
Wenda tak bisa memberi tahu tentang semua yang terjadi di desa, terutama tentang apa yang terjadi pada Risa dan Lukman
tapi tanpa mereka tau, jika semua yang terjadi sudah di ketahui oleh Javis.
bagaimana pun dia punya anak buah lain selain mereka berenam, dan dia tak menyangka jika Lukman memilih jalan itu.
"ada apa mas, sepertinya sedang sangat banyak pikiran?" tanya Mei yang melihat suaminya bengong.
"tidak ada bunda ku sayang, aku cuma rindu Lessa, bagaimana pun aku biasanya bisa bermain dan memeluknya," kata Javis yang duduk di kursi samping ranjang istrinya.
"maaf ya mas, karena aku mas jadi terpisah dengan putri kecil kita, seharusnya aku tak terbawa suasana melawan Reihan padahal jahitan di perut ku belum kering," kata Mei sedih.
"bukan begitu, aku tak menyalahkan mu, aku hanya tak mengira jika kamu bisa membahayakan nyawa mu, beruntung dokter bisa membuat jahitan itu kembali," kata Javis mengecup kening istrinya.
"iya mas, tapi mana bubur ayam ku?" tanya Mei yang merasa sudah lapar.
"tunggu sayang masih di jalan, maklum disini adalah kota besar yang sangat sibuk dan jalanan selalu penuh," terang Javis yang khawatir istrinya kelaparan.
"ayolah sayang, aku cuma bercanda, jangan pasang wajah panik begitu," ledek Mei melihat suaminya.
sedang Javis yang gemas langsung memeluk istrinya dan menciumi wajah Mei dengan gemas.
bertepatan dengan itu, dokter masuk untuk mengecek keadaan dari pasien, "maaf... apa saya menganggu?"
"tidak dokter, silahkan maaf saya sedang bercanda dengan istri saya," kata Javis malu.
Mei hanya tersenyum kearah semua orang, dokter itu pun melihat kondisi Mei dan besok sore wanita itu boleh pulang setelah ganti perban.
dan beruntung jahitan yang robek tak parah jadi Mei bisa berkegiatan dengan hal ringan-ringan tanpa melukai dirinya lagi.
sedang di rumah Dian, bayi mungil yang sedang berada di troli mengejutkan hujan, bagaimana tidak kenapa ada bayi di rumah itu.
"mbak ngangkat anak?" tanya hujan bingung.
"tidak, ini adalah anak teman ku, dia sedang di rawat di rumah sakit, jadi bayinya di titipkan di sini, tapi ada apa kamu kemari hujan?" tanya Dian yang mengendong bayi mungil itu.
__ADS_1
"aku ingin curhat,aku bingung mbak, kenapa ada yang tega menyerang anak buah mas Malik, dan membuat dua tangan kanan mas Malik hampir mati, sekarang Suamiku ada di kota untuk memastikan dua orang anak buahnya aman," kata hujan terlihat sedih.
"kamu yakin anak buah Malik tak salah, setahu diriku, jika ada sebuah tantangan yang di layangkan,mereka harus menyerahkan sebuah lambang dari geng masing-masing," kata Japar yang datang dan meminta bayi perempuan itu.
"mas tolong awasi Ibram dan Shakira di belakang ya," kata Dian yang takut Japar keceplosan.
"tapi tak mungkin mereka menantang tanpa bukti?"
"memang kamu tau apa, apa kamu yakin brewok dan Reihan baik,kamu hanya ibu rumah tangga yang mengurusi dapur, kamu tak tau tentang intern yang terjadi di geng suamimu," kata Japar yang pergi begitu saja.
Dian merasa tak enak karena ucapan Japar, tapi itu memang yang terjadi.
Ayu kaget saat melihat Lukman melamarnya di depan Risa yang tengah sakit di puskesmas.
