Si Berandal, Milik Meidina

Si Berandal, Milik Meidina
sang pelipur lara


__ADS_3

Dian dan Japar mengantar bayi Lessa pulang ke rumah orang tuanya.


karena mereka juga baru tau tentang apa yang terjadi pada kakek dari Javis.


mereka sudah sampai saat jam menunjukkan pukul delapan malam.


mereka melihat semua orang sedang duduk bersama di rumah itu, dan Dian langsung masuk membawa bayi mungil itu.


"assalamualaikum...."


"waalaikum salam mbak, terima kasih sudah mau saya repot karena menjaga Lessa," kata Mei yang menerima putrinya itu.


"aduh saya malah seneng banget bisa momong gadis cantik ini, bagaimana kondisi mbak Mei, apa sudah baikan?"


"Alhamdulillah sudah mendingan, dan saya kemungkinan harus nunggu dua Minggu baru bisa kembali beraktifitas maaf jadi merepotkan mbak yang harus kerja sendiri di warung sederhana," kata Mei tak enak.


"tak masalah mbak, oh ya kami tak bisa lama, karena ibram di rumah orang tua ketiga Kami, kalau begitu kami pamit dulu ya," kata Dian dengan sopan


setelah tamu itu pergi, Javis langsung cuci tangan dan kakinya dan batu berani mengendong putrinya itu.


"aduh putri ayah yang cantik, akhirnya pulang juga, ayah kangen, ayah kesepian karena hanya berdua dengan bunda mu," kata Javis mencium pipi baby Lessa.


"mas itu pipinya merah loh,kamu belum cukur nanti bisa luka," kata Mei mengingatkan.


"besok ayah cukur bunda, nanti malam biarkan Lessa tidur bareng kita ya, biar ayah yang menjaganya, dan bunda istirahat saja," kata Javis yang tak mau jauh dari putrinya itu


"iya mas, iya..." jawab Mei.


akhirnya semua tamu pulang, Mei juga sudah istirahat di ranjang besar di kabar utama.


Javis menata kasur sedemikian rupa, agar dia nanti bisa menjaga dua wanita yang sangat dia cintai itu.


dia akan tidur di tengah untuk memastikan baby Lessa aman, sedang Mei tak bisa terlalu di ganggu karena luka jahitannya yang masih belum kering sepenuhnya.

__ADS_1


setelah memastikan putri dan istrinya nyaman, Javis pun tidur di tengah tanpa mengenakan kaos alias bertelanjang dada.


"aduh ayah bikin orang pingin saja," goda Mei menyentuh perut suaminya yang berbentuk itu.


"sayang jangan mulai, kamu masih sakit, jangan membuatku panas dingin dong," kata Javis tersenyum.


Mei pun mengangguk dan tidur dia juga tak ingin sepenuhnya menganggu suaminya itu.


dan karena pengaruh obat yang baru saja dia minum, akhirnya Mei tidur lelap tanpa bisa di ganggu.


sedang Javis membuatkan susu untuk putrinya itu dan menyiapkan dua botol lain yang nanti tinggal menaruh air hangat jika putrinya menangis.


akhirnya malam itu mereka bisa istirahat, dan baby Lessa hanya terbangun dua kali karena Pampers penuh dan pup saat pukul lima pagi.


setelah itu mereka kembali tidur lelap karena kondisi mereka yang beberapa hari ini kurang istirahat.


bahkan Mei juga memasak nasi dan lauk yang ada di kulkas yang memang sudah ada di sana.


Javis baru selesai mandi dan menghampiri istrinya di dapur, "apa ini sudah halus sayang, sudah tak papa kan kalau mencium pipi Lessa?" tanya Javis menggosok pipinya di pipi Mei.


Javis tak keberatan toh itu juga sangat enak, sedang di tempat lain Fery juga baru bebas dari rumah tahanan setelah Iwan dan Deny membebaskan pria itu dengan jaminan dari Javis.


"lain kali pakai otak sialan, kamu tau benar jika kita mengalami masalah besar, eh... kamu malah bertingkah juga," kesal Deny.


"maaf habis dia hampir membunuh istriku ku dan membawa Fiki, aku hanya membela keluargaku," kata Fery.


"baiklah aku mengerti, kalau begitu nanti datang ke tempat bos, sepertinya dia ingin membahas sesuatu yang penting dengan mu," kata Iwan yang mengerti perasaan dari Fery.


mereka pun pergi, dan saat Fery sampai di rumah Eka dan Fiji memeluk pria itu dengan erat.


Eka sudah ketakutan jika sampai Fery terjadi masalah nantinya di penjara dengan waktu lama.


terlebih dia sedang hamil, dan dia butuh suaminya untuk selalu berada di sisinya.

__ADS_1


"kalau begitu kami pulang dulu, karena pekerja sudah menumpuk sebab pemecahan kelompok kita, dan Fery sebaiknya kamu juga segera kembali karena pekerjaan mu tak ada yang bisa hendel," kata Iwan mengingatkan.


"baiklah aku mengerti," jawab pria itu.


Javis sedang membantu istrinya mengoleskan obat merah pada luka bekas jahitan, dan tadi Mei juga habis minum obat.


dan itulah kenapa dia tak lagi menyusui putrinya karena efek obat yang membuatnya tak bisa mengeluarkan ASI lagi.


"sakit atau perih sayang," tanya Javis yang meringis saat mengoleskan obat merah itu.


"tak masalah mas, ini semua bisa aku tahan, sudah kan, sekarang mas tong lihat baby Lessa apa sudah bangun?"


"putri kita dari tadi tenang kok, biarkan dia main sendiri dan aku akan mengerjakan beberapa pekerjaan yang sudah menumpuk," kata Javis.


"ah maaf aku tak bisa membantumu karena kondisiku yang seperti ini," kata Mei merasa tak berguna.


"tak masalah sayang, ini juga pengorbanan terbesar mu," kata Javis mengecup kening istrinya.


tak lama Iwan dan Deny serta Dono yang datang membawa tas berisi uang yang di peroleh.


mereka pun membawa setidaknya sepuluh tas berisi uang berbagai pecahan ke rumah Javis.


"kalian kembalilah bekerja, kami akan menyelesaikan semua sendiri," kata Javis.


Mei mendorong troli putrinya ke ruang tamu, jadi dia juga tak ingin diam saja, jadi dia membantu sambil duduk.


karena Mei sangat cepat dalam menghitung lembaran uang itu sesuai dengan pecahan.


tak terasa mereka melakukan itu hingga siang hari, jadi Javis membeli makanan dari luar melalui ojek online.


pasalnya dia tak ingin istrinya itu lelah, dan lagi putrinya sangat anteng.


setelah semua sudah selesai di tata, Javis menelpon pihak bank untuk mengambil uang yang akan setorkan.

__ADS_1


dan itu adalah sana untuk pendidikan dari putrinya,yaitu untuk masa depan dari Lessa.


karena Javis ingin putrinya itu menjadi wanita berpendidikan tinggi karena itu akan menjadi pondasi dasar menjadi seorang ibu.


__ADS_2