
Latifah lari kedalam rumahnya,"pak RT usir wanita seperti itu, lihat dia pasti terkena penyakit kelamin, kamu tak mau desa ini tercemar karena dia," marah warga.
"ibu-ibu dan bapak-bapak mohon tenang ya, kita semua harus membicarakan ini dengan kepala dingin," kata pak RW.
"sudah usir saja, toh pak RW tak mungkin melakukan itu karena wanita itu adalah pacarnya, kalian tak percaya lihat saja, dia akan sebisa mungkin melindungi wanita itu," saut warga yang lain
"eh jangan fitnah ya," jaya pak RW tak terima.
"semuanya hentikan, jika kalian tak bisa mengusir wanita itu dari sini, maka saya dan istri yang akan pergi dari desa ini," kata habis yang langsung mengajak Mei kembali kedalam rumah.
semua warga panik, terlebih jika Javis melakukan itu, itu berarti mereka kehilangan besar.
terlebih Mei sangat baik di tambah Javis juga selalu membantu warga desa.
di dalam rumah Javis duduk memangku istrinya, "ah lupa, kamu habis menyentuh wanita busuk tadi, sekarang cepat mandi," panik pria itu.
Mei pun kaget melihat reaksi suaminya, jadi dia pun mandi sesuai permintaan Javis.
selesai mandi dia sedang mengeringkan rambutnya, Javis datang membawa teh hangat untuk istrinya.
"ada apa mas, kenapa kamu tiba-tiba jadi aneh, jangan bilang kamu melakukan kesalahan," kata Mei memastikan sesuatu.
"tentu saja tidak, aku hanya ingin membuatkan saja untuk mu, oh ya tadi katanya kamu juga membantu Winda yang di tabrak truk?"
"ah itu, ya bagaimana pun kita sebagai sesama manusia harus saling tolong menolong bukan," kata Mei tersenyum.
"kamu benar sayang, tapi aku merasa aneh kenapa tadi wanita itu tiba-tiba bisa menjadi buruk rupa seperti itu? bukankah tadi aku melihatnya dia masih berpenampilan biasa?" bingung Javis.
"mas tau, jika kakekku adalah seorang pria yang di kenal sebagai jagoan dulu, dia punya teman seperguruan yang sekarang menjadi seorang dukun terkenal, dan mas tau tadi itu Mbah Joyo mengirimkan pesan padaku dan bilang jika ada seorang wanita yang ingin memasang susuk untuk menggoda ku, dan bambu kuning itu adalah pantangan terbesar dari pelet yang di pakai oleh Latifah, jadi aku membuatnya kehilangan kekuatan pelet itu, simpel bukan," kata Mei menjelaskan.
Javis tak bisa percaya, dia hanya bisa geleng-geleng mendengar cerita istrinya, bagaimana bisa wanita itu begitu pintar.
"sepertinya aku tak salah pilih istri, kamu terbaik," kata Javis memeluk Mei.
"iya tapi hentikan mas, aku baru saja mandi, tapi kenapa kamu malah melakukan ini..." gumam Mei meremas rambut Javis.
"karena aku menginginkannya," kata pria itu yang langsung menerkam tubuh istrinya di atas ranjang.
__ADS_1
sore itu keduanya bermesraan, tak peduli dengan semua orang, karena bagi habis istrinya sudah sangat sempurna.
terlebih Mei bisa menjadi saat agresif saat di ranjang dan membuatnya senang.
sedang di rumah Latifah, wanita itu menangis dan murka, bagaimana bisa dia menjadi seperti ini.
terlebih pak RT dan pak RW sudah datang untuk meminta wanita itu dan keluarganya pergi.
mereka datang dengan alasan tak ingin ketularan penyakit kotor dari Latifah.
"sudah kita sekarang pergi, karena ibu sudah malu Latifah, ibu malu karena kamu berbuat seperti ini," marah ibunya.