"kamu gila, kenapa kamu melamar ku, aku hanya mencintai mas Iwan bukan kamu," marah ayu yang mendorong Lukman.
"tapi aku mencintaimu, aku akan melakukan segala cara untuk membahagiakan mu," kata Lukman
Adi merasa jika ada yang janggal, karena saat menatap ayu, tatapan mata dari Lukman seperti orang yang linglung.
"sebenarnya apa yang kamu lakukan ayu,kenapa dia bisa seperti ini ayu!!" marah Adi.
dia memang tak sepenuhnya ingin menikahi Risa meski dia suka pada gadis itu.
tapi melihat Risa terus sedih seperti ini juga menyebalkan, "aku tak melakukan apapun, tapi mungkin dia yang salah minum kopi," lirih ayu.
"apa..." bingung Adi.
ayu pun menutup matanya takut, "jawab ayu, apa maksud mu,"
"saat mas Iwan memutuskan ku, aku melakukan pelet kemarin lalu karena ingin pria itu bisa melihat ku dan bertelur lutut padaku, jadi aku melakukan pelet, tapi sepertinya kopi yang ada pelet itu di minum mas Lukman," kata ayu dengan ketakutan.
"gadis sialan, ini tahun berapa kamu masih melakukan hal itu, sekarang aku tak mau tau, bagaimana pun caranya buat Lukman sadar atau aku akan melakukan hal yang menyakitimu," marah Adi
"aku tidak bisa melakukan apapun mas, karena pelet itu hanya bisa lepas saat aku mati karena itu pelet darah haid," kata ayu gemetar ketakutan.
__ADS_1
mendengar itu, dengan marah Adi mendorong ayu cukup keras,dan membuat wanita itu tersungkur.
Risa tak percaya mendengar ucapan Sahabatnya itu yang bisa melakukan hal seburuk itu.
sedang Iwan dan Wenda yang datang untuk menjemput Risa pulang kaget melihat ayu yang sedang terduduk di tanah.
"ada apa ayu, kamu kenapa," kata Wenda yang ingin menolong gadis itu.
"jangan menyentuhnya,dia itu wanita beracun dan hatinya sangat busuk, dia tega melakukan segala hal demi cinta butanya, apa bedanya kamu dan Nurul," marah Adi yang tak tahan lagi.
Risa menahan tubuh Lukman yang ingin menolong ayu, tapi tak di duga, sebuah peluru nyasar membunuh wanita itu.
atau lebih tepatnya peluru yang sengaja di tembak kearah ayu, dan itu adalah peluru airsoft gun.
wanita itu bahkan langsung terkapar tak berdaya di depan semua orang dan pelaku penembakan kabur.
dua orang itu tersenyum, mereka bahkan bertos ria, "tugas kita selesai sayang, sekarang kita berangkat ke malang untuk mengerjakan semua tugas dari bos Javis di sana,"
"tentu suamimu, dua wanita sialan itu sudah pergi ke neraka," kata Rina pada topan yang masih memegang senjata itu.
mereka memang dapat tugas dari Javis untuk menyelesaikan masalah dengan beres.
tak hanya itu, topan bahkan di hadiahi sebuah rumah mewah di malang sebagai hadiah jika berhasil.
bahkan dia memutuskan menikahi Rina di KUA pagi tadi setelah membantu Javis karena mereka ingin hidup nyaman sebagai keluarga yang sempurna.
terlebih Javis juga sudah memberikan banyak uang padanya dan itu sangat cukup untuk kehidupan mereka.
sedang ayu yang masih meregang nyawa pun seperti tak bisa mati, dan darah yang mengenai tubuh Lukman.
sepertinya menyembuhkan pria itu dari pengaruh pelet yang di berikan oleh ayu.
"aku kenapa, dan sayang kenapa kamu memeluk ku dan tangan mu?" tanya Lukman yang langsung memeluk Risa erat.
"haduh repot nih,karena dia tak mati," gumam Adit.
__ADS_1