
Mbah dukun pun hanya bisa menghela nafas saja, "ya wes kamu mau dia melihat mu dan menyukaimu kan, mbah bantu," kata dukun itu menyeringai.
tentu saja dia tak akan benar-benar membantu wanita itu, terlebih ini adalah suami dari cucu temannya.
bahkan Mei sudah di anggapnya cucu sendiri, Latifah pun dengan senang hati karena sebentar lagi dia akan bisa menaklukkan Javis.
sedang di warung, Mei sedang duduk sambil menunggu para anak buahnya selesai menggongso bumbu.
dia melihat ada sosok dari makhluk halus bernama Winda yang sedang menaburkan sesuatu.
melihat itu, Mei mengambil daun kelor yang ada di belakang ruko dan juga air cucian beras yang tadi sengaja masak untuk semua orang yang membantunya.
kebiasaan dari Mei yang satu dulu jarang membuang air cucian beras karena itu bisa menolak bala dan sihir.
dia meminta bantuan pada Yuni untuk membawanya kedepan, setelah itu Winda pun di siram dengan air daun kelor baru air cucian beras.
"wah maaf, aku tak tau ada orang, mbak juga ngapain jongkok di pojok warung kami, kan aku jadi tak tau Mbak disini,"terang Mei menahan tawa.
"apa kamu buta, bagaimana kamu bisa bilang tak tau, dasar wanita sialan!!"maki Winda.
tanpa di duga Mei tiba-tiba membacakan surat alfatihah dan ayat kursi.
"aku tak kemasukan setan!!" teriak Winda.
"mbak memang gak kemasukan setan, tapi mbak itu setannya," kesal Mei.
tiba-tiba Mei langsung pergi, dan Winda baru merasakan jika tubuhnya tiba-tiba menjadi sangat panas.
tanpa dia sadari semua susuk yang pernah dia pakai lepas, dan perlahan penampilannya sudah sangat berubah
dari yang awalnya cantik, tiba-tiba menjadi seperti orang lain yang sangat kumal dan jelek.
"awas kamu," marah Winda yang merasakan tubuhnya begitu kepanasan.
dia berlari menyebrang jalan tanpa melihat kanan kini dan terjadilah hal yang tak terduga.
brak....
tubuh wanita itu terpental karena tertabrak sebuah truk muatan ayah potong.
dan truk itu langsung lari tancap gas, meninggalkan Winda terluka parah di pinggir jalan, semua orang mendekat tapi tak ada yang berani menolongnya.
__ADS_1
"kenapa diam,cepat bantu, dia harus di bawa ke rumah sakit," panik Mei melihat kondisi Winda.
Mei menyuruh salah satu dari pegawainya untuk menyiram bekas tempat Winda jatuh dengan air garam yang di campur kapur sirih dan jeruk nipis.
mereka ikuti saja tanpa mau bertanya, sedang Mei mengikuti ambulan dengan Nurul pegawai barunya.
"mbak kenapa Mei repot, biarin saja sih, orang menyebalkan ini, bikin orang kesel saja," kata gadis itu dengan kesal.
"aduh kamu ini ngomong apa, sudah kita ini sebagai sesama makhluk hidup harus saling tolong menolong."
Mei dan Nurul sampai di rumah sakit Mojowarno, ternyata kondisi wanita itu kritis.
beruntung keluarganya datang untuk menyelesaikan semuanya,setelah itu baru Mei dan Nurul pulang.
pukul tiga sore Javis pulang dari sawahnya, ya karena hari ini tak ada kegiatan yang perlu di perhatikan lagi.
jadi dia memilih untuk istirahat di rumah, lagi pula malam nanti dia akan meminta jatah lebih banyak pada istrinya.
baru juga melepaskan bajunya dan berniat mandi, dia mendengar suara ketukan pintu.
dia pun mengambil bajunya lagi dan melihat siapa tamu yang datang ke rumahnya.
ternyata ada sosok Latifah yang sedang berdiri di luar pintu. dia menghela nafas karena dia tak ingin wanita itu menganggunya.
bahkan jendela dan pintu belakang juga, Latifah yang menunggu di depan pintu pun kembali mengetuk pintu rumah.
