
Javis pulang dan melihat istrinya masih terjaga, "kamu belum tidur sayang?"
"bagaimana bisa tidur mas, aku masih penasaran, sebenarnya apa yang terjadi, kenapa hingga ada cerita seperti ini?" tanya Mei.
Javis pun menceritakan Semuanya, dan itu membuat Mei tak menyangka.
baru juga duduk, tiba-tiba ponsel Javis berdering, "aduh ini si Lukman kenapa lagi," gumamnya.
dia pun menjawab panggilan telpon itu, "iya man ada apa?"
"pak bos tolong bantu saya, istri saya mau melahirkan tapi saya tak menemukan kendaraan yang bisa membawanya ke rumah sakit, karena kata bidan baby-nya nyungsang," kata Lukman.
"baiklah aku kesana, kamu di bidan mana," tanya Javis yang langsung bergegas pergi setelah mencium bibir istrinya.
dan Mei hanya bisa mengeleng pelan menyaksikan suaminya itu, dia selalu seperti ini.
bahkan saat kemarin lalu Wenda melahirkan juga Javis yang membawa mobil menuju rumah sakit demi menyelamatkan Wenda dan bayinya.
karena wanita itu kelelahan saat mencoba melahirkan secara normal.
"dasar ayah... dia sampai lupa tak pamitan sama putrinya," kata Mei tersenyum.
Javis mengendarai mobilnya menuju ke klinik bidan yang di maksud oleh Lukman, dan saat sampai, Javis makin marah karena klinik itu sangat lusuh tak seperti klinik bidan pada umunya.
"kenapa tak dari awal di bawa ke rumah sakit," marah Javis.
"saya juga baru tau saat pulang bos, ternyata istri saya sudah di bawa ke sini dan kata mertua saya dia sudah seperti ini dari satu jam lalu," panik Lukman.
"bodoh nih, cepat bawa!!" bentak Javis.
mereka semua kini menuju ke rumah sakit bersalin dan berharap ibu serta bayinya dalam keadaan yang sehat dan baik-baik saja.
sesampainya di rumah sakit, Risa langsung di bawa ke ruang UGD dan ternyata langsung di minta melakukan operasi demi bayi dan ibunya.
Lukman menyetujuinya karena dia tak ingin kehilangan anak dan istrinya.
Javis membantu memberikan deposito untuk perawatan selama di rumah sakit.
__ADS_1
dia juga ikut menemani Lukman di rumah sakit untuk menenangkan Lukman agar tetap tenang.
akhirnya setelah satu jam akhirnya mereka bisa mendengar tangisan bayi.
suster keluar untuk memberi kabar, "maaf ayah dari bayi, mati silahkan masuk untuk mengadzani putranya," panggil suster.
Lukman pun terus menangis saat melihat bayi mungilnya di meja sedang di bersihkan.
dan ada istrinya yang juga sedang di bersihkan saat ini,dia langsung menghampiri Risa dan menciumi wanita itu.
"terima kasih mami... terima kasih...." lirih pria itu.
Risa pun tak menyangka akan melihat sosok suaminya itu seperti ini, "iya mas...."
Lukman mengadzani putranya dan setelah itu suster meminta pria itu duduk untuk menjalin hubungan bayi dan ayah.
sekarang Lukman sedang duduk dan menaruh bayinya di dadanya dan terlihat bayi mungil itu sangat nyaman.
setelah setengah jam, akhirnya Risa di pindahkan ke kelas satu, dan bayinya juga mendapatkan perawatan nomor satu.
"kamu tak semiskin itu Lukman, lagi pula tenang saja, aku sudah mendepositokan dua puluh juta untuk perawatan istri dan putra mu, jadi jangan khawatir ya, kalau begitu aku pamit," kata Javis pada semua orang.
dia pun membawa mobilnya menuju ke rumah, dan saat melewati tuwangan sawah yang begitu sepi.
tiba-tiba ada motor yang memepet mobilnya, karena dia tak takut, saat motor itu berhenti di tengah jalan dengan mengacungkan celurit.
Javis menabrak motor itu dengan keras, dan membuat dua pria itu terpental.
ternyata ada komplotan lain yang datang sekitar empat orang, "turun sialan!!" maki para pria itu.
Javis dengan santai keluar, dengan membawa clurit pemberian istrinya.
"mau apa kamu, mau mengajak ku carok, kebetulan aku sudah lama tak olah-raga," kata Javis memainkan celurit itu.
"kamu kira kamu takut, serang dan bawa mobilnya karena itu mobil mewah," kata para begal itu.
Javis dengan mudah melumpuhkan keenam pria itu, dan tak lupa dia menelpon polisi dan ambulans.
__ADS_1
beruntung para begal itu tak mati hanya cacat, seperti satu tangan putus atau kaki mungkin.
polisi pun membawa Javis ke kantor, dan mereka melihat rekaman dasbor mobil dari Javis.
itu membuat polisi tak bisa menahan Javis karena pria itu tak menyerang duluan, tapi para begal itu dan Javis hanya membela diri.
akhirnya pukul enam pagi Javis di bebaskan, dan saat melihat mobilnya yang ringsek dan baret di bagian depan membuatnya frustasi.
"brengsek, bisa mahal perbaikan mobil ini," gumamnya.
dia memanggil Nugi untuk membawa mobilnya agar di perbaiki di bengkel khusus miliknya.
dan dia pulang dengan mobil Pajero berwarna putih, terlihat Mei sedang mencoba menenangkan Lessa yang sedang menangis.
melihat itu, Javis langsung turun dan berlari ke arah kedua wanita itu, "itu ayah,"
Lessa langsung memeluk ayahnya dengan erat, begitupun Mei, dia bahkan bisa mencium aroma darah dari tubuh suaminya.
"mas habis ngapain?"
"nanti aku ceritakan ya sayang, tolong buatkan aku nasi goreng kesukaan ku dan kopi ya," kata Javis yang sangat lapar.
"baiklah, ayah mandi dulu kalau begitu," jawab Mei yang langsung masuk bersama suaminya.
Lessa duduk di depan tv sambil nonton kartun di temani ayahnya yang baru selesai mandi.
Mei membawa satu piring nasi goreng pesanan habis, ternyata semua belum ada yang makan.
"sayang lain kali jangan seperti ini, kamu sedang hamil, dan lagi aku menginap di kantor polisi karena ada beberapa begal yang ingin merampok mobilku, tapi aku membuat mereka cacat, beruntung aku punya bukti untuk bisa bebas untuk pulang menemui kalian dan berkumpul bersama," kata Javis.
"mas, tolonglah lain kali hubungi aku ayah, putrimu ini dari subuh tadi merengek mencari ayah, bahkan tadi. dia hampir lari karena mrncarimu, dan saat aku hubungi ke ponsel mas, ponsel itu tak aktif," kata Mei sedih
"maafkan ayah ya bunda dan Lessa, Karena ponsel ku mati saat di kantor polisi, dan karena aku sedang di ruang interogasi jadi aku tak bisa menjawab panggilan mu," terang Javis.
"lain kali jangan lakukan lagi ya ayah," kata nrunyang di angguki oleh Javis.
dia tak mengira jika sikapnya yang seperti itu membuat istrinya khawatir.
__ADS_1