besar.


"seharusnya tunggu aku dan jika perlu tadi bangunin ayah bunda,"


"kasihan ah yah, ayah belum tidur dan istirahat, lagi pula bunda masih bisa," jawab Mei.


akhirnya mereka masuk dan mendapatkan kabar jika Yunisa dan adiknya di pecat.


dan Javis merasa sangat senang, entahlah dia seperti lega karena Nugi memecat mereka akhirnya.


"ada apa mas, kok kelihatan seneng banget?"


"tak ada sayang, sekarang ayo kita buat martabak telur, aku sedang ingin makan itu dengan acar timun dan cabai," kata Javis mengecup pipi Mei.


"yah... kok ium ium nda cih,"


"aduh sepertinya putri ayah juga cemburu ya, sini ayah cium," kata Javis.


dia pun tak menyangka jika akan memiliki keluarga bahagia seperti ini.


sedang Lukman di serang oleh keluarga istrinya, dan dia tau jika ini adalah akibat karena para wanita itu melakukan hal buruk.


"ada apa ini?" tanya Lukman yang pura-pura bodoh.


"Lukman kamu ini bagaimana, adik sepupu Risa sekarang di pecat, dan juga wajah mereka rusak karena di siram air keras oleh seseorang yang tak di kenal, sekarang kami butuh pertanggungjawaban,"


"mau siapa yang kalian suruh tangung jawab, itu karena ulah putri kalian sendiri, kegatelan dengan suami orang, dan berani-berani mereka menghina Bu bos dengan menyebutnya sebagai pembantu, jika bos Javis tau, mungkin keduanya sekarang tinggal nama, jadi aku tak mau tanggungjawab itu bukan urusan ku," kata Lukman dengan santai.


mereka semua diam, bahkan orang tua Risa tak mau membela karena Javis dan Mei sangat baik pada mereka.


terlebih mereka sekeluarga juga tau bagaimana sikap dan tingkah dari keluarga itu.

__ADS_1


jadi semua orang juga tak peduli, karena keluarga itu selalu sombong meski dengan keluarga sendiri.


__ADS_2