"aku tak mau Bu, aku harus mendapatkan pria itu, karena dia yang bisa memenuhi kehidupan ku, karena aku lelah harus terus bekerja," kata Latifah.
tapi tanpa di duga, ibu dari Latifah yang selama ini terlihat tenang dan kalem menampar putrinya itu karena sudah merasa kecewa dan frustasi membesarkan anak yang tak tau malu seperti ini.
mereka semua pergi dari rumah itu, di antar oleh beberapa warga sesuai arahan Javis untuk memastikan saja.
sedang pria itu masih memeluk istrinya yang tertidur pulas, bahkan dia terus mencium bahu Mei dengan lembut dan memainkan kates Bangkok kesayangannya.
"mau bagaimana lagi, istriku begitu enak, bahkan jepitan itu selalu membuatku tak bisa bertahan," kata Javis yang mengecup tangan istrinya.
"hentikan mas, kamu membuatku malu," panik Mei.
Javis tertawa mendengar istrinya, merawat diri itu penting, terlebih dia sadar benar jika mei melakukan apapun untuk hal itu, terlebih Mei sadar jika suaminya itu bukan orang sembarangan.
jadi kemungkinan akan banyak wanita yang mendekati suaminya jadi dia harus bisa membuat suaminya kenyang dan puas di rumah.
di rumah Yuni, Deny kaget saat masuk ke ruang tengah rumah dari kakek istrinya itu.
pasalnya jika yang ruang tamu itu adalah ubin semen, tapi bagian tengah rumah adalah lantai tanah.
tapi untunglah untuk lantai kamar sudah di semen, jika lantai itu terbuat dari tanah bisa pusing dia.
tapi ada hal lain yang membuatnya bingung adalah kamar itu hanya ada tirai sebagai penutup.
"sayang... kamar mu hanya di tutupi selambu seperti ini tanpa pintu?" tanya Deny.
__ADS_1
"iya mas, memang kenapa?" bingung Yuni dengan polos
"terus kalau aku minta berhubungan gimana, gak lucu dong kita lagi kuda-kudaan terus si mbok masuk, nduk pinjam hot krim gitu," kata Deny yang membuat Yuni tertawa geli.
"kalau begitu, puasa dulu dong mas,"
"apa? puasa lagi, ya kali sayang,aku nikah itu untuk aku menyalurkan keinginan diriku dan di Otong agar berkembang biak, tapi kamu suruh puasa terus ya gak guna dong," kata Deny cemberut.
Yuni mengecup bibir suaminya itu, tapi Deny malah langsung menahan dan ******* bibir istrinya tanpa ampun.
benar saja, tak lama terdengar suara panggilan dari Mbah Putri Yuni, "Yuni mau di masakin apa nduk," panggil wanita sepuh itu.
"tidak usah Mbah... tadi Yuni bawa lauk dari mbak Mei, dan... dan tinggal panasin saja," jawab Yuni terbata-bata karena ulah suaminya yang sedang menikmati buah apel fuji jumbo istrinya.
"Yuni tolong belikan kakek balsem nduk,"
mendengar itu, otomatis Yuni bangkit dan merapikan penampilannya, "iya Mbah kung,"
"sayang adikku gimana?" kata Deny lirih.
"sabar sayang, aku pergi dulu," pamit Yuni.
dia pun memilih untuk tidur dan menikmati film saja lah di ponselnya, karena tak mudah membuat adiknya yang terlanjur greng tidur lagi.
Yuni pun membelikan balsem dan beberapa camilan untuk suaminya di rumah.
tapi tak sengaja dia bertemu dengan Nurul yang entah dari mana dan terlihat buru-buru.
"kamu baru pulang rul, memang tadi main dulu," tanya Yuni
"iya mbak, tadi mampir ke tempat teman ku," jawab Nurul sedikit gugup.
tapi Yuni merasa dan mencium aroma yang aneh dari gadis itu, "ya sudah deh, cepat pulang gih sudah malem, lagi pula kamu habis main apa sih, kok aromanya aneh gini," kata Yuni tersenyum sambil mengendus Nurul.
"ha-ha-ha.... maklum belum mandi mbak, aku pulang dulu ya," panik Nurul yang lari.
Yuni pun mengendarai motor suaminya untuk segera pulang, berabe jika Deny ngambek lagi.
__ADS_1