"ih... ini kemana sih mas Javis, bukankah dia sudah pulang, itu sepeda motor juga ada, sandal juga sudah ada di rumah, sepertinya aku harus lewat belakang nih kayaknya," gumam wanita itu.
Javis baru selesai mandi dan tubuhnya terasa segar, saat tiba-tiba gagang pintu di belakang rumah seperti akan di buka paksa.
"untung aku sudah menguncinya," gumam Javis.
Latifah semakin kesal karena tak bisa buka pintu yang ada di rumah satupun.
Mei datang di antarkan Nurul karena kata Iwan jika pak bos mereka pulang duluan
dia kaget saat melihat sosok Latifah yang keluar dari samping rumah, "mbak Latifah sedang apa di sana?" tanya Mei yang merasa aneh.
"memang kenapa sih,kamu kok suka ngurusin urusan hidup orang," ketus Latifah yang melewati Mei.
mendengar jawaban itu,Mei kesal dan langsung mendorong Latifah hingga tersungkur.
__ADS_1
"kamu tau, kamu itu tak tau malu, bagaimana bisa kamu lancang masuk ke rumah orang seperti ini sialan! terlebih untuk menggoda suami orang lain!!" maki Mei.
"aku hanya menghampiri pria yang sekarang sudah menjadi milikku, karena dia akan bertekuk lutut padaku, lihat saja..." jawab Latifah bangun dari jatuhnya.
"sepertinya kamu lupa apa yang bisa aku lakukan ya," kata Mei dingin.
"lakukan jika kamu bisa!!" kata Latifah menantang Mei.
dia yakin jika sekali saja Javis keluar rumah dan melihat dirinya, pasti pria itu akan tergila-gila Padanya.
tapi Latifah tak menyangka jika Mei mencabut sebuah bambu kuning di halaman rumahnya, dan langsung menghajar wanita itu.
"apa yang kamu lakukan sialan," marah Latifah yang terlihat kesakitan.
pasalnya Mei memukulkan bambu kuning itu dengan sangat keras ke tubuh wanita itu tanpa ampun.
"tolong ada wanita gila yang sedang menyiksaku," kata Latifah yang memancing keributan.
warga mulai berdatangan, Javis datang dan menahan Mei, dia langsung membuang bambu kuning itu.
"ada apa sayang, kamu kenapa? kenapa kamu bisa sekasar ini?"
"bagaimana tidak, dia tak tau malu, ini masih sore hari, tapi dia ingin masuk kedalam rumah dan melemparkan dirinya padamu, untuk merebut mu, apa wanita seperti ini bisa di katakan wanita baik-baik, dia terus bertingkah seperti pelacur setelah pulang dari luar negeri, atau jangan-jangan di sana pun kamu menggoda para majikan mu!!" marah Mei yang benar-benar lepas kontrol
Javis memeluk istrinya itu, "itulah kenapa aku mengunci pintu, karena dia berusaha masuk kedalam rumah dari saat aku pulang tadi,"
semua warga tak mengira akan hal itu, "wah ternyata Latifah ini gatel juga ya," ejek salah satu ibu.
"tapi mas, kamu yang menyuruhku, kamu pasti memilih ku dari pada dia," kata Latifah.
melihat Latifah yang menyibakkan rambutnya, Javis langsung mual dan mundur begitupun dengan semua orang.
"aduh dia punya borok menjijikkan seperti itu, jauhi dia uh... jijik..." kata para warga.
"aduh dia tak sadar diri, wajah buruk rupa gitu,mana mau bos Javis sama dia, iyuh...."
"kalian semua buta, aku itu wanita cantik," kata Latifah yang belum sadar.
ibu Latifah mengambil sprei untuk menutupi putrinya yang tiba-tiba terkena penyakit borok dan bernanah.
"apa sih Bu,"
__ADS_1
"lihat kondisi mu nak, sebenarnya apa yang kamu lakukan..." tangis ibu Latifah.
wanita itu terkejut bagaimana bisa, dia yang harusnya cantik jelita malah harus jadi buruk rupa seperti ini.